Mantan Sekretaris Ini Raup Jutaan Rupiah dari Salak


Mungkin sebagian masyarakat di Indonesia pernah terluka saat mengkonsumsi buah salak. Kulitnya yang tajam menjadi salah satu penyebabnya. Namun, kini menikmati buah yang rasanya asam dan manis itu tidak perlu repot.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Berkat Shelly, seorang ibu dengan tiga anak ini berhasil melakukan inovasi dari salak. Buah tersebut menjadi makanan yang menarik dan enak untuk dikonsumsi. Bahkan, racikannya itu berhasil menciptakan berbagai makanan olahan.

Berawal pada 2010, Shelly sudah menjajaki usaha sektor kuliner dan pada 2016 berhasil mengangkat salak sebagai buah tropis unggulan khas Indonesia menjadi olahan baru.

"Awalnya itu untuk mensosialisasikan manfaat buah salak dalam bentuk makanan dan minuman yang baru yang enak," kata dilansir dari detikFinance.

Wanita yang sebelumnya bekerja sebagai sekretaris direksi disalah satu perusahaan swasta ini pun semakin serius menggeluti usahanya karena desakan ekonomi dan hobi memasak.

Dia menyebut pada saat menjabat sebagai sekretaris memiliki penghasilan sekitar Rp 2-Rp 2,5 juta. Dari pendapatannya tersebut digunakan sebesar Rp 500.000 untuk memulai usaha makanan olahan yang berasal dari buah salak.

"Saya dulunya wanita kantoran sejak menjadi ibu rumah tangga dengan 3 anak karena dorongan ekonomi dan hobi memasak timbul lah niat usaha di bidang kuliner supaya bisa usaha di rumah sambil mengurus anak dan rumah tangga," jelas dia.

Dengan modal yang cukup kecil, Shelly pun menggunakannya untuk membeli bahan baku secukupnya karena sudah ada tetangga dan teman-temannya yang memesan melalui media sosial seperti Fecebook.

Seiring waktu berjalan dan usaha mensosialisasikan produk olahannya pun mulai memberikan hasil yang positif. Produknya tersebut kini dikemas dengan merk Salaku (olahan salaku).

Makanan olahannya pun cukup banyak dan harganya relatif terjangkau dari Rp 15.000-Rp 65.000. Produk makanan olahannya itu antara lain Brownlak/brownies salak dibanderol Rp 65.000, Pielak/bolak dibanderol Rp 50.000, Cooklak/cookies salak dibanderol Rp 50.000.

Lalu Sinlak/Asinan Salak dibanderol Rp 25.000, Sarlak/Sari Salak dibanderol Rp 15.000, Sambilak/Sambal Ebi Salak dibanderol Rp 30.000, Coklak/Coklat Salak dibanderol Rp 65.000, dan Sailak/Selai Salak dibanderol Rp 30.000.

Kerja kerasnya yang terus mensosialisasikan melalui media sosial pun membuat produk olahan Salaku sampai di beberapa kota besar seperti Jabodetabek, Bali, Jogjakarta, Pontianak. Bahkan, berhasil ke luar negeri seperti Australia

"Ada beberapa teman yang membawa salaku untuk dibawa keluar negeri seperti Australia, New Zealand, Moscow, Malaysia, Jepang dan ibadah umroh," ujar dia.

Dengan kerja kerasnya merintis usaha dari awal, kini Shelly memiliki omzet sekitar Rp 10-Rp 25 juta per bulannya.

"Omzet masih belum menentu tergantung occasion sekitar Rp 10-Rp 25 juta per bulan," jelas dia.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Kesuksesan yang diraih Shelly saat ini tidak didapatkan dengan mudah. Dirinya mengaku sempat dibuat frustasi karena salah yang menjadi bahan baku produksinya itu ternyata cepat busuk. Namun seiring waktu berjalan hal tersebut bisa dilewati.

Dia pun menyarankan kepada masyarakat yang ingin terjun ke dunia usaha untuk mencari usaha yang memang bahan bakunya tersedia di lingkungan sehari-hari, bukan hanya sekedar usaha mengikuti tren.

Sumber:detikfinance

No comments

Powered by Blogger.