Korban Banjir Jepang 195 Jiwa, Ancaman Heat Stroke Intai Pengungsi

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Cuaca panas yang intens dan kekurangan air menimbulkan kekhawatiran wabah penyakit di Jepang barat yang dilanda banjir. Sementara itu korban tewas dari bencana cuaca terburuk selama 36 tahun itu mendekati angka 200 jiwa.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Lebih dari 200 ribu rumah tangga tidak memiliki air seminggu setelah hujan lebat menyebabkan banjir dan tanah longsor di Jepang barat.

"Jumlah korban tewas meningkat menjadi 195, dengan beberapa lusin orang masih hilang," kata pemerintah Jepang seperti dikutip dari Reuters, Kamis (12/7/2018).

Dengan suhu harian di atas 30 Celcius dan kelembaban tinggi, kehidupan di gimnasium sekolah dan pusat evakuasi lainnya, di mana keluarga hidup di atas lantai beralaskan tikar, mulai mengambil korban.

Tayangan televisi menunjukkan seorang wanita tua mencoba tidur dengan berlutut dengan tubuh bagian atasnya di kursi lipat, lengan di atas matanya untuk menghindari cahaya.

Dengan beberapa kipas angin portabel di pusat-pusat evakuasi, banyak dari para pengungsi mencoba mendinginkan diri mereka sendiri dengan kipas kertas.

Menurut pihak berwenang pasokan air yang terbatas membuat para pengungsi tidak mendapatkan cukup cairan dan terancam terkena heat stroke. Heat strok adalah kondisi kepanasan ekstrim yang dapat berakibat fatal jika tak segera diatasi.

Para pengungsi juga enggan menggunakan air yang mereka miliki untuk mencuci tangan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran epidemi.

“Tanpa air, kita tidak bisa benar-benar membersihkan apa pun. Kami tidak bisa mencuci apa pun,” kata seorang pria kepada televisi NHK.

Pemerintah Jepang sendiri telah mengirim truk air ke daerah bencana, tetapi persediaan masih terbatas.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Lebih dari 70.000 militer, polisi dan pemadam kebakaran bekerja keras melalui puing-puing untuk mencari korban hilang.

Beberapa tim menyekop kotoran ke dalam karung dan menumpuk kantong ke dalam truk. Lainnya menggunakan penggali dan gergaji untuk melewati tanah longsor dan puing bangunan.

Banyak daerah yang terkubur lumpur berbau seperti limbah dan mengeras karena panas, membuat pencarian korban menjadi lebih sulit.

Sumber:sindonews

No comments

Powered by Blogger.