Padukan Plastik dan Kanvas, Tembus Pasar Dunia

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Plastik merupakah limbah yang paling sulit terurai. Alhasil, sampah plastik pun terus menumpuk. Resah melihat kondisi ini, Deasy Esterina mencoba menyulap plastik menjadi beragam model tas. 
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Usaha daur ulang ini,  Deasy geluti mulai Oktober 2016 lalu, dengan mengusung merek Kreskros. Namun, tak hanya plastik, perempuan asal Ambarawa, Jawa Tengah ini juga memadukan material lain, seperti kanvas dan kulit. 

Sejatinya, pada 2014, dia sudah memproduksi barang sejenis untuk mengisi bazar perayaan hari desain. Seluruh barangnya laris-manis. Inilah yang mendorongnya lebih serius menjalani usaha ini.

Sayang, karena ada suatu kendala, Deasy harus menutup usahanya sekitar 1,5 tahun. Baru setelah itu, dia mulai kembali menjalankan usaha dengan melakukan re-konsep usaha.

Bak gayung bersambut, usahanya terus berkembang. Produknya pun terus dikirimkan ke pasar internasional, seperti ke Belanda, Singapura, Amerika, dan Australia. Sedangkan, pemasaran di dalam negeri masih terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta dan Semarang.

Untuk memenuhi kebutuhan limbah plastik, perempuan berusia 27 tahun ini menjalin kerjasama dengan pemasok di Ambarawa. Dalam sekali belanja bahan baku, Deasy bisa memasok 1,5 ton sampah plastik.

Dalam sebulan total produksinya sekitar 120 unit. Dia dibantu 10 orang karyawan di tahap produksi. Harga jual tas daur ulangnya berkisar  Rp 350.000 sampai Rp 2 juta per unit. 

Sampai sekarang sudah ada dua seri koleksi yang telah diluncurkan. Jenisnya pun cukup beragam mulai dari tas berukuran kecil hingga tas punggung.

"Produksi kami masih terbatas karena prosesnya masih handmade, merajut plastiknya harus dilakukan secara manual," katanya pada KONTAN, Rabu (20/12).

Kendala yang dihadapinya saat ini adalah lamanya proses pembersihan sampah plastik sebelum siap untuk dirajut. Maklum saja, plastik tersebut didapatkan dari pabrikan yang berada disekitar Ambarawa. 
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Untuk memasarkan produknya, dia banyak menggunakan media digital seperti Instagram dan website. Lainnya, dia juga getol ikut serta dalam berbagai bazar produk kerajinan di Jakarta, Solo, Semarang, dan Singapura.

Selain itu, Deasy mengaku sebagian pendapatannya dari Kreskros digunakan untuk menggelar kampanye dalam bentuk pameran yang bertemakan tentang pencemaran lingkungan karena sampah plastik.

Untuk pertama kalinya, pameran tersebut digelar di Salatiga, Jawa Tengah. Dan kedepan, dia berharap dapat menggelar acara tersebut secara rutin serta dapat mengembangkan usahanya dengan memanfaatkan segala jenis sampah plastik.

Sumber:kontan

No comments

Powered by Blogger.