Sebar hoax demi penuhi permintaan anak



     Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Peribahasa tersebut nampaknya cocok untuk menggambarkan nasib Uyu Ruhyana, pria 56 tahun yang sehari-hari menjadi marbut Masjid Besar Al Istiqomah.



Pria asal Garut ini dilanda kebingungan usai anaknya minta dibelikan mesin pemotong rumput. Mesin itu akan dipakai sang anak untuk bekerja.



Bagaimana tidak bingung, penghasilan Uyu sebagai marbut sebesar Rp 125.000 hanya cukup untuk bikin dapur ngebul. Ia juga tidak tahu kepada siapa harus meminta tolong.

Ia putar otak mencari cara mendapatkan uang dengan cara instan. Hingga akhirnya, Selasa (27/2) malam ide berpura-pura jadi korban penganiayaan muncul dalam benak Uyu.

"Perbuatan itu saya mengharapkan dikasih uang," ujar Uyu kepada awak media di Polda Jabar, Kamis (1/3).

Langsung saja, menggunting peci serta baju muslimnya. Ceritanya, guntingan tersebut adalah hasil sabetan pelaku penganiayaan.

Kemudian, Uyu mengikat kaki dan tangannya dengan mukena yang ada di masjid. Agar tidak kesulitan, dia membuat pola ikatan tertentu supaya mudah mengunci tangannya yang disimpan di bagian belakang tubuhnya.

Selanjutnya, sorban ia gunakan untuk menutup wajah. Untuk menambah efek dramatis, Uyu melepas bantalan kursi masjid dan dibiarkannya tergeletak.

"Tidak ada yang menyuruh. Ini ide saya sendiri. Saya memang melakukannya sendiri. Saya khilaf karena butuh uang," akunya.

Akting Uyu pertama kali diketahui Agus dan istrinya, Dedeh, Rabu (28/2). Keduanya hendak melaksanakan salat subuh sekira pukul 04.20 Wib. Saat itu keduanya membuka pintu masjid dan kondisinya masih dalam keadaan gelap. Ketika Dedeh menyalakan lampu, ia melihat sosok Uyu dalam keadaan tangan terikat oleh mukena serta mulut dibekap sorban, sementara kaki terikat mukena.

Pesan berantai pun beredar. Isinya ditemukan seorang marbut masjid Masjid Besar Al-Istiqomah di Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat berinisal UR dianiaya seseorang tak dikenal.

Tertulis pula, si marbut dalam kondisi tangan kaki terikat, mulut sudah disumpal di samping kursi kayu yang patah sebelum salat subuh. Di pesan yang tak jelas itu pun disampaikan bahwa korban mengalami luka senjata tajam.

Polisi bergerak menelusuri pesan berantai nan meresahkan tersebut. Hingga akhirnya, Dirkrimum Polda Jabar, Kombes Umar Surya Fana membantah kabar tersebut.

Sebab, Kapolres Garut dan Ditkrimum Polda Jabar melakukan prarekonstruksi di TKP.

Hasilnya, tidak ditemukan adanya luka sedikit pun pada tubuh korban. Saat subuh pun, polisi yang melakukan patroli di sekitar masjid tidak menemukan aktivitas apapun.

Pada baju memang ditemukan robekan, namun itu dirobek dengan sengaja bukan akibat dari benda tajam golok.

"Kesimpulan sementara bahwa kejadian tersebut adalah rekayasa korban yang meminta diperhatikan sisi ekonominya," jelas Umar.

UR menyatakan bahwa penghasilannya sebagai marbot hanya Rp 125.000 per bulan. "Motif yang lain atau aktor intelektualnya masih didalami oleh penyidik," tandasnya. 


Sumber : merdeka

No comments

Powered by Blogger.