PM Baru Malaysia Jadi Momentum Negosiasi Ulang Aturan TKI




      Pemerintah Indonesia diharapkan bisa mengambil momentum dari pergantian pimpinan Malaysia. Dengan pergantian Perdana Menteri (PM) dari Najib Razak kepada Mahathir Mohamad, pemerintah Indonesia diharapkan bisa mengambil momentum untuk menegosiasikan kepentingan nasional.



Peneliti Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI), Adriana Elisabeth mengatakan, isu yang paling sering menimbulkan gesekan antara kedua negara adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Malaysia. Adanya pergantian PM baru di Malaysia, Indonesia bisa bernegosiasi untuk perbaikan layanan bagi pekerja Indonesia.



"Kasus kita ke Malaysia tentunya banyak soal tenaga kerja kita. (Dengan PM baru) diharapkan untuk ada perbaikan treatment TKI kita khususnya yang wanita, itu bisa mencontoh apa yang dilakukkan Taiwan," kata Adriana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 12 Mei 2018.

Adriana menambahkan, pemerintah Taiwan memberikan perlakuan yang lebih baik terhadap TKI dibandingkan dengan Malaysia. Ini terlepas banyaknya kasus TKI ilegal yang masuk ke Malaysia, sementara Taiwan menerapkan aturan yang lebih ketat namun memberikan treatment yang lebih baik jika dibandingkan negara tetangga.

"Jadi tenaga kerja kita yang mau berangkat (ke Taiwan) itu dikasih training, di pusat training yang cukup bagus. Kemudian mereka dikasih gaji yang cukup baik dan itu mereka transparan di awal, mereka dapat berapa, mereka kerja dengan siapa," jelas Adriana.

Tak hanya itu, TKI di Taiwan diberikan keleluasaan saat akhir pekan untuk bisa sekedar rekreasi dan tetap diperbolehkan untuk memegang paspornya. Menurut dia, perlakukan yang sama tidak didapatkan oleh TKI yang bekerja di Malaysia sehingga ketika terjadi masalah muncul ketegangan antar kedua negara.

"Itu peningkatan deal seperti itu yang harus dilakukan. Kalau kita tarik (TKI) Malaysia juga kolaps, tapi kalau kita tidak mengirim juga kita tidak punya lapangan pekerjaan. Jadi deal-nya itu tadi meningkatkan treatment kepada tenaga kerja kita di sana," pungkas Adriana.


Sumber : International

No comments

Powered by Blogger.