Siapa Sangka, Kerupuk Rambak Asal Kendal Ini Ternyata Digemari Masyarakat Internasional

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Kerupuk rambak asal desa Penanggulan, Kendal ternyata  digemari oleh masyarakat Internasional. Tak jarang pesanan dari Malaysia dan Hongkong untuk membeli kerupuk rambak asli dari desa yang menjadi sentra produksi Kerupuk Rambak asli Kabupaten Kendal itu.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Cita rasa yang enak, gurih dan renyah dari cemilan ini membuat siapa saja yang menikmati kerupuk rambak ini akan terus ketagihan menyantap makanan yang berbahan dasar kulit sapi dan kerbau itu.

Seorang pengusaha kerupuk rambak Desa Penanggulan, Muhammad Munir mengatakan usaha home industri miliknya ini sudah berjalan sejak tahun 1980.

Dirinya merupakan generasi ke tiga dari usaha kerupuk rambak yang dirintis oleh kakeknya terdahulu.

Untuk mejaga kualitas dan rasa dari kerupuk rambak, dirinya sangat memerhatikan sekali setiap proses produksi kerupuk rambaknya.

"Untuk membuat kerupuk rambak banyak langkah yang dilakukan. Mulai dari perebusan, pengerokan, penjemuran, pemotongan kecil-kecil, pengungkepan, penjemuran yang ke dua kemudian penggorengan," ujarnya, Rabu (4/7)

Untuk menciptakan tekstur yang renyah dalam proses penggorengannya pun harus melalui tiga kali tahap penggorengan.

Yakni penggorengan dengan suhu rendah yakni 40 derajat Celsius, dilanjutkan lagi penggorengan dengan suhu 70 derajat Celsius dan pada penggorengan terakhir yakni pada suhu 300 derajat celsius.

"Kunci cita rasa yang enak berada pada proses pengungkepan. Pada proses ini kulit sapi atau kerbau diungkep menggunakan minyak dari gajih (lemak) sapi yang dilelehkan. Proses pengungkepan pun cukup lama yakni 12 jam hingga 24 jam tergantung usia dari kulit sapi yang disembelih," ujarnya

Ia mengaku dalam sebulan ia mampu memproduksi kerupuk rambak sebanyak 1 kuintal. Omzetnya pun cukup menggiurkan yakni 15-20 juta tiap bulannya.

"Harga ukuran 250 gram di jual  40 ribu dan yang 500 gram harganya 80ribu. Biasanya penjualan paling tinggi yakni pada lebaran. 2.000 kardus ukuran 500 gram saya habis terjual sebelum lebaran," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Penanggulan, Ria Setianingsih mengatakan di desanya terdapat 13 Perajin Kerupuk Rambak yang hingga saat ini masih eksis.

"Saat ini kami sedang mendorong memasarkan melalui online. Hal itu berdampak positif dengan banyaknya pesanan dari luar negeri seperti di Malaysia, Singapura dan Hongkong," paparnya
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Ia manambahkan meski digemari oleh masyarakat, ia mengaku para pengrajin kerupuk rambak mengalami kesulitan menyetok bahan dasarnya. Bahkan para pengrajin hingga mencari stok hingga luar jawa.

"Yang menjadi khas itu kerupuk kerbau, sedangkan saat ini kerbau sangat sulit didapatkan.Bahkan para pengrajin hingga mengambil stok dari Minahasa," pungkanya.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.