Terdakwa Kasus Perdagangan dan Penipuan TKI di Semarang Diputus Bebas

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Sidang putusan kasus perdagangan orang atau penipuan tenaga kerja Indonesia (TKI) digelar di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis (6/7). Windi Hiqma Ardani, Direktur PT Sofia Sukses Sejati, terdakwa tunggal dinyatakan bebas dari tuduhan yang disangkakan kepadanya.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Dalam pembacaan vonisnya, ketua majelis hakim, Pudjiastuti Handayani, menyebut Windi tak bersalah secara pidana. "Bersalah, tapi tidak masuk dalam perbuatan pidana, melainkan perdata. Atas pertimbangan itu, terdakwa dinyatakan bebas," ujarnya.

Menurut Hakim, kasus ini adalah bentuk kesalahan administrasi dimana terjadi kekeliruan dalam penempatan tenaga kerja melalui PT. Sofia Sukses Sejati. Dikatakannya pula, terdakwa telah dihukum Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja dengan skors pada PT Sofia Sukses Sejati selama tiga bulan.

Masih dalam pertimbangan itu, hakim juga meminta agar nama baik Windi dipulihkan setelah putusan memiliki kekuatan hukum tetap.

Sebelumnya, oleh Jaksa Penuntut Umum, Windi dinyatakan bersalah dan dituntut untuk dikenakan Pasal 4 jo Pasal 48 UU No. 21/2017 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Yang bersangkutan dituntut hukuman penjara 6 tahun serta membayar ganti rugi kepada korban Rp 1,1 Miliar lebih.

Windi dituduh telah melakukan penipuan kepada ratusan TKI yang merupakan lulusan SMK di Jateng, yang dikirim ke Malaysia melalui perusahaannya PT Sofia Sukses Sejati. Ia disebut menawarkan kepada para lulusan SMK itu bekerja sebagai TKI di PT Kiss Production Food Trading di Malaysia dengan gaji RM 900 hingga RM 1000.

Akan tetapi, setibanya di Negeri Jiran, para TKI tadi ternyata tak diperkerjakan di PT Kiss, namun PT Maxim Birdnest. Upah diterima pun tak sesuai seperti dijanjikan, karena adanya sejumlah potongan. Macam uang sewa kamar, pajak, dan setoran ke PT. Sofia Sukses Sejati. Belum lagi, harus ditangkap pihak imigrasi Malaysia karena tidak mengantongi surat izin bekerja di luar negeri.

Menanggapi vonis itu, Kepala Bidang Hukum Migrant Care, Nur Harsono menyebut hakim mengabaikan keterangan saksi yang memberatkan terdakwa. "Kami sangat kecewa dengan keputusan ini. Nampaknya yang jadi pertimbangan hanya yang meringankan saja," ucapnya saat dijumpai selepas sidang.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Indikasi berat sebelah, sebagaimana dibeberkan Nur itu terlihat sejak ditundanya putusan sidang sebanyak tiga kali dan dikabulkannya permohonan terdakwa menjalani tahanan rumah. ‎

Sementara Jaksa Agung melalui, Jaksa Fungsional Kejari Semarang, Zahri Aeniwati, menyatakan akan pikir-pikir terkait vonis hakim ini. “Kalau upaya kasasi mungkin akan kami lakukan. Namun, saya harus koordinasi terlebih dulu dengan Kasipidum. Nanti kita lihat perkembangan,” imbuhnya.

Sumber:jawapos

No comments

Powered by Blogger.