<-->

Erwiana Berbagi Pengalaman Hidup Keras jadi TKI

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Nekat menjadi TKI ilegal bukan karena alasan. Kurangnya lahan pekerjaan di Indonesia, upah yang tidak layak, kemudian susahnya menjadi TKI legal menjadi jalan pintas sejumlah para buruh di Indonesia.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Erwiana Sulistyaningsih, perempuan asal seorang Ngawi, Jawa Timur, bercerita soal pengalamannya semasa bekerja di Hong Kong. Ia mengaku disiksa saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

"Tidak ada orang yang mau menjadi ilegal. Tidak bisa dipungkiri temen-temen menjadi buruh migran pergi kerja ke luar negeri secara ilegal, ada beberapa faktor yaitu membayar ke agen yang sangat tinggi, kemudian masih dipotong gaji beberapa bulan. Dan kurangnya lapangan kerja di negeri sendiri," ungkapnya saat dihubungi medcom di Semarang, Jumat, 16 Januari 2018. 

Erwiana yang kini menjadi relawan Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia menuturkan alasan banyak TKI resmi (legal) yang akhirnya juga menjadi ilegal.

"Kondisi kerja di sana kadang tidak bisa diprediksi, tidak sesuai kontrak, majikan tidak cocok lalu di-PHK, itulah kadang yang menjadikan teman-teman kami ilegal. Mau pulang tidak punya uang, biaya perjalanan dari luar negeri tidaklah murah," tuturnya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Bekerja di luar negeri sebenarnya mempunyai risiko yang sangat tinggi. Selain jauh dari keluarga, risiko nyawa juga menjadi taruhan. Ditambah lagi, upah keringat mereka dipotong oleh agen yang menyalurkan.

"Kita yang kerja dan keringatnya diperas, agen minta uang. Pemotongan gaji ada yang 5 bulan, ada yang 7 bulan. Kalau di Malaysia mungkin sekitar Rp2-3 juta per bulan. Saya di Hong Kong dulu setor ke agen bisa sampai Rp25 juta. Semua lewat agen pasti dipotong," tandasnya.

Kehidupan para TKI ilegal, menurutnya, harus kucing-kucingan. Tidak ada yang berani keluar rumah, karena tidak punya visa kerja. Mereka hanya mengantongi visa turis.

Sumber:nusantara.medcom

No comments

Powered by Blogger.