Modal Awal Pinjam Kakak, Maruf Produsen Bakpia Kebanjiran Order


Sebagian besar masyarakat Kota Keripik Tempe tidak ada yang mengelak jika Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, menjadi sentra industri bakpia. Pasalnya, lebih dari lima warga setempat mendirikan usaha produsen makanan ringan berbahan kacang hijau tersebut. Salah satunya Maruf, yang telah mendirikan usaha tersebut lebih dari dua tahun silam.


Aktivitas warga dalam menyambut Lebaran terlihat ketika Jawa Pos Radar Trenggalek ini berkunjung di Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan, kemarin (10/6). Mereka menghias beberapa sudut jalan dengan kertas dan baliho aneka warna-warninya. Ini dilakukan setiap tahun sekali.

Namun selain aktivitas tersebut, kesibukan juga dilakukan oleh para produsen bakpia desa tersebut. Itu karena banyaknya pesanan untuk sajian atau oleh-oleh Lebaran.

”Pesanan sudah banyak, makanya mulai hari ini (kemarin, Red) kami tidak bisa minta pesanan karena takut tidak bisa memenuhinya,” ungkap Maruf, pemilik usaha tersebut.

Itu dilakukan karena keterbatasan peralatan yang dimiliki. Sebab, dengan peralatan yang ada dan dibantu oleh 17 karyawannya yang diambil dari masyarakat terdekat, rata-rata tiap hari dirinya mampu memproduksi 800 kotak bakpia, dengan isi delapan bakpia tiap kotaknya. Selain itu, dirinya juga tidak mau terlalu memforsir energi karyawannya, mengingat mereka juga persiapan merayakan Lebaran.

”Semua karyawan di sini ingin merayakan Lebaran, makanya disepakati produksi berhenti sekitar H-1 Lebaran,” katanya.

Usahanya tersebut telah dirintis sekitar dua tahun silam. Saat itu, sepulang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia dan uang tabungannya telah menipis, dirinya bingung untuk memulai kerja sebagai apa. Sebab, dirinya tidak ingin kembali menjadi TKI setelah merantau sekitar satu tahun di negeri orang.

Dari situlah dia mulai ide membuat bakpia, mengingat sebelum menjadi TKI, pernah menjadi karyawan salah satu pabrik bakpia di Kota Pasuruan dan masyarakat setempat belum ada yang menekuni.

Dengan alasan itu, plus sisa pengetahuan yang ada, dia mulai membuat bakpia. Awalnya bakpia buatannya langsung dibagikan kepada beberapa tetangganya. Gayung pun bersambut, ternyata tetangganya  menyukai bakpia buatannya dan mulai memesannya.

”Alhamdulillah saat itu mereka suka. Beberapa di antaranya menyarankan saya untuk memproduksinya,” ujar pria 23 tahun ini.

Namun kala itu, Maruf tidak miliki modal untuk membeli bahan baku dan peralatan untuk membuat.  Kerena keterbatasan itu, dirinya meminjam uang sang kakak sebesar Rp 500 ribu untuk membeli oven dan beberapa bahan baku.

Setelah menyelesaikan pesanan tetangganya, dirinya terus membuat bakpia dan menitipkannya ke beberapa toko dan warung makan. Sedikit demi sedikit bakpia buatannya disukai masyarakat dan pesanan pun mulai banyak. Karena banyaknya pesanan, dirinya kewalahan memenuhinya. Dia pun merekrut karyawan dari masyarakat setempat.




Kini ada sekitar 17 karyawan dan peralatannya tersebut, dirinya mengerjakan berbagai pesanan.

“Setidaknya, selain menguntungkan dengan mendirikan usaha pembuatan bakpia ini, saya juga bisa membuka mata pencarian untuk masyarakat. Semoga saja setelah Lebaran, usaha ini bisa lebih berkembang,” jelas anak kedua dari empat saudara ini. 

Sumber:okezone 

No comments

Powered by Blogger.