Kisah Puing Rudal Maut Houthi Yaman Jebol Rumah di Saudi

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Khattab Jalal, 27, sedang tidur pada Minggu malam di sebuah rumah di Riyadh timur, Arab Saudi. Dia berbagi tempat dengan 15 pekerja konstruksi asal Mesir lainnya ketika suara ledakan mengejutkannya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Sebuah lubang besar menganga di langit-langit rumah warna hijau yang dia huni. Lubang itu penuh asap dan puing-puing peluru kendali (rudal). Rudal itu ditembakkan kelompok Houthi Yaman ke wilayah Riyadh dan ditembak jatuh oleh sistem rudal pertahanan Patriot buatan Amerika Serikat (AS) yang dioperasikan pasukan Saudi.

Jalal dan yang lainnya berlari keluar, tetapi akhirnya menyadari bahwa salah satu teman serumah tidak bersama mereka.

Abdul Muntaleb Ali, 38, tidur di atas kasur biru tipis di lantai di samping tiga orang lainnya, tewas ketika serpihan dari rudal balistik itu menimpanya.

Ali menjadi orang pertama yang tewas di Ibu Kota Arab Saudi sebagai hasil dari agresi militer Koalisi Arab yang dipimpin Saudi melawan Houthi Yaman yang sudah berlangsung tiga tahun. Perang di Yaman tersebut telah merenggut sedikitnya 10.000 jiwa dan menyebabkan sekitar 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Jalal mengatakan kepada Reuters pada keesokan harinya bahwa tiga teman sekamar Ali, salah satunya adalah saudaranya, terluka dalam serangan rudal itu.

"Selama tiga tahun dia tidak pergi (Arab Saudi). Dia belum melihat anak-anaknya," kata Jalal. "Anda bersama teman Anda dan Anda makan malam bersama, dan beberapa jam kemudian, Anda bangun dan menemukan dia tewas."

Pasukan Saudi menembak jauh tiga rudal di timur laut Riyadh pada Minggu malam, serta empat lainnya secara bersamaan di kota-kota selatan Najran, Jizan dan Khamis Mushait. Jumlah senjata yang ditembakkan Houthi Yaman itu telah dikonfirmasi Koalisi Arab dalam sebuah pernyataan.

Serangan tujuh rudal tersebut bertepatan dengan peringatan tahun ketiga intervensi militer Koalisi Arab dalam konflik di Yaman. Hingga saat ini, operasi militer Saudi dan sekutunya di Yaman atas permintaan Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi masih berlangsung dan tak tahu kapan akan berakhir.

Haila Zayed, 27, seorang warga Saudi, mencengkeram bayi laki-lakinya dengan panik ketika mendengar ledakan di udara. Dia bisa merasakan mobilnya bergetar ketika suaminya mengemudi.

“Saya selalu menikmatikeselamatan dan keamanan di negara saya. Untuk pertama kalinya saya merasakan ketakutan yang orang-orang miliki saat berperang," katanya, yang dilansir Selasa (27/3/2018). "Semoga Tuhan melindungi negara kita dan tetap aman."

Diskusi tentang serangan rudal pada hari Minggu malam telah membanjiri Twitter pada hari Senin. Publik Saudi berharap negara itu tetap aman dan mereka belasungkawa atas kematian Ali.

Banyak orang Saudi terkemuka, termasuk kolumnis surat kabar, ulama dan anggota Dewan Shura, mendesak orang-orang untuk tidak berbagi video dan foto-foto serangan. Alasannya, itu akan memberi makan untuk propaganda Houthi.

Di mal, kafe, dan supermarket di sekitar Riyadh, orang-orang Saudi mencerna eskalasi tersebut dengan cara mereka sendiri.

Bagi Abdulrahman al-Sari, yang tinggal di Riyadh tetapi berasal dari provinsi Najran selatan yang sering menjadi sasaran, situasinya terlalu akrab untuk membuatnya takut. "Bagi saya itu normal," katanya sambil mengangkat bahu. "Kami sudah terbiasa."
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Yang lain muncul dengan pengalaman yang membuatnya tertantang.

"Saya ingin mengambil senjata, mengenakan seragam dan pergi bergabung dengan tentara Saudi yang berani yang ditempatkan di perbatasan," kata Fahad Matar al-Shelahy, seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi teknik di Riyadh.

“Jika mereka memberi perintah kepada orang-orang untuk bergabung dengan tentara, saya akan menjadi yang pertama. Kita semua ingin menjadi martir yang membela negara kita.”

Sumber:sindonews

No comments

Powered by Blogger.