Menganyam Untung dari Kreasi Berbahan Tanaman Liar

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Melimpahnya rotan dan rerumputan di alam Indonesia mengusik tangan kreatif untuk memanfaatkannya sebagai bahan baku kerajinan. Seperti Manggar Natural asal Yogyakarta yang menganyam rotan dan daun pandan menjadi tas, kotak laundry dan vas.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Arif Kundono, Manager Manggar Natural mengatakan, ragam tanaman yang bisa menjadi bahan kerajinan mendorong kreativitas perajin untuk memanfaatkannya. Sebelum memadukan rotan dengan daun pandan, Manggar Natural memakai  eceng gondok sebagai bahan baku produk tersebut. Namun, belakangan ini tidak lagi digunakan karena membutuhkan penanganan khusus dan rumit.

Untuk produksi, Manggar Natural menjalin kerjasama dengan sejumlah ibu rumah tangga di kawasan Kulon Progo dan Bantul. Mereka menjadi penganyam. Saat ini ada sekitar 50 orang yang bergabung.

"Awalnya kami datang dengan membawa trainer untuk mengajarkan mereka (ibu rumah tangga) yang memang mau untuk ikut. Setelah dianggap mampu mereka kami jadikan tenaga lepas," jelasnya.

Kerjasama ini dianggap saling menguntungkan karena dapat menekan biaya produksi untuk perusahaan sekaligus meningkatkan taraf hidup warga.

Arif mengatakan, upah yang dihasilkan dari menganyam produk mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hanya, kendala yang kerap dihadapi adalah jadwal bekerja yang tidak menentu dari perajin.

"Bila ada acara pernikahan atau orang meninggal, pasti mereka (perajin) tidak bekerja," tambahnya. Sehingga, tim harus pintar-pintar menghitung waktu proses pengerjaan dengan jadwal pengiriman barang ke konsumen.

Dengan mengandalkan tenaga dari penganyam dengan proses produksi tradisional (handmade) dalam sebulan total produksi mereka hanya mencapai 300 pieces.

Meski terbatas, produk natural ini laris manis di pasar dalam dan luar negeri. Harganya dibanderol mulai dari Rp 50.000 sampai dengan Rp 500.000 per pieces.

Untuk tahun ini, Arif mengatakan, Manggar Natural bakal fokus menggarap pasar lokal. Alasannya, daya beli konsumen lokal dianggap lebih besar dan sulitnya proses pengiriman barang ke luar negeri.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Kini, produknya pun mulai menghiasi halaman berbagai marketplace. Selain itu, media sosial seperti Instagram dan Facebook pun digunakan untuk menjaring konsumen.

Perlahan namun pasti pasar lokal pun mulai terbentuk. Dan kebanyakan penggemar produknya adalah kalangan anak muda dengan rentang usia 18 tahun sampai 35 tahun. Maklum saja, desain yang ditampilkan oleh label indie Kota Gudeg ini simpel dan kekinian. 

Sumber:kontan

No comments

Powered by Blogger.