<-->

Semangat Ibu di Afghanistan Garap Ujian Sambil Menyusui Bayinya

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Pekan ini, sejumlah foto yang beredar di sosial media yang memperlihatkan perjuangan seorang ibu di Afghanistan mengerjakan ujian masuk universitas sembari menyusui bayinya, kini menjadi sorotan publik. Perempuan itu bernama Jahan Taab (25). Dia duduk di lantai ruang kelas Institur Pendidinkan Tinggi Nasirkhosraw, kota Nilli, Daykundi, Afghanistan. 

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Seorang profesor, Yahya Erfan, yang mengawasi ujian tersebut berinisiatif untuk mengabadikan gambar Taab dan mengunggahnya di Facebook. Perempuan itu memilih untuk duduk bersila di bawah ketika bayinya mulai rewel. Kemudian, dia menyusui bayinya yang berusia dua bulan dan terus mengerjakan soal ujian. "Momen itu sangat mengagumkan dan seluruh rekannya takjub kepadanya," katanya seperti dilansir dari CNN, Selasa (20/2/2018).

Taab yang memiliki tiga anak, harus menempuh 6 hingga 8 jam dari desanya yang terpencil Hoshti di distrik Miramal, menuju ke Nilli untuk ikut ujian. Beruntung, tekad dan perjuangannya terbayarkan. Taab lulus tes yang disebut ujian Kankor dengan nilai 152. Menurut keterangan Erfan, Taab ingin masuk ke fakultas sosial. Namun, ada masalah yang menghadang semangatnya untuk menempuh pendidikan tinggi.

Taab yang menikah dengan seorang petani dan berasal dari keluarga miskin ini khawatir tidak dapat membayar uang kuliah. Biaya kuliah di Nasirkhosraw sekitar 143 dollar Amerika Serikat hingga 172 dollar AS (Rp 1,9 juta-Rp 2,3 juta). Saat ini, Taab sedang mencari donatur untuk membantunya meraih impian.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Sementara itu, organisasi berbasis di Inggris, Afghan Youth Association, meluncurkan pengumpulan donasi untuk Taab melalui GoFundMe. "Alasan dari gerakan ini adalah tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya, yang telah berupaya ikut ujian bersama dengan anaknya yang berusia dua bulan," kata pejabat organisasi tersebut, Shokryah Mohammadi. 

Taab merupakan salah satu dari sekian banyak perempuan di Afghanistan yang berharap dapat menimba ilmu hingga jenjang tertinggi. Menurut Badan Pengawas Hak Asasi Manusia (HRW), perempuan muda di Afghanistan biasanya berada di rumah karena budaya yang mengatakan mereka tidak pantas menerima pendidikan. Sementara, sepertiga perempuan di negara itu menikah sebelum usia 18 tahun dan tidak pernah melanjutkan sekolah.


Sumber:kompas

No comments

Powered by Blogger.