Berkat Teknologi Ini, Darah Manusia Bisa Produksi Plastik



Manusia memiliki sel darah merah yang fungsinya membawa oksigen ke dalam tubuh.

Melihat fakta menakjubkan tersebut, ilmuwan memanfaatkan sebuah teknologi yang bisa "menyulap" peran sel darah merah di mana mereka bisa memproduksi plastik. Lantas, bagaimana teknologi ini bisa bekerja?



Peneliti dari Universitas Melbourne Australia, Greg Qiao, mengungkap salah satu cara untuk menciptakan teknologi ini adalah dengan metode peran polimerisasi pada sel darah merah.



Menurut informasi yang dilansir Nature, Selasa (265/6/2018), polimerisasi yang dimaksud adalah proses produksi plastik dengan memanfaatkan rantai panjang dari beberapa molekul kecil.

Secara definisi, polimerisasi adalah reaksi kimia di mana ada dua gabungan molekul kecil untuk membentuk molekul yang lebih besar. Fase ini disebut dengan istilah polimer.

Dalam hal tersebut, Qiao menemukan sel darah merah memang memiliki material utama untuk proses polimerisasi.

Bersama timnya, Qiao mengembangkan teknik radikal hidroksil, sejenis golongan kimia yang terbuat dari oksigen dan hidrogen. Dari situ, radikal hidroksil dipakai untuk membentuk proses polimerisasi yang lebih mumpuni.

Qiao tidak menyebut kapan teknologi ini bisa digunakan dan diimplementasikan di ranah kesehatan.

Yang pasti, mereka masih melakukan tahap pengujian sebelum akhirnya masuk ke dalam uji coba yang lebih besar.

Sel Punca Pembentuk Darah Kini Bisa Dibuat di Laboratorium

Teknologi yang berhubungan dengan darah manusia seperti ini tentu bukan yang pertama kali. Tahun lalu untuk pertama kalinya, sel punca yang menghasilkan darah manusia telah berhasil diciptakan dalam laboratorium.

Sel-sel itu nantinya dapat dipakai merawat orang berpenyakit pada darahnya dengan menggunakan sel-sel mereka sendiri, bukannya melalui transplantasi sum-sum tulang dari seorang donor.

Selain menangani penyakit seperti leukemia, sel-sel punca yang dimaksud dapat dipakai menciptakan darah untuk keperluan transfusi.

Seorang peneliti bernama Carolina Guibentif di University of Cambridge yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan, "Ini hal penting. Jika orang bisa mengembangkan sel-sel itu dalam laboratorium secara aman dan dalam jumlah banyak, orang tidak usah lagi bergantung kepada para donor."

Pada orang dewasa yang sehat, sel-sel punca darah ditemukan dalam sumsum tulang, tempat penambahan pasokan sel-sel darah merah dan putih, serta platelet. Seperti diistilahkan George Daley di Harvard Medical School, "Sel-sel itu seperti biang sel."

Ketika sel-sel punca itu tidak menjalankan tugas seperti seharusnya, sel-sel itu gagal menjaga pasokan sel-sel darah dalam jumlah yang mencukupi.

Sebagai akibatnya, tidak cukup oksigen yang mencapai jejaring tubuh sehingga menyebabkan penyakit-penyakit serius jika berdampak pada organ semisal jantung.

Sel-sel punca darah juga bisa lenyap karena kemoterapi pada pengidap leukemia atau kanker lain.

Penderita penyakit-penyakit itu biasanya ditangani dengan sumsum tulang dari donor yang sehat, lengkap dengan sel-sel punca darah. Masalahnya adalah mencari donor yang cocok.

Ada kemungkinan 25 persen kecocokan jika donor berasal dari saudara sekandung yang sehat, tapi kecocokan menjadi satu di antara sejuta jika sum-sum berasal dari orang asing, demikian menurut Daley.

Pembuatan Sel

Dalam upaya menciptakan sel-sel punca darah dalam laboratorium, Daley dan rekan-rekannya memulai dengan sel-sel punca serbabisa (pluripotent) dari manusia, sehingga memiliki potensi membentuk hampir semua bentuk sel tubuh.

Tim itu kemudian mencari zat kimia yang dapat merangsang sel-sel punca itu menjadi sel-sel punca darah.

Setelah meneliti gen yang telibat dalam produksi darah, para peneliti mencirikan protein pengendali gen, lalu menerapkannya pada sel-sel punca yang mereka pakai.

Mereka menguji banyak kombinasi protein dan mendapati lima jenis yang bekerja bersama untuk merangsang sel punca menjadi sel punca darah.

Ketika dicobakan pada tikus, sel-sel punca itu menghasilkan sel darah merah dan putih baru, demikian juga dengan platelet.

Satu tim lain menghasilkan temuan yang sama dengan sel punca yang diambil dari tikus dewasa.

Raphael Lis dan rekan-rekan dari Weill Cornell Medical College di New York memulai dengan sel-sel yang diambil dari dinding paru hewan tersebut.

Hal itu didasarkan pada gagasan bahwa sel-sel serupa itu dalam embrio akhirnya membentuk sel-sel punca darah pertama.

Tim itu kemudian mencirikan 4 faktor yang dapat merangsang sel-sel punca paru menjadi sel punca darah.


Sumber : liputan 6

No comments

Powered by Blogger.