Gagal Berangkat ke Korsel, 17 Calon TKI Polisikan Agen Penyalur

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Sebanyak 17 calon tenaga kerja Indonesia (TKI) melaporkan seorang perempuan berinisial HEN ke Bareskrim Polri. Mereka mengaku ditipu oleh HEN karena tidak jadi diberangkatkan ke Korea Selatan.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Pengacara para korban, Masayu Donny Kertopati, mengungkapkan para korban awalnya mengetahui adanya info lowongan kerja di Korsel yang ditawarkan HEN pada Mei 2018.

"HEN ini di Bekasi punya semacam perkumpulan pengusaha wanita. Di situ dia sebarkan info lowongan kerja di perhotelan di Korea Selatan dengan posisi sebagai asisten chef, waitress, dan room boy," kata Donny kepada detikcom, Rabu (29/8/2018).

Para korban rata-rata hanya lulusan SMA yang berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Indramayu, Bangka, dan Aceh. Mereka tertarik bekerja di Korsel karena mendapat tawaran gaji fantastis hingga keuntungan lainnya.

"Teman-teman (korban) ini nggak sadar. Seharusnya kan kalau bekerja di luar negeri itu ada PJTKI. Ini kan perorangan yang menawarkan, tapi mereka percaya begitu saja," ujarnya.

Para korban dijanjikan mendapatkan gaji bulanan Rp 23 juta dalam bentuk mata uang Korea, diberi mes dan jatah makan tiga kali sehari, sistem bekerja 6 hari bekerja dalam seminggu dengan jam kerja 8 jam setiap hari.

"Mereka juga dijanjikan memperoleh tambahan dan bonus apabila masuk lembur dan bekerja di hari raya," imbuhnya.

Keuntungan lainnya, para korban mendapat jatah libur 2 minggu setiap tahun dengan biaya transportasi ditanggung oleh pihak hotel, mendapat asuransi jiwa. Selain itu, visanya adalah visa kerja dan legal.

Singkat cerita, para korban kemudian mendaftarkan diri kepada HEN untuk bekerja sebagai TKI. Tetapi, sebagai salah satu syarat, para korban diwajibkan membayar uang Rp 15 juta dengan alasan untuk biaya pengurusan tiket dan visa.

"Nah, yang belum punya paspor, itu (bayarnya) ditambah Rp 1,5 juta, jadi totalnya Rp 16,5 juta," ucapnya.

Untuk meyakinkan korban, HEN memperlihatkan selembar tiket ke Korea Selatan atas nama korban William, yang sudah membayar lunas biaya pendaftaran. Namun belakangan diketahui bahwa nomor booking pesawat yang tercantum dalam tiket merupakan nomor booking penerbangan tahun 2017.

Para korban kemudian didesak segera membayar uang administrasi tersebut ke rekening atas nama HEN. HEN saat itu menjanjikan akan memberangkatkan para korban pada Juli 2018.

Para korban akhirnya membayarkan uang tersebut. Total uang yang disetorkan oleh 17 korban saat itu sekitar Rp 200 juta.

"Karena alasannya Juli itu Lebaran, kemudian keberangkatan dimundurkan jadi tanggal 28 Agustus 2018, kemarin seharusnya," ujarnya.

Sebelumnya, pada 23 Agustus 2018, HEN mengumpulkan para korban di Hotel Royal Kuningan dengan alasan untuk di-briefing oleh user dari Korea. Saat itu pula para korban dijanjikan akan diberangkatkan dalam dua kelompok, yakni pada 28 Agustus dan antara 10-20 September 2018.

"Tetapi karena saat itu ditunggu sampai jam 6 sore nggak ada yang datang, akhirnya kita laporkan ke Bareskrim Polri," ungkapnya.

Saat itu HEN menolak mengganti rugi uang para korban dengan alasan bahwa uangnya sudah disetorkan kepada seseorang yang disebutnya sebagai koordinator program bernama RON. HEN juga tidak bisa menghadirkan RON, sehingga kemudian para korban melaporkannya ke Bareskrim Polri.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Laporan korban tertuang dalam surat tanda terima laporan (STTL) bernomor: STTL/8724/VIII/2018/BARESKRIM tanggal 29 Agustus 2018 atas tuduhan Pasal 378 KUHP tentang penipuan/perbuatan curang.

detikcom telah mencoba mengkonfirmasi laporan ini kepada HEN. Namun, hingga berita ini diturunkan, HEN tidak menjawab pesan detikcom yang dikirim via WhatsApp. 

Sumber:detikcom

No comments

Powered by Blogger.