<-->

Gampang Perawatannya, Gaya Dekorasi Hardscape Akurium Diminati


https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Seni menghias akuarium menggunakan material batu, pasir, akar pohon tanpa tanaman air alias hardscape kini mulai banyak digemari oleh pecinta ikan hias. Penampilannya yang gelap karena didominasi warna hitam dan cokelat membuat kesan tersendiri. Jenis ikan pun dibuat berbeda, misalnya menggunakan spesies predator seperti arwana, aligator dan lainnya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Lukas Joyo S, kreator hardscape akuarium asal Malang, Jawa Timur sekaligus pemilik Aquazone Aquarium mengatakan, desain ini menjadi pilihan bagi pemilik akuarium yang bosan dengan desain yang itu-itu saja. Apalagi, hardscape tak butuh perawatan khusus karena tidak membutuhkan sinar matahari, karbon dioksida (CO2) dan nutrisi.

Banyak style yang menjadi patokan hardscape, seperti ryuboku yang banyak bermain dengan material akar tanaman yang dibalik. Selain itu, ada iwagumi, yang menggunakan banyak material bebatuan dan ducthstyle yang lebih berkesan colourfull. Serta, taiwan style yang memajang miniatur suatu bangunan sebagai salah satu ornamen.

Lukas mengatakan, momen menjelang hari raya Idul Fitri menjadi ajang panen. Karena, jumlah permintaan desain akuarium meningkat drastis hingga dua kali lipat bahkan lebih.

Dia memasang tarif yang berbeda-beda disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Rata-rata untuk akuarium dengan ukuran 1 m2 ongkos desain ini berkisar Rp 2 juta sampai Rp 5 juta. Harga itu  sudah termasuk material pengisi akuarium. 

Untuk konsumennya tidak hanya dari perseorangan tapi juga instansi pemerintahan atau swasta. Sedangkan, lokasi pelanggan masih disekitar Malang, Jawa Timur. " Penggarapan hardscape ini harus dilakukan ditempat karena harus disesuaikan dengan lokasi akuarium," tambahnya.

Lainnya, ada Willy Aristaking, kreator hardscape sekaligus Direktur CV Akvodecor di Jakarta. Dia mengamati dekorasi hardscape ini di tanah air cukup banyak digemari serta mengalami perkembangan pesat bila dibandingkan delapan tahun lalu.

Hal ini dipengaruhi tersedianya material serta peralatan yang dibutuhkan. Harganya pun juga sudah terjangkau.

Laki-laki yang lebih akrab disapa Robert ini mengaku membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyiapkan seluruh kebutuhan sebelum tahap pengerjaan. Waktu pengerjaannya pun cukup cepat yaitu tiga hingga enam jam untuk akuarium berukuran 2 m2.

Sedangkan, untuk tarifnya dipatok mulai dari Rp 8 juta hingga ratusan juta rupiah tergantung dari ukuran akuarium serta tingkat kesulitannya.

Meski diadaptasi dari negeri sakura, Jepang, hampir seluruh material yang digunakan dibeli dari pasar lokal seperti batu fosil yang banyak tersedia di Jawa Barat, batu serpentine dari Kalimantan dan lainnya.    

Potensi bisnis masih besar, angin persaingannya kian kencang

Mendandani akuarium menggunakan batang pohon, dipadukan dengan bebatuan serta pasir atau gaya hardscape sepertinya bakal banyak dipilih pecinta ikan hias. Lukas Joyo S, pemilik Aqua Zone Aquarium asal Malang, Jawa Timur mengamini hal tersebut. 

Sebagai kreator hardscape akuarium dia pun kerap menghadapi kendala soal pembagian waktu dan ide desain saat pesanan mengantri di waktu bersamaan. "Menjelang Lebaran banyak yang ingin akuariumnya terlihat bagus. Saya bingung cari ide, akhirnya jadi mirip-mirip," katanya.

Untuk mendekorasi akuarium ini, Lukas dibantu oleh empat orang karyawannya. Bahan baku atau material dekorasi banyak dia ambil dari pasar lokal. Supaya dekorasi akuarium benar-benar harmoni dengan ruangan, sebelum masuk tahap persiapan material dan pengerjaan, Lukas harus melihat langsung letak akuarium.

Pada saat kunjungan tersebut, biasanya dia akan mendengarkan permintaan dan keinginan konsumen. Selain itu, dia juga mulai mengukur dan melihat lokasi untuk menciptakan komposisi yang seimbang antara akuarium dengan ruangan.

Lukas banyak mendapat inspirasi desain hardscape dari alam. Asal tahu saja, Lukas sudah menekuni pekerjaan ini sejak tahun 2008 lalu. Kecintaannya akan dunia ikan dan air mendorongnya belajar secara otodidak keahlian mendekorasi akuarium.

Tidak jauh berbeda, Willy Aristaking, kreator hardscape sekaligus Direktur CV Akvodecor asal Jakarta mengaku, kendala yang didapatinya adalah mencari bahan baku yang sesuai dengan desain yang diinginkan serta ukuran akuarium.

Karena ukuran akurium beragam maka dia seringkali memodifikasi bahan baku natural. Antara lain disambung, dikikis atau dipecahkan menjadi ukuran yang lebih kecil, hingga dipahat untuk mendapatkan bentuk sesuai keinginan. 

Laki-laki yang lebih akrab disapa Robert ini mengatakan usaha ini bakal mempunyai potensi yang bagus kedepannya, seiring kian banyaknya penggemar ikan hias. Namun, dia juga mengingatkan bahwa persaingan bisnis ini ketat.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Murahnya harga beli dan ketersediaan material membuat banyak orang menjajal menekuni pekerjaan ini. Bahkan saat ini perang harga kreator dekorasi akuarium pun sudah terjadi dipasaran. 

"Bagi kami yang mempunyai karyawan 15 orang kondisi ini cukup berat. Kami pun harus terus mengembangkan inovasi agar bisa bertahan dan berkembang," tambahnya.

Robert sudah menekuni pekerjaan ini sejak lama. Tepatnya, saat dia masih tercatat sebagai mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2010 silam. Dia pun belajar secara otodidak dan berguru langsung pada petani tanaman. Karena saat itu masih sulit mencari literasi.

Sumber:kontan

No comments

Powered by Blogger.