Polisi Selidiki Dugaan Penyekapan TKW di Malan

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Polres Malang Kota menyelidiki dugaan penyekapan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang dilakukan oleh sebuah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) di Malang bernama PT Citra Karya Sejati (CKS). Dugaan tersebut awalnya diketahui melalui sebuah postingan di media sosial.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Ambuka Yudha mengaku pihaknya masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada Elmi Nurani, korban yang diduga mendapatkan kekerasan dari PT CKS.

"Kami masih akan melakukan visum terlebih dahulu untuk mengetahui apakah ada tindak kekerasan yang dialami korban," katanya kepada awak media, Selasa 20 Maret 2018.

Ambuka membenarkan apabila pihak kepolisian telah membuat laporan terkait kasus ini. "Tapi kami belum temukan adanya unsur pidana," tambah Ambuka.

Kasus ini bermula saat sebuah akun media sosial Facebook bernama Papadiva Frountal Tulent mengunggah sebuah video pada Sabtu 17 Maret 2018 pukul 22.12 WIB. Video tersebut menggambarkan seorang wanita dalam keadaan lemas dan dikerumuni banyak orang.

Wanita didalam video tersebut diketahui adalah seorang TKW asal Sumbawa bernama Elmi Nurani. Dalam keterangan video tertuliskan bahwa Elmi mengalami sakit keras dan muntah darah setelah mendapat perlakuan tidak manusiawi saat berada di dalam penampungan.

Selain itu dijelaskan pula apabila para TKW yang baru saja pulang dari luar negeri tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya sebelum membayar uang ganti rugi. Bahkan, saat di penampungan TKW juga dikenai biaya Rp 150 ribu setiap harinya.

Usai video tersebut viral di media sosial, pihak Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Kota Malang dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Malang langsung mendatangi Balai Latihan Kerja Luar Negeri Central Karya Semesta di Jalan Rajasa nomor 189, Kelurahan Bumiayu, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Senin 19 Maret 2018 lalu.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore 

Koordinator P4TKI Malang Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa Elmi sebelumnya telah bekerja di Malaysia sejak Januari 2018 lalu. "Elmi hanya 20 hari saja berada di Malaysia. Padahal sesuai kontrak dia harus berada di Malaysia selama dua tahun," katanya.

Akibatnya Elmi pun mendapatkan denda dari PT CKS sebagai biaya ganti rugi. “Sebenarnya yang bersangkutan berangkat sesuai prosedur. Namun karena dia pulang lebih awal karena sakit dan tidak sesuai kontrak sehingga dia mendapatkan denda,” tutupnya.

Sumber:medcom

No comments

Powered by Blogger.