<-->

Pakai Pewarna dari Daun, Kain Batik Ini Tembus Pasar Jerman




      Warna pada kain biasanya menggunakan zat kimia untuk tekstil yang digunakan oleh pabrik-pabrik. Namun, kini ada teknik membatik dengan konsep ramah lingkungan yang diperkenalkan sebuah rumah UMKM di Yogyakarta.



Bernama Ecoprint, batik tersebut menggunakan berbagai daun yang bisa didapatkan di lingkungan sekitar. Warna dan bentuknya sendiri menyesuaikan dengan daun yang digunakan, bisa berwarna hijau maupun merah.



"Ecoprint ini adalah teknik memindahkan warna alami untuk mewarnai kain yang berasal dari berbagai tumbuhan," ujar Hanitianto Joedo CEO Rumah Kreatif BUMN Yogyakarta saat memperkenalkan produknya di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (9/11/2018).

Ada beberapa teknik yang dilakukan agar menghasilkan kain batik dengan warna alami seperti pukul, kukus dan pengkaratan. Untuk bahannya sendiri bisa menggunakan beragam daun seperti daun pepaya, daun dadap, bayam, hingga kelopak mawar, baik yang masih segar maupun setengah kering.

Salah satu teknik yang diperagakan yakni teknik pukul. Bahan yang dipersiapkan antara lain kain jenis apa saja, daun yang akan jadi motif kain dan pewarnaan, talenan kemudian sebuah palu karet.

Caranya simpan kain di atas talenan, taruh daun di atas kain kemudian tutup dengan bagian lainnya. Setelah itu kain berisi daun tersebut tinggal dipukul dengan palu hingga warna alaminya keluar. 

Joedo mengatakan agar warnanya bisa bertahan lama, tunggu beberapa saat hingga warna kain meresap kemudian disemprot dengan menggunakan air tawas atau air cuka hingga benar-benar kering.

Jika ingin menghasilkan kain berwarna sedikit gelap, cukup dengan mencucinya dengan menggunakan air karat yang telah diendapkan. Hasilnya, kain polos yang tadinya berwarna putih bisa memiliki beragam corak dan warna.

Dari usaha tersebut, Debora Art, selaku binaan dari Rumah Kreatif BUMN Yogyakarta bisa mendapatkan omzet Rp 8 hingga Rp 10 jutaan per bulan. Harga kain jang dijual mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp 2,5 juta berbahan sutera. 

Menurut Joedo, sebagian besar kain yang dijual berbahan sutera. Itu karena minat pasar yang memang kebanyakan lebih memilih bahan sutera ketimbang bahan lainnya. "Kain lain juga bisa tetapi kebanyakannya yang beli itu bahannya sutera," ungkap Joedo.

Adapun soal jangkauan konsumen, Joedo mengatakan kain Ecoprint tersebut telah terjual ke luar Yogyakarata seperti Jakarta, Surabaya, Medan, bahkan ada yang dipesan dari Jerman melalui online.

"Sudah keluar kota, ada dari Jakarta, Surabaya Medan juga ada. Terus ada juga mereka yang dari Jerman itu ada yang pesan satu atau dua bulan sekali," imbuhnya. 

Kain dengan teknik Ecoprint itu dijual secara online melalui media sosial Instagram dan Facebook Debora Ninik Swa.

Hasil dari teknik Ecoprint tersebut saat ini disuguhkan dalam bazar IWABRI (Ikatan Wanita Bank Rakyat Indonesia) yang digelar di Plaza Indonesia, Jakarta. 

Tak hanya batik, bazar itu juga menghadirkan beragam produk perlengkapan wanita seperti gaun, aksesori, perlengkapan kecantikan hingga makanan ringan. Ada sekitar 50-an tenant yang memeriahkan bazar tersebut.

Bazar IWABRI dengan mengusung tema 'Bangga Karya Indonesia' tersebut diselenggarakan mulai hari ini, Jumat, 9 Maret 2018 hingga Minggu, 11 Maret 2018 di Function Hall lantai 2 Plaza Indonesia.

Adapun tujuan digelarnya bazar ini yakni agar mengajak kaum perempuan untuk mencintai dan mengapresiasi produk UMKM dalam negeri sekaligus merayakan ulang tahun IWABRI yang ke-18.

"Kami ingin mengajak kaum perempuan untuk mencintai dan menggunakan produk dalam negeri sebagai apresiasi kepada mereka dan karya anak bangsa yang kita banggakan dan tentunya produk UMKM ini diharapkan bisa terus produktif, syukur-syukur bisa ke mancanegara," ungkap Jenny Rachman selaku Ketua IWABRI.


Sumber : detik

No comments

Powered by Blogger.