TKI Cirebon Lolos Hukuman Mati di Saudi, Begini Kisah dan Prosesnya



     Amirul Nurhamzah (16) baru kelas 1 SD ketika ibunya, Masamah Raswa Sanusi memutuskan untuk mengadu nasib ke negeri orang. Sudah sekitar 9 tahun lamanya dia tidak pernah lagi melihat wajah ibunya.



Kini kesampatan tersebut datang setelah sang ibu lolos dari hukaman mati dan dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Masamah, TKI asal Blok KUA, Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, tersebut nyaris dieksekusi di Arab Saudi setelah dituduh dan disangkakan membunuh anak majikannya.'



Saat itu, Masamah baru sekitar tujuh bulan bekerja. Masamah berangkat melalui sponsornya lewat salah satu perushaan di Jakarta, tahun 2009.

Namun persoalan muncul saat anak majikannya meninggal. Masamah disangka sebagai pelaku pembunuhan dan akhirnya ditahan untuk mengikuti proses persidangan.

“Istri saya berangkat untuk mengubah nasib keluarga. Saya waktu itu hanya kerja serabutan. Kalau ada bangunan, ya kerja bangunan. Kalau ada ojekan ya ngojek,” ujar Amit (39) suami MRS saat ditemui Radar Cirebon.

Amit mengatakan, keluarganya baru sekali menerima kiriman uang dari Masamah. Uang itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan lain-lainnya.

Amit pun masih mengingat dengan jelas jumlah uang yang dikirimkan Masamah kala itu. “Saya ingat, jumlahnya Rp 4 juta. Itu kiriman pertama setelah empat bulan pertama di sana,” ujarnya.

Setelah kiriman uang yang pertama, dia kehilangan kontak dengan Masamah. Berkali-kali dia mencoba menghubungi nomor yang diberikan Masamah sebelumnya namun tak pernah nyambung. “Saya juga bingung, nomornya saat itu tidak bisa dihubungi lagi,” jelasnya.

Akhirnya kabar terkait nasib istrinya datang setahun setengah setelah keberangkatan ke Arab Saudi. Saat itu, Amit dihubungi oleh teman Masamah sesama TKI di Saudi. Pesannya bahwa istrinya ada di dalam penjara dan menitipkan surat saat temannya tersebut pulang ke Indonesia.

“Saya kaget, bingung, campur aduk, kebayang istri saya di sana kayak gimana. Saya juga bingung kenapa hal sepenting ini informasinya tidak melalui pemerintah. Saya juga tidak tahu harus ke mana minta tolong. Apalagi di surat tersebut istri saya bilang sedang menghadapi proses sidang dengan ancaman hukuman mati,” tambahnya.


Sudah tak terhitung usaha dan upaya yang dilakukan Amit dan keluarganya dari mulai bertemu dengan para penggiat kemanusian, LSM, BNP2TKI. Bahkan meminta pertolongan ke KBRI di Jeddah.

“Semua saya lakukan, asal isteri saya bisa bebas dan bisa berkumpul kembali. Biaya juga keluar. Untungnya ada yang bantu, banyak yang menolong,” katanya.

Sumber : Radarcirebon

No comments

Powered by Blogger.