<-->

Pasar Jepang Terbuka Lebar Benur Udang Windu Makin Dikejar


https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
sumber photo:kumparan
Pasar mancanegara khususnya Jepang semakin membuka peluang untuk komoditi perikanan budidaya udang windu (Penaeus monodon). Selain volume permintaan yang kian membengkak juga selera konsumen di negeri Sakura itu pun makin variatif terhadap pilihan ukuran (size). 

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Jika selama ini konsumen di Jepang sangat getol dengan udang windu yang naik 30-40 ekor/kg. Mulai awal 2018 udang windu ukuran kecil sampai size 200 ekor/kg pun laris manis di negara matahari terbit tersebut.  Melihat peluang bisnis yang menjanjikan itu maka PT Alter Trade Indonesia (Atina) sebagai salah satu perusahaan Jepang yang khsusus mengekspor udang windu dari Indonesia bergerak cepat. Demikian juga pembudidaya udang windu di kabupaten Pinrang semakin termotivasi untuk membudidayakan udang sitto itu. 

Pembudidaya udang di Pinrang bukannya tidak senang untuk memproduksi udang windu sampai mencapai ukuran 30-40 ekor/kg. Namun persoalan penyakit dan kasus kematian udang selalu menghantuinya. “Kadang umur udang yang kita pelhara baru sampai 30 hari sejak tebar atau baru seukuran rokok sampurna sudah mulai ada ditemukan mati satu-satu sampai merah semua,” ungkap Zainuddin petambak udang windu di Lanrisiang, Pinrang. Kasus kematian udang umur sebulan sudah lama menjadi momok bagi petambak di Pinrang.

Kini, petambak tidak terlalu khawatir lagi soal kematian satu bulan. Ketika umur satu bulan diketahui ada gejala serangan penyakit maka langsung dipanen. Udang windu umur sebulan sudah bisa mencapai ukuran size 200 ekor/kg. “Selama ini kami banyak menerima keluhan dari para petambak agar kami dapat membeli udang windu size kecil dan mulai 2018 akhirnya terwujud,” ungkap Hendra Gunawan, Kepala Perwakilan PT Atina Sidoarjo di kabupaten Pinrang.  
 
Sejak harga udang windu melejit maka mengakibatkan banyak terjadi perubahan di sektor usaha pertambakan udang. Selain nilai kontrak tambak ikut arus juga penggunaan sarana produksi tambak seperti benur dan saponin kian meroket. Peningkatan kebutuhan sarana produksi tambak tersebut tidak berbanding lurus dengan ketersediaannya di pasaran sehingga muncul masalah baru kelangkaan racun pembasi hama saponin dan  benih udang windu  (benur).

Munculnya masalah kelangkaan benur udang windu di Pinrang disebabkan oleh semakin seringnya frekwensi tebar yang berdampak pada meningkatnya jumlah benur yang ditebar. Selain itu jumlah hatchery yang memproduksi benur udang windu semakin banyak beralih produksi benur udang vaname.  Misalnya, di kecamatan Suppa, Pinrang dari 9 unit hatchery yang  ada saat ini tinggal satu hatchery yang produksi benur udang windu. Itupun kapasitas produksinya hanya mencapai sekitar 30 juta ekor persiklus atau sekitar 100 juta ekor pertahun. Sementara kebutuhan benur udang windu menurut hitungan yang dilakukan oleh PT Atina berdasar pada volume pembelian udang tahun 2017 di kecamatan Suppa, Lanrisang, Mattiro Sompe, Cempa dan Duampanua mencapai sekitar 500 juta ekor per tahun.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Selain kekurangan dari sisi kuantitas, benur udang windu yang ada di kabupaten Pinrang juga masih terkendala dari sisi kualitas. Sementara tuntutan peningkatan produksi udang memerlukan dukungan ketersediaan benur bermutu dan  dalam jumlah yang cukup secara berkesinambungan. Untuk menutupi sebahagian dari kekurangan benur di Pinrang maka pengusaha penggelondong mensuplai dari kabupaten Takalar, Kalimantan, Jawa dan Lampung. “Kami sudah berupaya mendatangkan benur dari Kalimantan dan Lampung itupun belum semua kebutuhan petambak terpenuhi,” ungkap H.Sudirman, salah seorang pengusaha penggelondong benur udang windu di kecamatan Lanrisang, Pinrang.

Guna memecahkan masalah kelangkaan benur udang windu di kabupaten Pinrang maka PT Atina  menginisiasi pertemuan antara pembudidaya khususnya anggota Ecoshrimp  PT Atina dengan Dinas Perikanan Pinrang, Penyuluh perikanan dan pihak Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar. Pertemuan yang  dilaksanakan, Kamis (25/1) di BPBAP Takalar membahas tentang solusi kelangkaan benur udang windu yang terjadi di Pinrang selama ini.

Kepala BPBAP Takalar, Nono Hartanto megatakan, Balai yang dipimpinnya  tetap berkomitmen untuk mempertahankan udang windu. Ia menjelaskan, BPBAP Takalar salah satu mandatnya tetap harus memproduksi benur udang windu sejak udang windu mulai kolaps beberapa tahun silam. Menurutnya, BPBAP Takalar paling tidak bisa berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan peningkatan ekspor komoditi udang windu di kabupaten Pinrang. Namun ia mengakui kalau selama ini produksi benur yang dicapai hanya sekitar 125 juta ekor pertahun. Karena kata dia instansi yang dipimpinnya tidak hanya berproduksi namun tetap dituntut  tetap melaksanakan kegiatan penelitian dan perekayasaan.Meski demikian Nono Hartanto mengharapkan agar dibangun sinergi dan pola kerjasama antara pihak Balai, Dinas Perikanan, Atina dan pelaku usaha yang terlibat dalam budidaya udang windu di kabupaten Pinrang.

Sumber:kumparan

No comments

Powered by Blogger.