Surti, Tega Banget Kamu Sampe Ibu Ngenes Dan Meninggal Dunia




“Tego tenan kowe Sur, lehmu natoni atine simbok sampe jadi dhalan pati” (Tega banget kamu Sur, kamu telah menyakiti hatinya ibu sampai ibu meninggal dunia) pesan Sumarno Dilansir dari  Apakabaronline.com 


Warga Desa Mulyorejo Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah ini telah 8 tahun lamanya mencari Surtini, adiknya yang menurut Marno, sengaja “menghilangkan” diri di Hong Kong. Jejak Surtini yang timbul tenggelam dari pantauan keluarga, membuat Marno semakin geram. Pasalnya, Surti menghilang, meninggalkan banyak beban tanggungan baik finansial maupun mental yang harus dipikul keluarga di kampung halaman.

Kehamilan Surti sepulang dari Taiwan tahun 2009, berlanjut dengan lahirnya jabang bayi perempuan yang hingga kini tidak jelas siapa bapaknya pada akhir 2009, lenyapnya sertifikat tanah dan sawah yang ternyata telah Surti gadaikan, hingga datangnya kabar hobi dugem Surti di Hong Kong dari beberapa tetangga dan teman, benar-benar menjadi pukulan batin bagi keluarga di rumah.

“Kami itu heran, kenapa tiba-tiba Surti yang dulu sebelum ke Taiwan tidak liar dan bejat begini, setelah ke Taiwan kok moralnya tidak terpuji. Belum sampai habis kontrak kerjanya, tiba-tiba Surti pulang dari Taiwan dalam kondisi hamil 6 bulan. Setelah beberapa bulan habis melahirkan, tiba-tiba menghilang begitu saja, dan tahu-tahu ngabari kalau ke Hong Kong” kenang Marno.

Polah tingkah Surti, diakui Marno telah melahirkan sederetan masalah di keluarganya. Mulai dari bagaimana keluarga berjuang menebus sertifikat tanah dan sawah yang digadaikan Surti, hingga beratnya beban pikiran, membuat Lasini, ibunda Surti sakit-sakitan dan meninggal dunia pada awal Desember ini.

Bukan bermaksud mencari, Marno hanya ingin menitipkan kabar ini melalui Apakabaronline.com, dengan harapan siapa tahu, bisa menggugah kesadaran Surti untuk insyaf dan memperbaiki.
“Surti itu bukan hilang mas, tapi menghilang. Setiap saya menemukan jejaknya, langsung nomer hpnya ganti” aku Marno.

“Saya menitipkan pesan, buat Surti, ketahuilah, akibat ulahmu, ibu selama 5 tahun sakit stroke, dan akhirnya awal Desember ini meninggal dunia. Karena perbuatanmu, terpaksa sawah peninggalan almarhum bapak, harus lepas terjual untuk menebus sertifikat tanah dan rumah yang kamu gadaikan. Untuk apa sih sebenarnya kamu menggadaikan sertifikat itu ? “ tegas Marno.

Marno mengaku, sama sekali tidak ada maksud menyuruh Surti untuk pulang, sebab menurutnya, Surti sudah dewasa dan tentu sudah bisa memikirkan sendiri mana yang terbaik. Yang Marno dan keluarga lain harapkan adalah, Surti mengetahui kabar ini, serta mempedulikan anak perempuannya yang kini telah duduk di bangku kelas 2 SD.

Dalam kondisi seperti sekarang, Marno dan keluarga lainnya di kampung halaman mengaku kebingungan saat harus berhadapan dengan pertanyaan “Siapa ibuku ? ibu kemana, ibu kenapa tidak pernah pulang ? Siapa bapakku ?” yang sering dilontarkan oleh Dini, anak perempuan Surti.
“Marang ibu, kowe tego koyo ngene, saiki anakmu wis gede, wis kelas 2 SD. Opo kowe ya bakalan tego nerlantarne anakmu dewe ? “  (Terhadap ibu, kamu sudah tega seperti itu, sekarang, apakah terhadap anakmu, kamu juga akan terus menerus tega menterlantarkan, sedangkan anak perempuanmu saat ini sudah duduk di bangku kelas 2 SD) pungkas Marno.


Sumber :pahlawan devisa

No comments

Powered by Blogger.