Anak-anak mengendarai motor dan apa yang harus dilakukan orangtua?



     Orang tua menjadi pihak yang disalahkan ketika anak-anak mereka mengemudikan kendaraan bermotor di bawah umur. Apa yang seharusnya dilakukan?



Sebuah video viral menunjukkan dua anak TK berkeliaran di jalan raya mengendarai sepeda motor kecil.

Dalam video tersebut nampak polisi mencegat dua anak yang berboncengan dengan motor kecil. Mereka mengendarai kendaraan bermotor itu di jalanan kota, pengemudinya mengenakan helm, sedang anak yang memboceng tak berhelm.



Anak itu mengaku bersekolah di TK, dan berasal dari Sampang, Madura.

Saat ditanya lebih lanjut oleh petugas polisi, anak itu pun menangis. Polisi, yang di dalam video menyebut dirinya dengan "om", akhirnya mengantar kedua anak tersebut pulang.

Video yang diunggah oleh akun Facebook OviEx Dirga CiatzCiutz ini telah dibagikan lebih dari 28 ribu kali.

Kejadian ini hanya satu dari banyak kasus pengemudi di bawah umur yang terjadi setiap harinya. Di jalanan, mudah sekali menemukan anak-anak di bawah umur yang mengendarai kendaraan bermotor.

Bukan cuma tak punya Surat Izin Mengemudi, mereka juga seringkali melakukan pelanggaran lainnya seperti tak mengenakan helm, dan memboncengkan dua atau tiga orang sekaligus.

Tribun Jogja menulis bahwa di Kabupaten Sleman saja pada tahun 2016 terjadi 330 kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi di bawah umur. 15 anak meninggal dan sisanya luka-luka. Jumlahnya di seluruh Indonesia tentu jauh lebih besar.

Psikolog anak dan keluarga Ayoe Sutomo menyatakan keprihatinannya dengan kejadian ini. "Anak-anak di bawah umur masih ada di bawah tanggung jawab orang tua. Semua tindakan mereka dengan kendaraan bermotor tak lepas dari pengasuhan orang tua," kata Ayoe.

Untuk mengurangi jumlah pengemudi anak, menurut Ayoe, perlu ada edukasi terus menerus bahwa apa yang mereka lakukan itu bukan hal yang baik. "Ada anggapan bahwa anak yang naik motor itu keren, lebih cepat pintar. Paradigma itu harus digeser karena tidak ada yang keren dari anak-anak yang naik motor," kata dia.

Secara psikologis, bukan tanpa alasan SIM dibuat untuk orang yang berusia lebih dari 17 tahun. "SIM dibuat untuk usia lebih dari 17 tahun karena memang anak di bawah usia 17 tahun tidak punya kemampuan kognitif, emosi dan tanggung jawab yang cukup," kata Ayoe.

Mereka yang berusia di atas 17 tahun dianggap sudah punya pola pikir matang, kemampuan pengambilan keputusan yang baik dan bisa bertanggung jawab atas tindakannya. Apalagi, saat mengemudi di jalan, tindakan tidak bertanggung jawab bisa berakibat buruk pada orang lain.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, pengemudi di bawah umur terjadi karena ketidaktegasan orang tua dalam mencegahnya. "Kadang orang tua justru malah menganjurkan karena anak jadi bisa disuruh-suruh," kata Anna. Ketegasan orang tua, menjadi hal yang krusial dalam mencegah anak-anak mengemudikan kendaraan bermotor.

Yang harus dilakukan orang tua

Anna memberikan empat langkah yang harus dilakukan orang tua untuk mencegah anak mengemudi terlalu dini.

1. Mengajak anak berdiskusi

"Anak-anak sudah bisa diajak berdiskusi tentang baik-buruk, asal disampaikan dengan cara diskusi, bukan mengatur atau memerintahkan," kata Anna. Sebab jika dilarang dengan keras tanpa alasan, anak bisa sakit hati dan justru melanggar aturan tersebut.

Orang tua harus melarang penggunaan kendaraan bermotor dengana menyampaikan alasannya. "Misalnya: Papa dan mama tidak izinkan kamu mengemudi karena tidak punya SIM itu melanggar hukum," kata Anna.

2. Tegas menjalankan aturan

Orang tua harus tegas melarang penggunaan kendaraan bermotor untuk anak. Jika anak diam-diam mengambil kunci kendaraan, orangtua harus menyimpan kunci dengan baik.

"Selain itu, orang tua harus konsisten. Jangan sampai suatu kali dilarang tapi keesokan harinya diizinkan," kata Anna.

3. Menentukan hukuman yang jelas

Jika anak ketahuan mengendarai kendaraan bermotor secara diam-diam tanpa izin orang tua, harus ada hukuman yang jelas. Dari hukuman ini anak belajar bahwa ada konsekuensi atas setiap tindakan yang dilakukannya.

4. Proaktif mencarikan aktivitas untuk anak-anak

Jangan sampai anak-anak tak tahu apa yang harus dilakukan dengan waktunya. Orang tua harus mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat agar anak teralih perhatiannya dari kendaraan bermotor.


Sumber : BBC

No comments

Powered by Blogger.