Peluang Usaha: Pedas-Pedas Omzet Si Cabai Hias

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Belasan buah berbentuk lonceng mini menggantung di batang rindang setinggi 30 sentimeter. Buah berwarna oranye itu seukuran dua kali telur puyuh. Tidak ada yang yang istimewa dari tampilannya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tapi saat diberi tahu buah-buah itu adalah cabai, sebutan istimewa tidaklah cukup. Cabai bentuk lonceng itu lebih cocok disebut unik. Dari segi bentuk yang menyerupai lonceng tak seperti lazimnya cabai, ukurannya juga cukup besar untuk disandingkan dengan tomat.

Sedangkan soal rasa, tingkat kepedasannya hanya di level medium antara 5.000-30.000 SHU (Scoville heat unit: satuan tingkat kepedasan). Cabai berjuluk Bishop’s Crown itu milik Suwarsono, kolektor cabai hias asal Kampung Kendalrejo RT001/RW011 Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Suwarsono mengoleksi puluhan cabai ornamental dari berbagai negara. Suwarsono menanam cabai-cabai itu di halaman rumahnya. Lebih dari sekadar hobi, koleksinya itu mampu mengisi pundi-pundi  uang yang tak bisa dibilang sedikit.

“Sejak tiga tahun lalu saya mengebunkan cabai hias. Selain cabai lonceng, saya juga punya garda fireworks yang berwarna-warni, dorcet naga alias bhut jolokia yang pedasnya sampai 1 juta SHU, purple chupetinho cabai ungu, masquerade, dan lain sebagainya,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Cabai-cabai di halamannya itu merupakan indukan. Saat umurnya tepat, buahnya dipanen lantas dibedah dan diambil bijinya untuk dipasarkan. Harga per biji kering cabai ornamental bervariasi. Minimal Rp1.000 tergantung kelangkaan varietas.

Suwarsono menjualnya per paket. Misalnya satu pak berisi enam biji  cabai kering dijual dengan harga mulai Rp5.000.

“Selain biji kering saya juga menjual bibit yang sudah berdaun. Biasanya ini untuk yang enggak mau repot menyemai dan penjualannya jarak dekat. Biji kering sasaran pasarnya luar kota. Harga bibit yang berdaun bisa Rp5.000-an tergantung tinggi dan jenis,” jelas dia.

Dari usahanya tersebut, Suwarsono yang kesehariannya bekerja di Pondok Pesantren Al Kahfi itu mampu mengantongi Rp5 juta per bulan. Angka itu sudah laba bersih alias sudah dipotong biaya perawatan. “Kalau sepi ya paling Rp 1 juta.”

Omzet yang hampir sama didapat kolektor cabai ornamental lain, Harjanto, warga Perum Sawahan Indah 3 RT002/RW010, Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Koleksi Haryanto bahkan lebih bervariasi.

Ia memiliki varietas cabai terpedas kedua dunia, Carolina Reaper. Tingkat kepedasan cabai spesies Capsicum chinense itu menyentuh 1,5- 2 juta SHU. “Bayangkan saja, cabai rawit yang biasa kita konsumsi itu tingkat pedasnya hanya 100.000 SHU,” kata dia.

Selain itu, dia juga punya bibit Giant acongua yang bisa sebesar terong ukuran sedang, sweet italian seukuran botol sirup, hingga trinidad scorpion 7 pet prime yang bentuknya tak beraturan. Bapak empat anak itu memasarkan aneka biji cabai hias lewat websitenya, benihunik.com. Selain itu ia juga menjajal marketplace online  lain seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee.

Budidaya Mudah

Dari segi budidaya, cabai hias tak ubahnya holtikultura lain. Mulai dari awal tanam hingga panen langkahnya sama saja. Pekebun cabai hias asal Sawahan, Boyolali, Haryanto, mengaku mengepak biji kering bakal bibit ke dalam alumunium foil yang lantas ditempel cara budidaya. Langkah budidaya diawali dari persemaian kemudian media tanam utama.

“Biji kering direndam semalam, kemudian besoknya disemai di pot kecil. Jangan terlalu dalam memendam biji. Cukup setengah sentimeter. Siram pagi dan sore, tapi jangan sampai tergenang. Biji akan tumbuh 7-30 hari setelah semai. Letakkan di tempat terlindung atau bisa juga di bawah naungan atap plastik. Setelah muncul kecambah atau sprout, tunggu sampai muncul 4-5 daun baru dipindah ke pot besar,” kata Haryanto.

Pot bunga yang baik memiliki lubang di bawahnya sehingga sistem drainase tidak terganggu karena tanaman ini tidak menyukai air. Media tanamnya sendiri adalah campuran dari tanah humus, sekam, dan pupuk kandang (perbandingan 1:1:1 atau 2:1:1).

Menyoal perawatan, cabai hias yang diproyeksikan menjadi penghasil biji terbaik harus diperlakukan presisi. Misalnya, selalu menjaga sanitasi dan drainase agar tak terserang jamur.

Pembudidaya asal Jebres, Solo, Suwarsono, mengatakan saat cabai terserang jamur kecil kemungkinan diselamatkan sehingga lokasi budidaya harus bebas hama. Usahakan agar tak meletakkan pot di tanah, bisa digantung atau diletakkan di atas anjang.

“Sama seperti cabai biasa, musuh cabai ornamental ini ya tungai, trip, keriting, dan sebagainya. Perlakuannya sama dengan menyemprot antihama. Saya sendiri kalau gejalanya ringan cukup dipotong tidak sampai diobati. Paling waspada lalat buah. Buah biasanya saya bungkus untuk menghindari serangan,” paparnya.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Hal sama dilakukan untuk perawatan lain seperti pemupukan dan penyiraman. Pemupukan disarankan menggunakan pupuk organik, contohnya fermentasi urine kelinci. Sementara penyiraman menyesuaikan musim.

Tentang pemanenan, Suwarsono menyebut tak ada beda kecuali umur saat pemetikan buahnya. Agar biji yang dihasilkan banyak, cabai sebaiknya dipanen tidak terlalu tua. Cabai yang terlalu tua biasanya memiliki biji yang lebih sedikit. Akan lebih baik pembudidaya juga memerhatikan perubahan level warna untuk menyesuaikan masa panen.

Sumber:solopos

No comments

Powered by Blogger.