Berlayar Malam Tanpa Lampu, Speedboat Pengangkut TKI Kecelakaan

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Rombongan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berlayar menggunakan speedboat mengalami kecelakaan di Perairan Pulau Sebatik, Jumat malam (29/6). Kejadian yang diketahui pukul 19.30 Wita itu mengangkut 19 penumpang. 5 di antaranya meninggal, 13 selamat, dan 1 orang masih dinyatakan hilang.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Berdasar laporan Polsek Sebatik Timur, ada 21 orang di atas speedboat nahas tersebut. Yakni, 15 penumpang dewasa, 2 anak, serta 2 ABK yang terdiri atas 1 motoris (nakhoda speedboat) dan 1 pembantu motoris.

Kepala Badan Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (BP3TKI) Nunukan Kombespol Ahmad Ramadan mengungkapkan, rombongan tersebut diperkirakan ditabrak speedboat lain di lepas pantai Pulau Sebatik. Lokasi kejadiannya 300-500 meter di utara Pulau Sebatik. "Sampai saat ini koordinat kecelakaan belum diketahui," katanya kepada Jawa Pos kemarin (30/6).

Speedboat diketahui milik Nacong Ahmad, warga Kecamatan Sebatik Timur. Motoris bernama Kairul alias Olong bin Selong yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Sementara itu, pembantu motoris, Bakkareng alias Bakka bin Yakub, saat ini diamankan di Polsek Sebatik Timur.

Penyebab pasti tabrakan masih ditelusuri. Namun, Ramadan menyebutkan bahwa insiden itu terjadi pada malam hari, sedangkan speedboat tidak dilengkapi dengan lampu penerangan. Speedboat tersebut berlayar dari Tawau, Malaysia, dan dalam perjalanan menuju Pulau Sebatik. Rata-rata TKI berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Namun, sebagian berasal dari Nunukan dan NTT.

Ramadan memastikan bahwa seluruh penumpang tersebut adalah TKI nonprosedural yang tidak dilengkapi dengan dokumen resmi. "Semuanya tidak punya paspor," katanya. Para TKI tersebut memang kerap memanfaatkan jalur penyeberangan Tawau-Sebatik karena dianggap lebih dekat dan lebih cepat. Jarak keduanya hanya sekitar 5 mil laut. Bisa ditempuh 20-40 menit.

Menurut dia, ada beberapa operator speedboat yang sengaja menyediakan jasa penyeberangan ilegal bagi para TKI tersebut. "Operatornya ilegal, perahunya juga tidak laik layar," bebernya.

Koordinator Bantuan Hukum Migrant Care Nurharsono mengungkapkan, selama ini para pekerja migran Indonesia (PMI) yang berasal dari NTT memang menggunakan jalur Nunukan untuk sampai ke Sabah, Malaysia. Jalur tersebut sering disebut sebagai jalur kultural karena dipakai sejak lama. Bahkan, untuk akses kembali ke NTT pun, mereka menggunakan jalur yang sama bila meninggalkan negeri jiran itu.

"Sampai sekarang masih berlangsung. Terkait dengan kejadian kecelakaan kapal yang mengakibatkan TKI meninggal, hal itu karena dampak dari kebijakan yang diskriminatif dari pemerintah Malaysia," ujar Nurharsono kepada Jawa Pos kemarin.

Dia menuturkan, pemerintah Malaysia menganggap TKI yang tak berdokumen sebagai pendatang haram yang harus dirazia dan dihukum. Tapi, berbeda halnya dengan majikan yang mempekerjakan. Ternyata, majikan itu relatif aman dan tidak dianggap sebagai majikan haram.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Dalam catatan Migrant Care yang bersumber dari berbagai laporan, setidaknya ada 43 TKI asal NTT yang meninggal dalam kurun enam bulan terakhir. Mereka meninggal dengan berbagai alasan, mulai sakit hingga kecelakaan. Berdasar data BNP2TKI, jumlah TKI dari NTT sejak Januari hingga Mei mencapai 849 orang. Jauh lebih banyak jika dibandingkan pada 2017 dengan 652 orang. Total TKI pada 2016 yang berasal dari NTT sebanyak 1.073 orang.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Adita Irawati menyatakan keprihatinannya terhadap peristiwa yang menimpa TKI di perairan Sebatik. 

Sumber:jawapos

No comments

Powered by Blogger.