<-->

Program Desmigratif Selamatkan Warga Desa Kenanga dari Kemiskinan

desa kenanga


     “Pelaksanaan program Desa Migran Produktif (Desmigratif) di desa kami ini benar-benar menyelamatkan warga desa kami dari kemiskinan ekonomi dan mental boros serta suka mabuk”.  Kata-kata itu keluar dari mulut Kepala Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Darpani, di kantornya kepada SP di Indramayu, Jumat (22/12).



Desa Kenanga merupakan satu dari dua desa yang menjadi pilot project (percontohan) progam Desmiratif. Satu desa lainnya yaitu Desa Kuripan, Kecamatan Watumalang, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Program Desmigratif di Desa Kenanga diluncurkan oleh Menteri Ketenagakerjaan, pada 27 Desember 2016.

Penduduk Desa Kenanga sampai saat ini berjumlah 7.000 jiwa terdiri dari 210 kepala keluarga (KK). Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai buruh tani sawah. “Yang memiliki sawah orang lain, mereka hanya sebagai buruh. Sudah lama masyarakat desa ini hidup seperti itu,” kata Darpani.

Menurut Darpani, Desa Kenanga terselamatkan secara ekonomi karena banyak masyarakatnya terutama perempuan pergi merantau ke luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). “Setelah program Desmigratif dijalankan uang yang dikirim TKI dari luar negeri benar-benar bermanfaat bagi desa ini, terutama keluarga TKI,” kata dia. Namun, ia mengaku tidak hafal jumlah uang yang dikirim TKI dari luar negeri (remittance) setiap bulannya.

Ia mengtakan, sebelum program Desmigratif dijalankan di desa itu banyak suami TKI menghamburkan uang kiriman istrinya (TKI) dengan mabuk-mabuk dan hidup tidak benar lainnya seperti “main gila” dengan perempuan lain. “Karena itulah sejak dulu umumnya kalau istrinya pergi merantau ke luar negeri, pasti cerai. Kenapa ? Ya karena duit habis dan sang suami nikah lagi,” kata dia.

Akibat lebih jauh, kata dia, anak-anak mereka menjadi terlantar. “Sehingga yang terjadi adalah pergi merantau keluar negeri justru membawa malapeta bagi keluarga terutama anak-anak. Namun sekarang mulai hilang kebiasaan seperti itu,” kata dia.

Ketika program Desmigratif dijalankan di desa itu, suami-suami TKI dua kali sebulan dikumpulkan di kantor desa dan diberi ceramah serta pelatihan bagaimana mengelola keuangan dan berwirausaha. “Mereka diberi ceramah keagamaan dari para ustadz dan diberi pendidikan serta pelatihan pengelolaan keuangan dari sejumlah sejumlah lembaga seperti Bank BNI, dan PT Pos Indonesia,” kata dia.

Sehingga tidak heran di desa itu sekarang banyak lelaki sebagai pengrajin tempe dan tahu, keripik pisang dan singkong, pengusaha telur puyuh, telur bebek, dan sebagainya. “Modalnya ya dari uang yang dikirim istri mereka. Mereka tidak hambur-hamburkan uang lagi,” kata dia.

Selain itu, sejak program Desmigratif dijalankan di desa itu, anak-anak TKI setiap sore mendapat pendidikan dan pengajaran Kitab Suci Alquran dan Bahasa Inggris di Rumah Edukasi yang letaknya di samping kantor Desa Kenanga. “Sampai saat ini ada 18 anak TKI berumur balita sampai 18 tahun mengikuti pendidikan dan pengajaran di Rumah Edukasi,” kata dia.

Yang membiayai itu semua, kata Darpani, adalah pemerintah pusat dan sejumlah lembaga perbankan dan PT Pos Indonesia.
Sampai saat ini sebanyak 200 orang perempuan menjadi TKI di luar negeri dari Desa Kenanga. Mereka bekerja di Taiwan, Hongkong, Singapura dan Malaysia. “Mereka yang bekerja di Taiwan dan Hongkong lumayan besar gajinya yakni Rp 8,5 per bulan dibanding Singapura Malaysia hanya 5,5 – Rp 6 juta per bulan,” kata pria pensiunan anggota Polri ini.

Selain itu, di desa itu telah dibangun Koperasi Serba Usaha yang anggotanya mantan TKI dan para suami TKI yang sedang bekerja di luar negeri. Semua TKI yang bekerja di luar negeri dari desa ini adalah perempuan. “Semuanya perempuan, dan mereka di sana bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT),” kata dia.

Sejak program Desmigratif dijalankan di desa itu, siapa pun yang ingin bekerja di luar negeri harus atas rekomendasi petugas Desmigratif dan kepala desa. “Tidak ada lagi melalui calo. Setelah mendapat rekomendasi dari kami baru calon TKI itu mendatangi kantor Pelayanan Satu Atap di Kabupaten Indramayu,” kata petugas Desmigratif Desa Kenanga, Agus Maksum.

Kabupaten Indramayu merupakan Kabupaten yang paling tinggi pengiriman TKI ke luar negeri setiap tahun sampai saat ini. Tahun 2017 jumlah TKI yang dikirim ke luar negeri dari daerah ini sebanyak 17.817 orang. Jumlah ini lebih rendah dibanding tahun 2016 yang hanya sebanyak 15.188 orang TKI. “Remittance dari TKI setiap tahun rata-rata Rp 1,3 triliun. Uang TKI ini sangat membantu juga untuk daerah kami,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kabupaten Indramayu, Daddy Haryadi, di kantornya, Jumat (22/12).

Urutan kedua pengiriman TKI ke luar negeri adalah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dimana tahun 2017 sebanyak 13.100 orang TKI ke luar negeri. Jumlah ini turun dibanding tahun 2016 sebanyak 15.408 TKI.

Empat Pilar

Program Desmigratif merupakan program untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan para TKI yang bekerja di luar negeri dan keluarganya sejak dari kampung halaman. Program ini digagas oleh Kementrian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Mulai tahun 2017 sampai tiga tahun ke depan, pemerintah yang dimotori Kemnaker akan membentuk dan memfasilitasi 400 desa yang dipilih sebagai Desmigratif.

Tahun 2017, pemerintah telah membentuk dan membangun 120 Desmigratif.
Program ini secara resmi diluncurkan Menaker, Hanif Dhakiri di Jakarta (11/9). Turut hadir dalam acara peluncuran ini adalah 120 kepala desa dari kantong-kantong TKI di Indonesia.

Selain Kementerian Ketenagakerjaan, program ini juga melibatkan 11 kementrian dan lembaga.
Terdapat empat pilar utama program Desmigratif, yakni, pertama, pusat layanan migrasi. Dimana orang atau warga desa yang hendak berangkat ke luar negeri mendapatkan pelayanan di balai desa melalui peran dari pemerintah desa. Informasi yang didapatkan antara lain informasi pasar kerja, bimbingan kerja, informasi mengenai bekerja ke luar negeri dan lain-lain termasuk pengurusan dokumen awal.

Kedua, kegiatan yang terkait dengan usaha produktif. Merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk membantu pasangan dari TKI yang bekerja di luar negeri agar mereka ini memiliki keterampilan dan kemauan untuk membangun usaha-usaha produktif. Kegiatan ini mencakup pelatihan untuk usaha produktif, pendampingan untuk usaha produktif, bantuan sarana produktif hingga pemasarannya.

Ketiga, community parenting, yaitu kegiatan untuk menangani anak-anak TKI atau anak-anak buruh migran yang diasuh bersama bersama-sama oleh masyarakat dalam suatu pusat belajar-mengajar. Dalam konteks ini orang tua dan pasangan yang tinggal di rumah diberikan pelatihan tentang bagaimana membesarkan atau merawat anak secara baik agar mereka ini bisa terus bersekolah mengembangkan kreativitasnya sesuai dengan masa kanak-kanak mereka.

Keempat, koperasi usaha. Merupakan koperasi untuk penguatan usaha produktif untuk jangka panjang koperasi usaha produktif ini tentunya juga bisa menjadi inisiatif bersama dari masyarakat yang akan didukung oleh pemerintah.

Sumber : Beritasatu

No comments

Powered by Blogger.