<-->

Laris Manis Dengan Bisnis Aksesoris Handphone

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Handphone menjadi salah satu kebutuhan pokok yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dewasa ini. Tidak hanya sebagai media komunikasi semata, namun pemanfaatan handphone sudah merambah ke segala bidang dan sendi kehidupan. Berlebihan? sepertinya tidak, karena faktanya sekarang justru akan lebih sulit menemukan orang yang tidak memiliki handphone dibandingkan yang menggunakanya untuk keperluan sehari-hari.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Fenomena demikian bagi sebagian orang dianggap hal yang biasa, sejalan dengan teknologi yang semakin berkembang. Namun tidak dengan Yudho Satrianto (38), pemuda asli Yogyakarta tersebut menangkap trend itu sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Bukan tentang handphonenya yang dia bidik, akan tetapi justru beragam aksesoris yang menyertai tiap detail perkembangan alat komunikasi tersebut yang dia jadikan core bisnis utamanya.

“Saya melihat ada peluang di bisnis ini (aksesoris handphone), karena ketika itu penyedianya masih sangat sedikit dan harganya masih sangat tinggi,” ujar Yudho ketika dilansir dari liputanUKM, Selasa (12/9).

Tahun 2002 menjadi awal bagi Yudho mengembangkan usaha di bidang penjualan aksesoris handphone dengan sebuah lapak/ konter kecil. Konter yang kemudian dia namai Dazzle tersebut fokus menjual aneka pernak-pernik dan aksesoris handphone dengan harga yang terjangkau. “Pada saat itu harga aksesoris di pasaran sangat tinggi, bahkan margin bisa sampai 400%, sementara Dazzle menjualnya dengan margin terjangkau, yakni hanya 10-20%,” terangnya.

Langkah yang diambil Dazzle tersebut sempat memunculkan polemik di kalangan penjual aksesoris handphone di Yogyakarta kala itu. Dazzle dianggap merusak pasaran harga hingga beberapa kali mendapatkan ancaman. “Bagi saya yang terpenting adalah pelanggan, selama pelanggan masih bisa mendapatkan produk dengan harga yang murah sementara Dazzle pun sudah untung, kenapa tidak? Urusan kompetitor seiring berjalanya waktu juga akan terseleksi dengan sendirinya,” lanjut Yudho.

Merubah Konsep Toko Menjadi Swalayan

Kegigihan dalam mempertahankan keyakinannya tersebut membawa Dazzle mampu bersaing sebagai salah satu penyedia aksesoris handphone yang mulai dikenal di Yogyakarta. Konter yang tadinya kecil dan penuh keterbatasan lambat laun berubah menjadi toko modern yang nyaman. Produk yang dijual pun semakin beragam, seperti charger, softcase, baterai, speaker, earphone, screen case, dengan variasi yang beragam.

“Produk aksesoris itu banyak macamnya, semakin lengkap semakin bagus, karena konsumen cukup datang ke satu lokasi atau toko untuk mendapatkan semua barang yang mereka inginkan,” imbuhnya. Menyadari tokonya yang semakin ramai pengunjung, Yudho berinisiatif merubah konsep tokonya menjadi semacam swalayan. Dengan konsep demikian maka konsumen bisa memilih sendiri produk yang dia cari dan bisa langsung mencobanya.

Konsep swalayan yang diusung Dazzle ternyata mendapat respon positif dari para konsumen. Konsumen merasa lebih nyaman dan leluasa memilih produk sesuai dengan yang dia butuhkan. Ketika liputanUKM berkunjung ke salah satu oultlet Dazzle yang ada di Jalan Affandi Yogyakarta pun para pengunjung terlihat enjoy dengan sesekali terlihat aktif bertanya dengan penjaga tokonya. Menurut Yudho, konsep swalayan seperti yang dia terapkan di Dazzle menjadi salah satu yang pertama di Yogyakarta ketika itu.


Strategi Pemasaran Mengikuti Perkembangan Jaman 
Perkembangan Dazzle yang cukup pesat sejatinya didukung pula dengan pola dan strategi pemasaran aktif yang dilakukan oleh Yudho. Berdasar pengakuannya, Dazzle selalu mengikuti perkembangan jaman dalam melakukan pemasaran kepada konsumen. “Dulu ketika awal berkembang sekitar tahun 2002, saya melakukan pemasaran melalui koran (surat kabar), ketika itu lumayan efektif, kemudian medio 2010 cara tersebut mulai bergeser dengan maraknya pameran, Dazzle pun sering aktif terlibat di berbagai pameran,” terangnya sembari tersenyum.

Berkembangnya media pemasaran menggunakan sistem online tidak luput juga dari partisipasi Dazzle. Dalam dua tahun belakangan, pemasaran Dazzle mulai merambah ke jalur online, diantaranya melalui sosial media seperti instagram dan facebook. “Kita online dan offline, untuk online terutama instagram lumayan efektif sebagai media promosi, namun pengunjung yang datang langsung ke toko (offline) sebenarnya justru memiliki keuntungan karena mereka bisa langsung melihat produknya seperti apa, dan bisa mencobanya,” jelas Yudho.

Perkembangan Dazzle
Setelah berjalan kurang lebih 15 tahun, kini Dazzle menjelma menjadi salah satu jujukan utama ketika orang butuh aksesoris handphone. Toko yang nyaman, produk yang komplit, dan harga yang terjangkau menjadi paket lengkap alasan orang datang ke Dazzle. “Saat ini Dazzle ada dua toko di Jogja dan Semarang, dari sisi produk otomatis bertambah, baik nilai maupun variasi produknya, semuanya muncul dari perkembangan teknologi serta permintaan pasar,” katanya.

Ketika ditanya apa yang menjadi kunci suksesnya mengembangkan Dazzle, pria yang kini mulai aktif kembali ke dunia perkuliahan tersebut menjelaskannya dengan tegas. “Niat baik, niat membuka usaha bisa bermanfaat bagi banyak orang, customers, supplier, karyawan, dan orang-orang sekitar, kemudian kerja keras, harus bersungguh sungguh dalam bekerja dan melayani konsumen dengan baik, karena tanpa mereka kita juga bukan apa-apa,” tegasnya.

Di akhir wawancara, Yudho berharap Dazzle ke depan bisa tetap eksis dan berkembang sesuai dengan batas kemampuan. Selain itu dia juga berharap Dazzle bisa membawa kebaikan untuk lebih banyak orang lagi.

Sumber:liputanukm

No comments

Powered by Blogger.