<-->

Bapak Meninggal, 7 Tahun Ibu Ke Hong Kong Hilang Kabar, Remaja 16 Tahun Ini Terpaksa Menjadi Tulang Punggung Kedua Adiknya



      “Om, tolong jangan disebut Ibu telah menterlantarkan saya dan adik saya, memang benar, ibu saya sudah 7 tahun tidak ada kabarnya dan saya tidak tahu bagaimana dan kenapa” sanggah Galang saat menjawab pertanyaan ApakabarOnline.com.



Remaja tanggung yang memiliki nama lengkap Galang Adi Kurniawan (16) ini merupakan anak Pujiatin, yang oleh keluarganya sejak 7 tahun lalu diketahui pergi ke Hong Kong untuk menjadi pekerja migran. Pujiatin, memutuskan untuk melangkahkan kaki ke Hong Kong, lantaran terdesak kondisi perekonomian keluarga, semenjak almarhum Santoso menderita kelumpuhan akibat cidera tulang belakang karena mengalami kecelakaan kerja.


“Seingat saya, Ibu berangkat ke Hong Kong tahun 2011, usai Gunung Merapi meletus. Ibu berangkat ke Hong Kong karena bapak sakit, ttidak bisa bekerja lagi. Bapak jatuh dari atap kandang ayam tempatnya bekerja karena terpeleset abu Merapi saat membersihkan atap” tutur Galang.

Setelah jatuh, bapak terus lumpuh dan tidak bisa bekerja. Awalnya ibu yang menggantikan bapak bekerja di kandang, tapi tenaga ibu tidak kuat, sering pusing dan muntah muntah mencium bau kotoran ayam” lanjutnya.
Menyadari sulitnya mencari uang di kampung halaman ditengah tekanan kebutuhan biaya hidup dan biaya perawatan suaminya, Pujiatin akhirnya terbang ke Hong Kong tahun pertengahan tahun 2011 melalui jasa sebuah PPTKIS di Salatiga.

“Saya waktu itu masih kecil, masih kelas 3 SD, saya tidak tahu apa nama PTnya Om, yang saya tahu, Ibu berangkat dari PT di Salatiga” tutur Galang.

Sejak Pujiatin berangkat berproses, praktis, kehidupan sehari-hari Santoso dan ketiga anaknya menjadi beban orang tua dan saudara-saudara Santoso.

“Sampai di Hong Kong, Ibu pernah nelpon ke Pakde, katanya sudah sampai Hong Kong dan dapat majikan baik. Tapi belum bisa ngirim uang, karena harus nunggu sampai tujuh bulan bayar potongan gaji” lanjut Galang.

Bulan demi bulan berganti, tahun demi tahun berlalu, usai menelpon mengabarkan dirinya telah sampai di Hong Kong dan mendapat majikan yang baik, hingga sekarang Pujiatin tidak pernah lagi menghubungi keluarganya. Bahkan, saat kondisi sakit yang diderita Santoso mengalami puncaknya, Pujiatin pun tidak mengetahui jika pada tiga tahun yang lalu, Santoso telah tiada.

Galang, yang tumbuh semakin dewasa, semakin menyadari dan merasa dirinya harus realistis menghadapi kenyataan. Galang merasa tidak bisa terus menerus menggantungkan hidupnya dan hidup kedua adiknya pada belas kasihan saudara-saudaranya. Karena itulah, sejak kelas 2 SMP, Galang memutuskan untuk mencari pekerjaan.

“Saya itu bingung Om mau kerja apa, awalnya saya hanya berpikir, harus belajar sambil bekerja. Tapi kalau belajar disekolah saja, bagaimana saya bisa bekerja mendapat uang. “ kenang Galang.
Perubahan dalam hidupnya dimulai, saat tanpa sengaja, Galang yang dalam kondisi ingin menyendiri ke tempat sepi di kawasan Candi Boko, melihat serombongan turis asing dikawal oleh seorang pemandu yang sekaligus penterjemah. Diam-diam, galang mengikuti kemana saja rombongan itu bergerak di areal Candi tersebut.

Keesokan harinya, Galang kembali mengayuh sepeda onthel nya sepulang sekolah, menuju areal Candi yang sama, lalu berganti ke areal candi lainnya seperti Prambanan misalnya.

Dari hasil pengamatannya, sampailah Galang pada sebuah kesimpulan dan tekat bulat untuk mencoba peruntungan, men jadi pemandu wisata bagi turis asing di kawasan yang hanya bertetangga kecamatan dengan rumahnya.

“Tekad dan niat saya sudah punya, tapi saya bingung Om, bagaimana memulainya, sebab sepanjang yang saya lihat, hampir semua turis yang datang kesini, sudah membawa pemandu” tutur Galang.


Kebingungan Galang, kemudian dia ungkapkan kepada guru Bahasa Inggris di sekolahnya. Kebetulan, guru Bahasa Inggris Galang memiliki teman smasa kuliah yang menekuni profesi dalam bidang penelitian dan pariwisata, yang mana aktifitas pandu memandu turis asing, menjadi bagian yang sering dilakukan.


Perkenalan Galang dengan teman gurunya pun berlanjut. Galang diterima bekerja paruh waktu untuk membantu pekerjaan teman Gurunya yang kebetulan sedang mendampingi proyek penelitian sekelompok peneliti dari Amerika di kawasan Candi Boko.


“Darisana, akhirnya saya tahu Om, dan saya kenal dengan sopir-sopir dan agen-agen tour. Saya selalu menawarkan diri, meskipun oleh sebagian besar mereka, saya sering ditertawakan dengan tawaran saya karena saya dianggap remeh, masih kecil, tapi alhamdulilah, ada dua biro tour yang bersedia menerima saya menjadi jaringannya” kenang Galang.
  
Tak semudah membalikkan kedua telapak tangan, begitu hari-hari yang dijalani Galang, hingga dirinya bisa menjadi seperti sekarang, memiliki banyak jaringan dan mumpuni menjadi pemandu bagi wisatawan asing.

“Disini pentingnya membaca Om, tanpa saya belajar dan membaca sejarah, budaya dan apa saja, pasti sulit bagi saya untuk menjelaskan ke tamu-tamu yang saya bawa tentang objek wisata dan sejarahnya, tanpa mengetahui budaya mereka, tentu juga kan sulit bagi saya untuk bisa bersikap sesuai dengan tradisi mereka” terangnya.

Dari aktifitasnya menjadi pemandu wisatawan asing, Galang setiap bulan bisa mengantongi keuntungan yang jumlahnya tidak menentu. Namun sayangnya, usai tamat SMP, galang memilih untuk tidak melanjutkan sekolahnya, dengan alasan demi kehidupan kedua adiknya.

Terkait dengan hilangnya kabar Pujiatin, Galang tetap menjaga pikiran dan prasangka positif diantara doanya.

“Ibu saya memang tidak ada kabarnya Om, tapi tolong ya jangan disebut ibu saya telah menterlantarkan saya dan adik-adik saya. Karena kita tidak tahu dengan apa yang terjadi pada ibu saya. Yang ppenting, saya setiap malam selalu berdoa, mudah-mudahan ibu saya selamat dan bisa pulang ke Jogonalan” harap Galang.

“Sebenarnya saya sedih Om, saya ngiri dengan teman—teman saya yang bisa terus sekolah, tidak seperti saya yang harus berhenti sekolah. Tapi sebagai anak paling besar, saya kasihan melihat kedua adik saya. Kalau saya sekolah, bagaimana dengan adik adik saya, mereka mau makan apa, biaya sekolah saya juga darimana. “ aku Galang dengan nada sedih.

Keadaan, membuat Galang memiliki pemikiran dewasa jauh melampaui usianya yang masih remaja. Jiwa kepemimpinan dan perasaan mengayomi kedua adiknya tumbuh kuat disaat kondisi mereka bertiga hidup tanpa nafkah dan kasih sayang kedua orang tua. Sikap luar biasa yang dijunjung tinggi oleh Galang, meski ditinggal pergi oleh Pujiatin Ibunya dan tanpa pernah ada kabarnya lagi, Galang selalu menjaga dirinya dari perasaan membenci. Yang dilakukannya justru menjaga sikap menghormati.

Galang berharap, dengan dimuatnya kisah perjalanan hidupnya, akan semakin banyak orang yang mendoakan kepulangan ibunya. Melalui ApakabarOnline.com, Galang menitipkan pesan :
“Ibu, Bapak sampun Sedho. Ibu sekarang dimana ? Jika ibu tidak berhasil bekerja di Hong Kong, Galang ingin Ibu pulang saja, biar Galang yang kerja menggantikan bapak. Selama 3 tahun ini Galang Alhamdulilah sudah bekerja.
Bu, ibu Kundhur Nggeh, Galang Kangen” pungkas Galang yang terhenti oleh isak tangisnya.

Sumber : Liputan 6

No comments

Powered by Blogger.