Transgender pertama di dunia yang bisa produksi ASI untuk anak, padahal dulunya pria tulen




         Seorang transgender berhasil menjadi transgender pertama yang bisa memproduksi ASI. Padahal, sebelumnya transgender tersebut adalah seorang pria. Awalnya, transgender berusia 30 tahun ini memiliki pasangan yang tengah hamil. Namun, pasangannya menolak untuk memberikan ASI.



Transgender itu pun berharap pasangannya mempertimbangkan untuk memberi ASI buah hati mereka. Tiga setengah bulan sebelum sang pasangan melahirkan, si transgender mengkonsumsi satu dosis terapi penggantian hormon. Doktor di Mt Sinai's Center for Transgender mengatakan obat itu didapat dari Kanada.



Selain itu, si transgender juga memompa payudaranya hingga ia bisa menghasilkan sekitar 236 ml ASI per hari. Saat buah hatinya lahir, ASI si transgender cukup untuk diminum sang anak selama 6 minggu. Uniknya, transgender ini tak pernah melakukan operasi kelamin seperti augmentasi payudara atau vaginoplasty untuk membuat vagina atau vulva.

Jika seseorang pernah melakukannya, level hormon orang tersebut pasti akan berubah. Dilansir dari Daily Mail, kasus langka ini telah dipublish melalui journal Transgender Health.

Ini adalah bukti bahwa DIY terapi hormon atau hormon yang dibuat sendiri bisa membuat transgender hamil.

"Kami percaya bahwa ini adalah laporan formal pertama dalam literatur medis tentang laktasi induksi pada wanita transgender," bunyi tulisan di jurnal itu.

Dokter yang menangani transgender itu mengaku bahagia bisa menyaksikan terobosan untuk obat transgender ini. Si transgender telah mengkonsumsi obat hormon itu secara independen dari Mt Sinai pada 2011. Dia memakai supresor testosteron yang disebut spironolactone, estradiol yang hampir identik dengan hormon yang diproduksi oleh ovarium dan micronized progesterone.

Ketika pasien datang ke pusat, dia memberi tahu Dr Reisman dan manajer program Zil Goldstein bahwa dia telah mendapatkan domperidone dari Kanada. Obat ini, yang biasa digunakan di seluruh dunia untuk prosedur lambung dan untuk menginduksi laktasi, tidak disetujui oleh FDA namun biasanya digunakan oleh orang Amerika dalam 'terapi hormon DIY'.

Dr Reisman mengatakan keengganan FDA untuk menyetujui domperidone sebagian berkaitan dengan laporan pasien yang menyuntikkan obat lambung secara intravena dan mengembang ke masalah jantung. Regulator juga menyimpan kekhawatiran yang tidak berdasar bahwa kita tidak tahu bagaimana hal itu mempengaruhi ASI, walaupun tidak ada penelitian yang menemukan alasan untuk khawatir. Tim medis mulai memberi pasien dengan dosis 10 mg domperidone per hari, serta lima menit sehari untuk menyusui.

Dalam sebulan, dia bisa memproduksi beberapa tetes ASI. Mereka menaikkan dosis menjadi 20mg sehari, sementara menggandakannya meningkatkan 'hormon feminisasi' (micromized progesterone dan estradiol), ditambah pompa payudara ekstra per hari. Sebulan kemudian, mereka meningkatkan dosis progesteron dan estradiolnya sekali lagi.

Pada bulan ketiga, dua minggu menjelang tanggal lahir bayi, dia menghasilkan delapan ons susu setiap hari dan mampu menurunkan dosis progesteron dan estradiolnya. Bayi yang lahir dengan berat sekitar 3 kg itu kemudian disusui secara eksklusif selama enam minggu dan dokter melaporkan bahwa anak tersebut sehat dan berkembang pada tingkat yang sama seperti bayi lainnya.

Dr Reisman mengatakan bahwa mungkin ibu itu bisa menghasilkan ASI dengan pompa payudara sendiri dan bahwa domperidone hanyalah pelengkap. Ini adalah area yang ingin dia selidiki, meskipun memerlukan percobaan kontrol acak, dan itu bergantung pada mengumpulkan cukup minat untuk membandingkan metode yang berbeda. Untuk saat ini, Dr Reisman mengatakan dia senang telah mencapai terobosan ini dengan pasien ini.

Sumber : Merdeka

No comments

Powered by Blogger.