Produksi Ponsel Made in Indonesia Tembus 60,5 Juta Unit




         Selama lima tahun terakhir, produksi ponsel di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Disampaikan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), hal ini terjadi karena upaya besar pemerintah dalam memacu perkembangan di sektor telekomunikasi dan informatika.



Selain itu, pertumbuhan ini juga tak lepas dari implementasi aturan (Tingkat Komponen Dalam Negeri) 4G kepada tiga perangkat, mulai dari ponsel, komputer genggam, hingga komputer tablet.



“Meningkatnya produksi ponsel di Indonesia, antara lain karena penciptaan iklim usaha yang kondusif serta kebijakan hilirisasi dan pengoptimalan komponen lokal sehingga lebih banyak memberi nilai tambah,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya yang dikutip Tekno Liputan6.com.

Kemenperin sendiri mencatat, impor ponsel mencapai 62 juta unit dengan nilai US$ 3 miliar pada 2013. Sementara, produksi ponsel 'Made in Indonesia' mencapai sekitar 105 ribu saja untuk dua merek lokal. Karena itu, pemerintah menetapkan regulasi yang bertujuan mengurangi produk impor dan mendorong produtivitas di dalam negeri.

Dan pada 2014, impor ponsel akhirnya mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya menjadi 60 juta unit. Sementara itu, produksi ponsel dalam negeri tumbuh signifikan menjadi 5,7 juta unit dengan nilai US$ 2,3 miliar.

Kemudian pada 2015, produk impor merosot 40 persen menjadi 37 juta unit dengan nilai US$ 2,3 miliar. Pada saat itu, produksi ponsel dalam negeri meroket 700 persen menjadi 50 juta unit untuk 23 merek lokal dan internasional.

Barulah pada 2016, produk impor ponsel menurun drastis sebanyak 36 persen menjadi 18,5 juta unit dengan US$ 775 juta. Di saat itu pun, produksi ponsel Made in Indonesia juga meningkat 36 persen menjadi 68 juta unit.

“Dan, tahun 2017, impor ponsel turun menjadi 11,4 juta unit, sedangkan produksi ponsel di dalam negeri 60,5 juta unit untuk 34 merek, sebelas di antaranya adalah merek lokal,” lanjut Airlangga menjelaskan.

Kesebelas merek lokal tersebut meliputi SPC, Evercoss, Elevate, Advan, Luna, Andromax, Polytron, Mito, Aldo, Axioo, dan Zyrex. Ponsel nasional ini dianggap memiliki branding kuat untuk pangsa pasar menengah ke bawah maupun kelas menengah ke atas

“Sebagai bangsa Indonesia, seharusnya kita patut bangga terhadap produk ponsel yang dihasilkan industri dalam negeri,” tegas Airlangga

Sistem IMEI

Untuk mengurangi peredaran ponsel ilegal dan memaksimalkan produksi Made in Indonesia, Kemenperin dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), beserta operator telepon seluler akan melakukan sinergi untuk memvaliasi database nomor identitas ponsel atau yang biasa disebut IMEI.a

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, April 2018, data IMEI diharapkan sudah terkonsolidasi. "Kami telah bekerja sama dengan Qualcomm dan akan didukung oleh Kemkominfo," kata Airlangga.

Menurut Airlangga, sistem kontrol IMEI yang akan dikelola Kemenperin ini nantinya dapat diakses secara online. "Secara individu bisa dicek, jadi teknisnya kalau IMEI tidak terdaftar, tidak bisa digunakan di Indonesia," lanjutnya menandaskan.

Langkah ini dianggap sebagai tindak lanjut dari komitmen penandatanganan MoU antara Kemenperin dengan Qualcomm terkait proses validasi database IMEI pada 10 Agustus 2017.

Target Pasar

Airlangga menyebut, sebagai negara dengan penduduk terpadat ketiga di Asia, Indonesia menjadi target pasar bagi berbagai perangkat seluler. Terlebih dengan makin berkembangnya jaringan 4G LTE.

"Namun hal ini juga memicu masuknya perangkat ilegal yang justru menghambat industri dalam negeri dan merugikan konsumen," tuturnya.

Oleh karenanya, Kemenperin berupaya memacu pengembangan daya saing industri ponsel dalam negeri.

Terutama melalui kebijakan hilirisasi, sektor ini telah mampu meningkatkan nilai tambah dan mendukung rantai pasok manufaktur nasional.

"Saat ini hampir seluluh merek ponsel di dunia telah diproduksi dalam negeri," kata Airlangga.

Dalam catatan Kemenperin, industri telekomunikasi dan informatika (telematika) dalam negeri memang tumbuh signifikan.

Hingga 2016, terdapat 23 electronics manufacturing service (EMS), 42 merek smartphone, dan 37 pemilik merek global maupun nasional. Total investasinya pun sebanyak Rp 7 triliun dan menyerap tenaga kerja hingga 13 ribu orang.


Sumber : liputan6

No comments

Powered by Blogger.