<-->

Tekun Menyusun Sukses Dari Sepatu Berbahan Alami

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Menciptakan produk yang berbeda serta unik, menjadi salah satu poin wajib bagi pengusaha bila ingin mencuri perhatian pasar. Inilah yang Ningsih lakukan. Perempuan 35 tahun ini membuat sepatu berbahan enceng gondok sejak 2014 lalu. Ia memberi nama produknya Pineapple Shoe. 
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tak hanya enceng gondok, ia juga mengembangkan sepatu dari kulit ikan. Ide kreatifnya pun terus mengalir. Ia memakai kain tradisional, seperti tenun, songket, dan batik. Termasuk memadukan seluruh bahan alam tersebut agar produknya terlihat lebih menarik. 

Keunikan ini berhasil mengundang minat pasar domestik dan internasional. Selain sejumlah kota di Indonesia, produk Pineapple Shoe laris mengisi pasar Meksiko, Jerman, Malaysia, Vietnam, dan Hongkong.

Tidak hanya itu, sepatu buatannya juga digandrungi oleh kalangan artis, sebut saja Rio Dewanto, Irfan Hakim, Dewi-Dewi, Andre Taulani dan Surya Saputra.

Dalam sebulan, Ningsih bisa memproduksi hingga 1.000 pasang sepatu. Saat ini, dia mempekerjakan 12 orang karyawan yang membantunya dalam proses produksi.

Sempat menjalin kerjasama dengan salah satu peritel asal negeri gingseng Korea, kini Ningsih memilih untuk memasarkannya melalui media digital. Maklum saja, gaya berbelanja konsumen sudah bergeser dari offline ke online.

Ia menawarkan Pineapple Shoe lewat akun media sosial, seperti Instagram. Produknya pun makin dikenal. Alhasil, makin banyak konsumen yang memesan sepatu dalam jumlah besar.

Harga produk Pineapple Shoe ini mulai dari Rp 150.000 sampai Rp 2 juta per pasang. Ningsih mengaku dalam sebulan total penjualan mencapai ratusan juta.

Untuk menjaga kualitas produknya, ibu tiga anak ini memperhatikan proses produksi serta kualitas bahan baku. Dia menjalin kerjasama dengan beberapa pemasok kulit ikan, sapi, kambing dan bahan lainnya untuk memenuhi seluruh kebutuhan saban bulannya. "Untuk kain tenun, songket, dan batik biasanya saya suka hunting sendiri waktu ke luar kota," katanya dilansir pada, Selasa (13/3).                        

Sepatu Ningsih melangkah sampai pasar dunia

Hobi mengoleksi sepatu sejak remaja dan sering kesulitan menemui model yang unik, mendorong Ningsih berbisnis sepatu. Bermodal Rp 50 juta, duit tabungannya, dia mewujudkan mimpinya.

Ningsih belajar membuat sepatu secara autodidak. Ia mengumpulkan banyak literasi untuk menciptakan produk yang berbeda.

Namun, niatnya berbisnis sepatu ini sempat mendapatkan tentangan dari orangtuanya. Maklum, Ningsih tak punya pengalaman berbisnis. Orangtua lebih menginginkan dirinya menjadi karyawan.

Dengan keyakinan kuat, ibu tiga anak ini mulai mencari perajin sepatu. Setelah itu, dia mengumpulkan bahan baku dan mulai produksi. Ningsih mengutamakan detil produksi, seperti mengukur kerekatan serta ketahanan sepatu terhadap udara luar.

Saat berinovasi dengan produk kulit ikan, dia belajar pada salah satu profesor di Institut Teknologi Bandung. Namun, saat mempraktekkannya di rumah, Ningsih menemui kegagalan, karena tak menggunakan mesin. Lantas, dia pun memutuskan untuk meminjam mesin.

Meski sudah memenuhi unsur unik dan kreatif, kedua hal itu tak menjamin produknya mudah diterima pasar dalam negeri. Bahkan, sepatunya pernah ditawar Rp 50.000 per pasang oleh konsumen, saat ikut pameran di lingkungan Istana Negara. "Saya kesal karena mereka seakan tak menghargai kreativitas dan hasil karya," tutur Ningsih. Saat itu, dia mematok harga jual produknya Rp 350.000 per pasang.

Tidak juga disambut baik, Ningsih meminta bantuan member Dewi-Dewi untuk mempromosikan sepatu kulit ikannya. Lantaran respon dari konsumen lokal tak kunjung baik, dia pun mengincar konsumen dari luar negeri. Ia pun rajin mengikuti pameran skala internasional, seperti di Meksiko dan Jerman. Dari dunia internasional ini, Pineapple Shoe justru mendapat pengakuan. Pesanan sepatu pun berdatangan dari sejumlah buyer.  

Kendala yang dihadapinya saat usahanya blaru berdiri adalah karyawan yang tidak sanggup untuk membuat sepatu dari kulit ikan. Materialnya yang berukuran kecil membutuhkan tingkat ketelitian dan ketelatenan untuk menciptakan lembaran kulit ikan siap pakai.        

Terus kembangkan bahan baku dari kulit ikan

Bagai sayur tanpa garam. Hambar rasanya menjalankan usaha tanpa ada kendala dan tantangan. Sebab, kedua hal ini justru akan menempa mental pengusaha untuk meraih kesuksesannya. .

Hampir empat tahun menjalankan bisnisnya, Ningsih masih mendapati kesulitan mencari karyawan yang terampil. Terutama, perajin untuk membuat sepatu dari sisik ikan. 

Begitu pula dengan stok kulit ikan yang sulit didapatkan. Ningsih pun harus keluar masuk pasar untuk mencari kulit ikan kering. "Saingan saya itu sama penjual kerupuk, apalagi sekarang makin banyak jumlah penjualnya," ujarnya. Apalagi, kondisi kulit ikan yang terlalu banyak lubang dan sobek membuat tidak dapat diproses menjadi material sepatu.

Sedangkan, untuk urusan ide desain, Ningsih mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari lingkungan sekitar. Meski masuk bidang fesyen, perempuan berparas ayu ini tidak selalu mengikuti desain yang sedang tren. Dia memilih untuk membuat model sepatu klasik serta sepatu custom permintaan konsumen.

Meski sudah terkenal dan banyak mendapatkan pesanan khusus dari para pesohor tanah air, tidak membuat Ningsih berhenti berpromosi. Perempuan berusia 35 tahun ini memilih menggunakan media digital untuk terus memperkenalkan produknya dan memperluas pasar.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Meski menyajikan produk yang cukup unik, bukan berarti Ningsih bebas dari pesaing. Sudah banyak produsen sepatu yang mengolah kulit ikan. Mengamini hal tersebut, Ningsih lebih mengganggapnya sebagai motivasi bukan lawan usaha. Sehingga, dia terdorong untuk terus melakukan inovasi dan mempertahankan kualitas produk.

Saat ini, dia sedang mempersiapkan peluncuran material baru yaitu kulit ikan lele. Dia menjelaskan, karakter kulit lele yang kecil dibutuhkan kerja ekstra untuk dibuat bahan sepatu atau sandal. " Saat ini tim sedang dalam proses ujicoba ketahanan dan dilihat kerekatannya," tambahnya.

Selain itu, kedepan dia berharap dapat mempunyai gerai pribadi untuk memajang seluruh koleksinya. Saat ini dia hanya mempunyai satu workshop yang berada di Tangerang, Banten.

Sumber:kontan

No comments

Powered by Blogger.