Sempat Terkatung-katung di Taiwan, TKI Asal Siak Kembali ke Pangkuan Orang Tua, Begini Kondisinya

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

TKI asal kampung Sungai Berbari, kecamatan Pusako, Kabupaten Siak akhirnya dapat pulang ke rumahnya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Upaya memulangkan TKI bernama Dedi Putra (28) itu sudah dilakukannya sejak sebulan belakangan.

"Alhamdulillah, adik kami sudah sampai dipangkuan keluarga besar kami. Terimakasih kepada pemerintah yang telah membantu memulangkan adik kami dari Taiwan," kata abang kandung Dedi Putra, Juprizal, Jumat (13/4/2018)

Ia mengatakan, Dedi Putra diantarkan langsung pihak BP3TKI ke rumahnya. Saat menyambut kedatangan Dedi, seluruh keluarga menangis haru. Dedi pun kini lebih sehat dibanding beberapa minggu lalu.

"Semua keluarga cemas waktu dia dirawat di Taiwan. Karena dia tidak mau makan. Sekarang Alhamdulillah, sudah sehat. Namun masih butuh istirahat," kata dia.

Juprizal menyebut, orangtuanya Rahmi, juga sudah tenang melihat Dedi pulang dengan selamat. Walaupun sebelumnya sering menangis karena takut terjadi apa-apa pada Dedi.

Sebelumnya Dedi dirawat di Ministry of Health and Welfare Nontou Hospital, Taiwan. Ia mengalami depresi berat karena tidak terima ditahan oleh pihak berwajib Taiwan.

Hal tersebut dialaminya karena tidak memiliki dokumen resmi sebagai TKI. Bahkan tidak terdapat di Persatuan Migran Indonesia (PMI) Taiwan. Meskipun PMI Taiwan mempunyai peran untuk membantu Dedi pada saat terbaring sakit.

Sebekumnya diberitakan, Dedi Putra memilih jalan hidup sebagai seorang TKI sejak 2015 lalu. Ia ingin mengubah nasib hidup setelah istrinya meninggal dunia.

Karena mendapat tawaran bekerja di sebuah kapal berbendera Taiwan, Dedi pun semangat.

Namun, upayanya untuk mencapai asa ditempuh dengan cara nekat.

Dedi hanya mengurus paspor berkunjung ke Malaysia pada Agustus 2015 lalu di Kantor Imigrasi Kelas II Siak.

Berbekal paspor itulah ia naik ke kapal Taiwan tersebut dan bekerja sekitar 1,5 tahun. Selama ikut melaut dengan kapal itu, Dedi banyak mendapat tekanan. Ia merasakan kerasnya hidup di atas kapal.

Belum lagi perintah kerja, tekanan senior dan rekan-rekan kerjanya. Jangankan dimaki, dihajar seniornya pun pernah diderita Dedi.

Tidak tahan menghadapi gelombang kehidupan ABK, ia mencoba keluar dari kapal dan bekerja di darat. Berbulan-bulan lamanya ia bekerja di sebuah perusahaan perkebunan di Taiwan membuat Dedi merasa lega.

Anak bungsu dari 5 bersaudara itu sudah dapat berkirim uang ke kampung halamanya. Terlebih untuk ibunya Rahmi dan dua orang anaknya, yang ditinggal istrinya.

Pada akhir 2017 lalu, langkah Dedi seketika terhenti saat hendak pulang dari kebun.

Pihak berwewenang Taiwan mengadakan razia ketat, sehingga Dedi tertangkap. Saat diperiksa, Dedi tidak mempunyai dokumen yang lengkap, sehingga ia ditahan.

Pada masa tahanan, Dedi mengalami tekanan yang lebih kuat. Ia memilih untuk tidak makan berminggu-minggu. Gejolak psikologisnya membuncah sampai melawan petugas keamanan.

Saking tidak sadarkan dirinya, ia pun menggigit-gigit lidahnya sampai terluka-luka. Pada akhirnya ia lemas tidak makan di dalam tahanan.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Pihak tahanan pun mengantarkan Dedi ke rumah sakit. Dan, PMI Taiwan serta Kamar Dagang Indonesia di Taiwan membantu Dedi serta mengurus kepulangan Dedi ke Indonesia.

"Kami meminta Dedi tidak nekat lagi kalau sudah pulih nanti. Kami ingin dia bekerja di kampung saja. Cukuplah sudah, kami semua mencemaskannya," kata dia.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.