Wow, Sampah Bonggol Jagung Jadi Lukisan Bernilai Jutaan Rupiah

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
sumber photo:solopos
Pemanfaatan bonggol jagung sebagai bahan dasar lukisan berhasil membawa karya warga Sendang Agung, Minggir, melanglang buana hingga ke Arab. Limbah yang berhasil diolah dengan baik ini juga berhasil dikembangkan menjadi beragam dekorasi interior.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Karya ini dikembangkan oleh Stefanus Indri Sujatmiko sejak 2015 silam. Bermodalkan niat, ia melakukan uji coba membuat lukisan yang disusun dari bonggol jagung yang telah dipotong kecil-kecil.

“Saya mulai dengan coba-coba karena rasanya sebelumnya belum pernah ada,”ujar alumnus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta ini, Minggu(11/6/2017).

Segala sisi bonggol jagung yang akan digunakan dihaluskan kemudian dipotong kecil-kecil. Potongan inilah yang kemudian disusun dengan pola yang telah disiapkan tergantung gambarnya. Pengerjaannya butuh ketekunan karena menyusun potongan sesuai dengan pola tersebut. Apalagi masih tekstur dan kelenturan bonggol yang digunakan juga butuh penanganan ekstra.

Lukisan tersebut kemudian diberi warna yang sesuai di sisi-sisi tertentu sebagai sentuhan akhir. Setelah itu, diberikan melanin untuk melindungi produk dan keawetan warnanya. Stefanus menjamin produknya akan awet hingga usia 10 tahun. Jika butuh perawatan, paling-paling hanya cat ulang untuk menjaga warnanya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Ia berujar salah satu kendalanya ialah proses pengeringan bonggol jagung yang membutuhkan waktu lama. Apalagi, omzetnya belum memadai untuk membeli alat pengering bagi bahan baku karyanya itu. Bahan bakunya ini juga dipasok dari berbagai daerah antara lain Seyegan, Sleman, Klaten, Semanu, Gunungkidul hingga Klaten. Itupun, tak serta-merta semua jenis bonggol bisa dimanfaatkan, harus sesuai dengan kebutuhannya.

Karena itu, dibutuhkan waktu paling tidak 2 hingga 4 minggu untuk menyelesaikan sebuah lukisan tergantung ukuran dan polanya. Untuk jenis perabot lainnya seperti kap lampu, tempat tisu, gelas, lampion hingga Candi Borobudur membutuhkan waktu yang lebih singkat karena tidak perlu menyesuaikan pola lukisan.

Untuk karya lukisannya, Stefanus dengan bangga menyebut jika peminatnya sudah menyebar luas hingga berbagai benua. Tak kurang, pembeli dari Inggris, India, dan Arab Saudi pernah dilayaninya untuk membuat lukisan wajah. Lukisannya dihargai Rp3 sampai Rp4juta per buah sesuai tingkat kesulitan. Hanya saja, karena tingkat kerumintannya, ia memang belum mampu memproduksi banyak lukisan per bulannya. Apalagi,semua masih dikerjakannya sendiri kecuali pengamplasan yang menggunakan jasa warga setempat.

Sumber:solopos

No comments

Powered by Blogger.