<-->

Keuntungan Dari Tren 'Kebun Mini' Dalam Vas Kaca

Dih Sing Mahadi, pemilik Grow Little Garden, mengatakan dari awalnya hanya menerima satu pesanan per bulan, kini dia bisa menerima 20-30 pesanan terarium per bulan.

Peluang bisnis atau pemasukan tambahan sering hadir dari tren tanaman hias, salah satunya adalah terarium, atau kebun mini dalam vas kaca berbagai bentuk, yang bagi pembuatnya bisa mendatangkan pemasukan sampai belasan juta rupiah per bulan. Apa yang membuat kebun mini ini banyak dicari?
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Saat pertama kali melihat terarium, Enstina, seorang pengusaha pakaian mengatakan, dia langsung terpesona.

"Cantik banget, dari tampilan (vas) kacanya, warna-warni, ada berbagai macam kaktus. Kayaknya ini gampang nih untuk dipelihara," kata Enstina.

Terarium, atau vas kaca, yang diisi paduan pasir, batu, kerikil kecil, tanaman kaktus, atau elemen kayu sehingga menciptakan kesan seperti hutan atau kebun mini, sedang menjadi tren tanaman hias terbaru di kota-kota besar.

Menurut Enstina, karena tak berbau dan tertutup dalam kaca, maka terarium bisa dengan mudah ditaruh di berbagai titik di dalam rumah sebagai 'kebun mini' sekaligus bagian dari interior.

Enstina membeli terarium seharga Rp800 ribu dari Dih Sing Mahadi, yang sejak 2013 lalu menjual terarium buatannya lewat Grow Little Garden dan mempromosikannya lewat media sosial.
Konsumen bisa memilih bentuk vas serta gaya desain yang diinginkan.
Pada awalnya, Mahadi melakukannya hanya untuk hobi sampai kemudian seorang temannya membeli.

"Lho kok banyak ya peminatnya? Mereka merasa itu menarik ya, karena waktu itu belum banyak kan," kata Mahadi.

Menurut Mahadi, dia termasuk 'yang pertama' menjual terarium dengan vas kaca yang dia desain sendiri bentuknya.

Seperti halnya banyak bisnis kecil sekarang, profil di media sosial pun menjadi penting, karena dari situlah konsep terarium yang dijual Mahadi mulai dikenal dan dicari pembeli.

Dari awalnya hanya terjual satu unit per bulan, kini dia bisa mendapat 20-30 pesanan per bulan.

Bahkan angka ini bisa lebih tinggi saat menjelang Lebaran karena konsumen kini memberi terarium sebagai alternatif bingkisan atau hantaran.

Meski menolak menyebut soal omzet dan keuntungan, namun harga terarium yang dijual Mahadi bisa antara Rp350 ribu-Rp1,5 juta.

Artinya sekecil-kecilnya, Mahadi bisa berpeluang mendapat penghasilan sampingan sekitar Rp7 juta per bulan.

"Biasanya pelanggan akan memilih vasnya dulu dari katalog yang kita kirimkan, kemudian konsepnya mau hutan atau pantai, kalau hutan itu pasti lebih ke kayu, hijau-hijau, kalau pantai itu lebih ke batu-batu, pasir, kemudian baru warna, yang hijau-hijau, atau yang warm, merah, kuning," kata Mahadi, menggambarkan cara kerjanya.

Namun, bisnis ini punya batasan geografis. Karena tumpukan pasir, batu kerikil, dan tanaman bisa tumpah jika dikirim, maka antaran pun hanya terbatas di satu kota saja.

Dari domisilinya di Jakarta Barat, antaran terjauh yang pernah dilakukan Mahadi hanya sampai Bandung, meski dia melihat tren terarium kini sudah berkembang di Bali dan Surabaya.

Dan keterbatasan antaran inilah yang bisa membuka peluang bagi pembuat terarium di kota-kota lain di tengah tren yang meluas.

Meski begitu, pengusaha terarium lain, Koko Setiawan dari Jakarta Terarium, tetap bisa melayani pembeli dari kota dan pulau di luar Jakarta, seperti ke Palu atau mengirim ke Kalimantan.

"Biasanya kita kirim terpisah, wadah, material sama tanamannya, nanti kalau sudah sampai, ada manualnya, panduannya. Mudah kok cara merawat dan membuatnya," kata Koko.

Jika Mahadi mengawali usaha sampingannya menjual terarium dari hobi berkebun, maka Koko Setiawan memutuskan untuk mendalami usaha terarium sebagai sampingan untuk mencari penghasilan tambahan.

Terarium yang ia jual harganya mulai dari Rp125 ribu sampai Rp800 ribu.

Per bulan, Koko bisa mendapat penghasilan tambahan Rp5 juta -Rp6 juta dari rata-rata 10 pesanan yang dia terima.

"Awalnya saya lihat dari internet, wah ada tanaman lucu-lucu, terus saya dalami otodidak. Lalu saya pajang di toko online, terus kok banyak yang menghubungi ke HP saya, wah berarti peluangnya besar," kata Koko.

Koko butuh lima sampai enam bulan untuk 'berlatih' membuat terarium sebelum kemudian akhirnya merasa percaya diri untuk menjualnya kepada konsumen.

Sebelumnya, Koko tak punya minat pada berkebun, namun karena sedang mengambil kuliah desain, maka terarium menjadi kesempatan baginya untuk mempraktikkan ilmu lanskap mini yang dia pelajari.

Tetapi, bagi mereka yang awam namun tertarik untuk melakukan usaha sampingan terarium, Koko punya tip, agar mulai berlatih lewat mengenal tanaman dan merancang isi terarium menggunakan gelas kecil.

"Pakai gelas yang di rumah saja, nggak usah yang mahal-mahal. Untuk tahu hidup atau enggaknya (tanamannya), harus dicoba dulu di rumah, untuk tahu tanamannya itu sendiri, nggak usah langsung konsep yang wah," kata Koko.

Sumber:bbcindonesia

No comments

Powered by Blogger.