<-->

Tergiur Kerja di Dubai Bergaji Rp 4 Juta, TKI Malah Dikirm ke Suriah

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Dua orang anggota sindikat tindak pidana perdagangan orang (TPPO) jaringan Timur Tengah bernama Budi Setiawan dan Mohammad Al Ibrahim bin Hani dibekuk anggota tim Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

“Modus yang digunakan oleh para tersangka ialah dengan menjanjikan pekerjaan kepada para korban TPPO sebagai pembantu rumah tangga di Dubai dengan gaji per bulan sebesar 1000 dirham atau sekitar Rp 4 juta,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak di Jakarta, Senin, 23 April 2018.

Herry menuturkan, para korban diberangkatkan sebagai pekerja migran Indonesia secara non prosedural dengan menggunakan calling visa. Namun setibanya di Dubai, para calon pekerja tersebut tidak ditempatkan di negara berbeda. Sebagian ada yang dikirimkan bekerja di Suriah dan Sudan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kasus ini bermula pada Agustus 2017 korban bernama Aisah Susilawati diberangkatkan oleh sponsor kampung menuju Jakarta untuk bertemu dengan Budi Setiawan, seoranng yang biasa mengurus medical check up, paspor, dan keberangkatan untuk para calon pekerja.

Setelah itu, Budi Setiawan membawa korban kepada Ibrahim, warga negara Suriah yang berdomisili di Indonesia. Ibrahim diketahui sebagai agensi yang mengurus dan membiayai pengurusan visa dan tiket keberangkatan korban. Pada November 2017, korban diberangkatkan ke negara Dubai dengan rute penerbangan Juanda (Surabaya)-Kuala Lumpur (Malaysia)-Kolombo-Damaskus- Dubai.

Setibanya di Dubai, korban diberangkatkan lagi oleh agensi yang berada di negara Dubai ke negara Suriah dengan dalih bahwa korban mendapatkan majikan yang berada di negara Suriah. Pada Januari 2018, korban kembali diberangkatkan dari negara Suriah ke Sudan. Alasannya, majikan korban yang berada di negara Sudan merupakan orang tua dari majikan yang berada di negara Suriah.

Herry mengatakan, selama bekerja korban tidak pernah diberikan upah. Tak hanya itu, jam kerja korban melebihi batas waktu normal yaitu kurang lebih 20 jam sehari.

"Sehingga korban merasa tidak kuat dan melarikan diri dari rumah majikan tersebut. Korban lalu diantarkan oleh pihak Kepolisian Sudan menuju KBRI Khartoum, dan dipulangkan ke Indonesia pada 28 Februari 2018," ujarnya.

Lebih lanjut Herry menuturkan bahwa dalam kasus TPPO itu, tersangka Budi berperan sebagai sponsor atau orang yang mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan keberangkatan calon pekerja migran Indonesia. Budi diketahui sejak 2014 hingga 2018 telah menyalurkan sekitar 75 orang calon pekerja kepada Ibrahim selaku agensi.

Sementara Ibrahim, warga negara Suriah, berperan sebagai agensi atau orang yang mengurus visa, membiayai seluruh pengurusan dokumen calon pekerja migran, dan mengirimkannya kepada agen yang berada di luar negeri. Ibrahim diketahui sejak tahun 2014 hingga 2018 telah memberangkatkan sekitar 169 orang pekerja migran.

"Ibrahim ini pengirim PMI yang berada di Indonesia,"  ucapnya.

Dari penangkapan tersebut, barang bukti berhasil diamankan antara lain berupa 24 paspor, 4 lembar tiket dan boarding pass, 3 buah visa, 6 buah buku tabungan, dan satu unit mobil minibus Toyota New Avanza warna putih tahun 2013.

Selain itu petugas juga menyita satu unit sepeda motor Honda Beat warna hitam tahun 2016, 3 bundel blanko perjanjian, satu buah buku surat perjalanan laksana paspor, yang diterbitkan dari KBRI Dubai tanggal 14 Mei 2017, serta satu buah kartu nama atas nama Budi Setiawan dari PT Benteng Artha Mandiri.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 4 UU RI No 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (PTTPO) dan atau Pasal 81, UU RI No 18 Tahun 2017 tentang perlindungan pekerja Imigran Indonesia Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1E KUHP.

"Dengan ancaman hukuman kurungan penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 15 miliar," tutur Herry. 

Sumber:kriminologi

No comments

Powered by Blogger.