<-->

Bisnis Mainan Edukasi, Pria Ini Raup Omzet Puluhan Juta



      Berbisnis mainan anak mungkin sudah banyak digeluti sebagian besar orang. Namun, berbisnis mainan edukasi yang unik sepertinya belum banyak dijadikan peluang oleh banyak orang.


Hal itu lah yang menjadikan landasan Dodi Mustafa dalam mengambil peluang di bisnis mainan edukasi. Dodi, memiliki misi untuk bisa membuat anak-anak Indonesia memiliki pola pikir yang kreatif dengan produk mainannya, yakni Jamooga.



Jamoga merupakan produk mainan unik berbahan dasar kayu, dengan sebuah pola yang dapat diubah-ubah sesuai dengan keinginan. Mirip seperti puzel yang dapat disusun-susun. Selain sebagai mainan edukasi anak, Jamooga juga bisa dijadikan sebagai hiasan decorasi karena bentuknya yang unik dan menarik.

"Karena sebenarnya anak-anak kan aset bangsa terbesar masa depan, dan kreativitas anak itu terbentuk dari cara main, jadi apa yang kita mainkan di masa kecil itu sedikit banyak berpengaruh ke pola pikir di masa depan. Jadi itu yang coba kita eksplore," kata Dodi kepada detikFinance, Minggu (29/4/2018).

Dodi sendiri bercerita, bahwa dirinya memulai bisnis mainan edukasi anak ini setelah keluar dari pekerjaannya di bidang periklanan atau advertising. Dodi mengaku ingin memiliki sebuah usaha kerajinan tangan kreatif yang memiliki sebuah fungsi.

Kemudian dengan modal sekitar Rp 60 juta, Dodi yang menggandeng seorang partner kemudian memulai bisnis tersebut. Dodi kemudian mulai mendesain sendiri produknya tersebut, dan membuat prototype Jamooga. Dia memulai semua ini pada Maret 2017, atau kurang lebih setahun belakangan di Bandung, Jawa Barat.

Dari sana, kemudian Dodi rajin mengikuti berbagai pameran untuk memperkenalkan produknya. Tak lupa, Dodi juga aktif memasarkan produknya melalui media sosial seperti Instagram. Karena produknya yang dinilai unik, masyarakat pun antusias.

"Alhamdulillah dari sini kita sudah berangkat ke Milan, NewYork, Jepang, untuk pameran. Sudah mulai ada ekspor juga walau belum banyak. Ekspor ke Italia, ke Jepang, Meksiko," ujarnya.

Dengan bisnisnya yang berkembang, Dodi juga akhirnya bekerjasama dengan pengrajin di wilayah Jepara serta Jogja untuk membuat produknya. Kini dalam sebulan Dodi bisa memproduksi hingga 5.000 pieces dalam sebulan. 

Dia fokus memasarkan produknya ke Jakarta, Bandung, serta Bali. Selain itu, dia juga masih melayani pemesanan untuk ekspor. Produknya sendiri dihargai mulai dari Rp 124.000-500.000. Dalam setahun ini, Dodi pun mengaku sudah bisa balik modal dan memiliki omzet hingga Rp 40 juta/bulan. 

"Udah bisa balik modal, cuma karena mostly saya sendiri, jadi ya pembukuannya juga berantakan, jadi kalau omzet jujur saya nggak tahu. Pokoknya pekerja kegaji, saya nggak kelaparan, bisnis juga bisa jalan. (Perkiraan omzet) Ya Rp 30-40 juta/bulan," ujarnya.


Namun begitu, Dodi mengaku tak mudah dalam menjalankan bisnis ini. Ada banyak tantangan yang harus Dodi hadapi, mulai dari persoalan bahan baku, hingga sumber daya manusia.

"karena sebenarnya, bahan baku yg kira pakai nggak sustainable, kayu ya soalnya, bukan bambu. Awalnya itu kayu recylce, tapi untuk pemesanan volume tinggi itu nggak memungkinkan pakai kayu limbah, dan kita harus beli. Itu harganya ada fluktuatif," jelas dia.

Namun Dodi mengaku terus berupaya mengembangkan bisnisnya ini. Dalam waktu dekat, dia juga mengatakan bakal memasarkannya di Bandara Ngurah Rai, Bali. 



Sumber : detik

No comments

Powered by Blogger.