Merajut Untung Dari Boneka Amigurumi

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
sumber photo:kontan
Produk boneka rajut ini lebih dulu populer di Jepang. Di Negeri Sakura sendiri seni merajut boneka ini disebut amigurumi. Namun, dalam  tiga tahun ini, amigurumi mulai digandrungi oleh pecinta rajutan di Indonesia. Bahkan mereka juga menjual hasil rajutannya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Natalia Fransisca misalnya. Dari hobi menjahit dan merajut, dia menjual boneka hasil rajutannya. "Ternyata peminatnya lumayan banyak juga," tutur pemilik Happy Gurumi di Surabaya ini.

Sisca mulai menjual boneka rajut sejak 2015 lalu. Boneka rajut ini dia fungsikan sebagai gantungan kunci. Oleh karenanya, ukurannya tak besar, yakni 4-20 centimeter (cm).

Harga gantungan kunci boneka rajut ini mulai dari Rp 20.000-Rp 160.000 per buah. "Harganya tergantung ukuran boneka dan tingkat kesulitan pembuatannya," kata Sisca. Ada ratusan model boneka rajutan buatan Happy Gurumi.

Selain menjual aneka bentuk boneka rajut dengan sistem ready stock, Sisca bilang dirinya juga menerima pesanan boneka rajutan secara custom. Meski custom, boneka rajutan yang dipesan tetap fokus untuk gantungan, bukan boneka reguler berukuran besar. "Kalau untuk boneka rajutan reguler, saya harus belajar lagi karena metodenya berbeda dengan boneka rajutan kecil ini. Bahannya juga berbeda," terang Sisca.

Pelanggan Happy Gurumi kebanyakan datang dari kota-kota di Pulau Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan. Dalam sebulan, dia bisa menjual 40-50 boneka.

Hobi merajut yang akhirnya menjadi peluang usaha menjanjikan juga diakui oleh Sari Satriani, pemilik Sari Rajut yang juga dari Surabaya. Sari mulai menyelami dunia rajut sejak tahun 2010.

Kecintaan Sari pada dunia rajut membuatnya tertarik mempelajari lebih banyak soal pembuatan aneka produk rajutan.  Dia mulai belajar amigurumi tahun 2013. Waktu itu memang sedang tren boneka rajut.

Dia mengaku penasaran dan terdorong mempelajarinya. "Saya belajar sendiri dari berbagai tutorial di internet," ujar Sari.

Meski sempat membuat produk rajutan lain seperti tas, taplak meja dan pernak-pernik rumah lainnya, kini Sari lebih fokus menggarap boneka rajutan. Sebab, di antara produk rajutan lain, boneka rajutanlah yang paling banyak peminatnya.

Aneka bentuk boneka rajutan hasil karya Sari dijual mulai Rp 15.000-Rp 200.000 per buah. Lain halnya dengan Sisca, Sari membuat boneka rajut berukuran kecil maupun besar.

Boneka rajut terbesar yang dibuat Sari yakni berukuran 32-40 cm. "Saya buatnya boneka reguler yang untuk mainan, bukan gantungan kunci," katanya.

Sebulan, dia menjual 150-200 boneka rajut. Pelanggan paling banyak dari kota-kota di Jawa, seperti Surabaya, Malang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya dan Solo. Sementara, dari luar Jawa, konsumen datang dari Bali, Sumatra dan Sulawesi.    

Ketekunan, ketelitian dan kreativitas jadi modal bisnis boneka rajut

Membuat boneka rajut ternyata membutuhkan proses yang tidak sebentar. Natalia Fransisca, pemilik Happy Gurumi asal Surabaya menuturkan dirinya membutuhkan waktu sekitar 4–6 jam untuk membuat satu boneka rajut ukuran kecil. Bahkan, proses pembuatannya pun tidak langsung berjalan lancar dan cepat.

“Dulu waktu belajar awal, saya buat boneka bunny ukurannya sedikit lebih besar. Boneka itu akhirnya bisa selesai setelah dua minggu pengerjaan,” tutur Sisca sambil tertawa. Menurut dia, keterampilan merajut harus diasah terus menerus sampai prosesnya lancar dan hasilnya rapi.

Sisca mengaku awalnya cukup kesulitan dalam membuat boneka rajut. Baginya, hal terpenting yang harus diperhatikan dalam membuat boneka rajut adalah ketelitian. Tingkat ketelitian tinggi dibutuhkan untuk memastikan bentuk boneka sesuai polanya.

“Kalau polanya salah, kita harus bongkar lagi dari awal dan itu lumayan buang waktu. Jadi tantangannya gimana harus teliti biar nggak salah pola,” ungkapnya. Kian rumit pembuatan boneka rajut menuntut tingkat ketelitian makin tinggi pula.

Selain butuh ketelitian yang cukup tinggi, merajut boneka ini juga butuh tingkat kreatifitas dan imajinasi yang sesuai dengan gambaran boneka. Sari Satriani, pemilik Sari Rajut yang juga asal Surabaya mengatakan, kreatifitas dibutuhkan untuk membuat pola boneka. Tanpa adanya jiwa kreatif, bentuk boneka akan terkesan kaku.

“Pembuat harus punya kreatifitas dalam berimajinasi karena kalau tidak begitu, bentuk bonekanya bisa kaku, tidak luwes gitu kesannya. Padahal boneka yang enak dilihat, kan, yang lucu, menyerupai kartun dan bentuk aslinya,” kata Sari. Ia pun tak jarang merombak kembali dari awal boneka rajutannya jika terlihat masih kaku dan aneh.   

Baik Sisca maupun Sari sama-sama menggunakan benang rajut berbahan rayon untuk membuat boneka rajut. Mereka mengaku tidak kesulitan dalam menemukan bahan baku rajut. Bahkan, karena terlau mudah, bahan rajut juga bisa ditemukan di toko online. Lantaran banyak permintaan, keduanya juga menjual bahan rajut di lapaknya.

“Saya jual juga bahan rajut mulai Februari tahun ini. Saya jual benang rajut, flanel, bahan gantungan, mata boneka sampai stik rajutnya (crochet hook). Harganya murah, mulai dari Rp 1.000 untuk mata boneka sampai Rp 17.500 untuk benang rajutnya,” tandas Sisca.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Tak hanya menjual bahan rajut, Sari juga mengembangkan hobi merajutnya dengan membuka kelas rajut. Dirinya kerap membuat workshop dan pelatihan merajut secara pribadi dari Sari Rajut maupun bekerjasama dengan lembaga lain. “Kadang saya bikin workshop sendiri, kadang diminta menjadi pengisi materi juga di acara orang lain. Semua peserta sih memang perempuan, khususnya para ibu rumah tangga,” pungkasnya.

Sumber :Kontan

No comments

Powered by Blogger.