Jangan Bebani Diri Sendiri dengan Basa-Basi Nggak Penting dari Orang Lain



      Kapan? Merupakan kata tanya yang akan selalu kita dapat. Dan menurutku kata kapan ini akan kita dengar selama kita hidup. Entah pertanyaan itu tentang kapan lulus kuliah? Kapan nikah? Kapan nih punya anak? Atau kapan kapan yang lainnya. Semacam itu akan selalu kita dengar. Ya memang “kapan” memang menjadi momok bagi sebagian orang. Itu akan sering didapat bagi orang yang mengalami pengunduran waktu. Seperti kuliah tidak segera lulus atau sudah berumur tapi belum nikah-nikah. Sebenarnya itu merupakan pertanyaan yang wajar. Akan tetapi, pertanyaan ini akan jadi sesuatu yang malas untuk ditanggapi jika keluar dari orang-orang yang sibuk mengurusi hidup kita. Ya itu akan sangat menyebalkan.



Daripada tanya kapan aku lebih suka mendengar tanya bagaimana. Kapan adalah pertanyaan yang membuat aku risih. Sebenarnya tidak semua tanya kapan membuatku risih. Aku lulus sekolah dengan nilai yang lumayan, kuliah juga tidak lulus pada waktunya, bahkan sebelum lulus kuliahpun aku sudah mendapat pekerjaan yang pas. Tetapi dalam hal “menikah”, menurut mereka aku tidak tepat waktu. Memang aku tidak menikah sesuai targetku tapi itu bukan masalah yang wow untuk diriku. Orang-orang di sekitarku lah yang membuat seakan-akan itu masalah yang urgent. Mereka mulai mengeluarkan pertanyaan kapan. Kapan nikah, udah berumur loh ayo kapan nikah, lulus udah kerja udah kapan nih nikah, dan lain sebagainya. Seakan-akan aku ingin membungkam mulut mereka.



Semua pertanyaan kapan dari orang-orang itu awalnya tidak aku gubris. Akan tetapi mereka mulai bertanya kepada kedua orang tua ku. Orangtuaku yang awalnya biasa saja karena aku belum menikah-nikah menjadi sering bertanya padaku, bahkan kadang mendesakku untuk segera menikah. Kadang pula hal itu membuatku sering bertengkar dengan ibuku. Sebenarnya kalau ditanya kapan nikah memang aku juga ingin segera menikah, tapi kan menikah itu tidak segampang membalikkan tangan. Butuh proses dan kecocokan hati. 

Pertanyaan kapan memang tidak ada habisnya. Kalau kita menanggapinya dengan perasaan pasti akan berbuah baper dan membuat hati semakin tidak tenang. Awalnya aku juga menanggapi semua itu dengan hati, membuat aku jadi sering uring-uringan sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat semua itu menjadi mudah. Jika pertanyaan-pertanyaan itu membuat aku resah maka aku akan cuek dan nggak mau tahu dengan mereka. Aku anggap angin yang lewat. Karena dengan cuek itu aku merasa lebih nyaman, daripada aku tanggapi serius aku malah jadi baper sendiri.

Ketika pertanyaan tentang kapan menikah sudah bisa aku lewati. Ya, aku akhirnya menikah. Aku merasa senang. Aku berpikir dengan statusku yang sudah menikah maka tidak akan ada lagi pertanyaan tentang kapan yang kudengar. Tetapi ternyata tidak berhenti di situ. Ya, aku memang sudah menikah, tapi ternyata ada pertanyaan lagi yang muncul lagi.

Sudah jelas maka pertanyaan selanjutnya yang keluar adalah, “Kapan nih punya anak?" Setelah menikah memang aku tidak langsung bisa hamil. Tidak menunda memiliki anak, tapi memang belum dikasih oleh yang di atas. Karena aku belum ada tanda-tanda kehamilan, maka orang bertanya kok belum hamil mbak, kapan nih dapat momongan atau ini lho mbak minum obat ini, coba cek ke dokter atau pertanyaan lainnya. Itu semua membuatku tertawa dan aku anggap itu adalah bentuk perhatian mereka kepadaku. Karena jika aku tanggapi secara serius dan mendalam akan membebani padaku. Aku hanya berharap dengan perhatian mereka itu aku mendapat dukungan dan doa-doa dari mereka untuk kebaikanku.

Pertanyaan kapan tidak akan selesai di satu titik tujuan kita saja. Tidak hanya berhenti di saat kita lulus sekolah atau kuliah, atau saat kita sudah menikah atau bahkan setelah menikah. Itu akan selalu ada dalam perjalanan hidup setiap orang. Entah itu pertanyaan keluar dari mulut orang lain atau keluar dari batin kita sendiri. Memang mengganggu kita, tapi cobalah ambil positif itu. Jadikan itu motivasi untuk kita. Jika kita ditanya kapan nikah maka jawablah doakan saja supaya segera bias menikah atau jawaban yang membuat kita nyaman. Jadi, jika kapan itu membuat sakit hati maka cueklah dengan kapan itu, tapi jangan menghindar dari pertanyaan kapan. Jawablah dengan doa dan candaan yang menyenangkan.

Sumber :

No comments

Powered by Blogger.