TKI Asal Bantul Tewas di Korea, Ibu Korban Tak Percaya: Masa Habis WA Kok Meninggal



    Sumarsih (43) Ibu kandung Wiwit Sutrisnoputro (25), TKI asal Bantul, Yogyakarta yang meninggal di Korea Selatan ungkapkan sempat berkirim kabar lewat telepon dengan putranya melalui aplikasi pesan singkat.



Wiwit merupakan anak pertama dari pasangan Ngadino (50) dengan Sumarsih.

Wiwit mengalami kecelakaan kerja di sebuah perusahaan manufaktur bidang operator las pada Rabu (18/7/2018).



Dilansir Tribun-Video.com dari Kompas.com, Sumarsih sempat bercerita, sebelum mendengar kabar duka tersebut, dirinya dan Wiwit sempat bertelepon seusai Magrib, namun tiba-tiba sambungan terputus dan Wiwit tak merespon pesan yang dikirim Sumarsih.

"Sebelum kecelakaan enggak bales, enggak ngerespon. Saya telepon sudah enggak diangkat," ujar Sumarsih di rumahnya Jumat (20/7/2018).

Kecurigaan dan rasa tidak tenang Sumarsih benar terjadi setelah orangtua teman kerja Wiwit memberi kabar bahwa Wiwit mengalami kecelakaan kerja.

Sumarsih sempat tak percaya saat mendapat kabar anaknya meninggal.

Dari informasi yang diperolehnya, Sumarsih menjelaskan Wiwit terjatuh ke rendaman besi panas saat akan memperbaiki mesin.

"Saya enggak yakin dapat kabar kayak gitu. Masak habis WA kok meninggal. Pak Carik, Pak Dukuh, juga sudah dihubungi, dikasih kabar kalau anak saya sudah meninggal. Malam itu (pengurus kampung) langsung ke sini," ujar Sumarsih.

Namun rasa tidak percayanya itu lenyap saat Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bina Insani Group Yogyakarta memberitahukan hal yang sama.

Kepolisian Korea Selatan juga telah menyelidiki dan menyimpulkan bahwa korban meninggal karena kecelakaan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul Heru Suhadi mengaku mendapat informasi meninggalnya Wiwit dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI).

Saat ini BP3TKI sedang mengurus kepulangan jenazah korban, sambil berkoordinasi dengan KBRI Seoul.

Namun, saat ini pihaknya belum mengetahui kapan jenazah akan tiba di rumah duka di Dusun Jalakan, Desa Triharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Yogyakarta.


Sumber : Tribun

No comments

Powered by Blogger.