<-->

9 Agen Ditangkap Saat Seludupkan 71 TKI Ilegal dari Malaysia

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
ilustrasi
 
Polresta Barelang mengamankan 71 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal serta sembilan agen yang diduga terlibat saat seludupkan TKI dari Malaysia menuju Batam.

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal
 
Mereka diamankan polisi, Kamis (3/5) sekitar pukul 04.00 WIB di pantai Bale-Bale, Nongsa.

Mengenakan baju kaos orange berkerah, Sulaiman, 38, salah seorang TKI mengatakan, para agen TKI jalur ilegal meminta Sulaiman untuk membayar sebesar 1.350 Ringgit Malaysia untuk biaya pulang ke Lombok melalui jalur gelap.

Setelah membayar, Sulaiman pun berangkat ke salah satu daerah yang baru dikenalnya di Malaysia.

"Kami ditampung dulu satu hari satu malam di rumah atau mess yang berada di dekat hutan. Di penampungan itu, kami diminta lagi tambahan biaya sebesar 30 Ringgit," kata Sulaiman.

Menurut agen yang akan membawa mereka pulang, mereka ditampung untuk memastikan situasi aman ketika mereka menyusuri hutan sebelum berangkat.

Sebab, polisi Malaysia melakukan patroli setiap saat di hutan itu. Setelah semua dirasa cukup aman, mereka mulai masuk ke hutan menuju bibir pantai pada hari Rabu (2/5) sekitar pukul 17.00 WIB.

"Kami jalan keluar masuk hutan, terus siap lewat hutan itu kami masuk lagi ke perkebunan sawit. Kita di dalam hutan tidak boleh hape hidup dan harus ikut arahan yang bawa kami
masuk hutan," tuturnya.

Menurut Sulaiman, jika ada polisi Malaysia yang mencium keberadaan mereka di dalam hutan, para TKI ilegal itu terpaksa bersembunyi di dalam hutan selama berhari-hari sambil menunggu situasi aman. Sementara untuk makan, mereka hanya makan dengan perbekalan yang sudah disiapkan sebelum berangkat.

"Hutan itu kami berjalan sampai lima jam, karena luas hutannya. Itu kami jalan malam hari. Kalau untuk makan, tergantung yang bawa bekal, kalau tidak bawa bekal terpaksa nunggu sampai Indonesia dulu baru makan," bebernya.

Diceritakannya, perjalanan di dalam hutan itu cukup lelah. Sebab, kondisi hutan yang mereka lalui itu banyak ranting-ranting kayu mati. Sesekali, Sulaiman sempat terperosok di antara timbunan ranting yang sudah mati itu. Tidak hanya dia, bahkan rekan-rekan wanita yang lainnya juga ikut merasakan hal yang sama.

"Kadang kami jalan setengah kilometer berhenti, karena banyak ibu-ibu yang bawa anak. Jadi kami istirahat dulu sekitar lima belas menit, siap itu baru kami lanjutkan perjalanan lagi," kenangnya.

Setelah berjalan hampir enam jam, akhirnya mereka sampai dibibir pantai sekitar pukul 24.00 WIB. Disana, mereka kembali menunggu speed boat yang akan membawa mereka ke pantai Bale-Bale, Nongsa. Setelah kapal yang akan membawa mereka sampai, mereka diminta untuk berjalan hingga sejauh 100 meter dari bibir pantai.

"Boat itu tidak jemput sampai ke tepi, kami jalan sampai ke tengah. Di tengah itu air sudah setinggi dada. Waktu mau naik itu, semua berebut mau naik. Kita sudah takut boat itu pecah karena berdesakan," katanya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Setelah semua naik di atas boat, tekong kapal langsung tancap gas menuju pantai Bale-Bale Nongsa. Sama seperti saat mereka berangkat dari Malaysia, tekong boat kembali menurunkan puluhan TKI itu jauh dari bibir pantai. Mereka terpaksa mengarungi air setinggi dagu untuk sampai ke daratan.

"Sebelum turun, kami diminta lagi uang sebesar Rp. 700 ribu setiap orang. Katanya untuk uang keamanan di pantai. Tapi saya tidak mengerti uang keamanan apa," katanya heran.

Sumber:JPNN

No comments

Powered by Blogger.