Fenomena Rela Sakit Demi Like di Aplikasi Video Musik



      "Bunuh diriii ahk," tulis seorang wanita yang dalam video musiknya nekat menyeruput air yang sudah dicampurkan deterjen. Meskipun tidak tahu apakah wanita ini benar-benar meminumnya atau tidak, tentunya sangat bahaya bagi seseorang jika benar-benar mengonsumsi bahan kimia seperti itu.



"Sakit duhhh, tega yang gak like," tulis pemain aplikasi lain yang rela menjatuhkan dirinya ke sawah.

Fenomena seperti ini mulai sering ditemukan di aplikasi video musik yang detikHealth buka. Dari penelusuran kami, hampir beberapa video sejenis terbukti memang mendapatkan like yang banyak. Seperti apa tanggapan psikolog mengenai hal tersebut?



"Karena identitas diri yang belum matang, maka remaja mengukur keberhargaan dirinya melalui seberapa eksisnya mereka (seberapa banyak followers-nya, berapa banyak orang yang view, like, comment, share videonya). Semakin menjadi viral, semakin meningkat keberhargaan dirinya."

Karel Karsten Himawan, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan menjelaskan kepada detikHealth bahwa secara esensinya, aplikasi video musik seperti Tik Tok sama saja dengan media sosial yang sudah populer sebelumnya, seperti Facebook, Instagram, atau Twitter.

"Semua media sosial kan esensinya untuk mengekspresikan diri dan mengikuti bagaimana teman-teman atau orang-orang yang kita 'follow' mengekspresikan dirinya," kata Karel melalui pesan singkat, Selasa (3/7/2018).

Namun, karena fitur yang ditawarkan lebih 'hidup' yakni menggunakan video, musik, bahkan filter, aplikasi ini menjadi lebih booming di kalangan anak muda zaman sekarang. Akan tetapi, karena identitas diri yang belum matang mereka rentan salah dalam mengukur keberhargaan diri mereka.

"Karena identitas diri yang belum matang, maka remaja mengukur keberhargaan dirinya melalui seberapa eksisnya mereka (seberapa banyak followers-nya, berapa banyak orang yang view, like, comment, share videonya). Semakin menjadi viral, semakin meningkat keberhargaan dirinya," sambungnya.

Padahal, dengan menggantungan pengakuan dari jumlah like yang diterima justru akan berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Emosi si anak akan menjadi lebih fluktuatif. Misalnya ketika sebelumnya videonya tembus 1 juta like namun sekarang hanya berkisar di angka 50 ribu saja, tentunya hal ini akan membuat rasa gelisah bagi anak tersebut. Dampak jangka panjangnya bisa saja mengakibatkan depresi bagi si artis karena merasa dirinya tidak berharga lagi.

Maka dari itu, ayo semangat teman-teman semua! Ingatkan diri sendiri dan orang terkasih kalau kita semua punya kelebihan dan keunggulan masing-masing. Jangan lupa juga untuk memberikan apresiasi ke pada orang lain karena itu akan sangat berarti baginya.


Sumber : Detik

No comments

Powered by Blogger.