Jumlah TKI Sumsel Meningkat, Malaysia dan Singapura Jadi Negara Tujuan Favorit

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Palembang mencatat sampai dengan Bulan Juli 2018 ini jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bersal dari Sumatera Selatan mencapai 975 orang.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Jumlah tersebut sedikit mengalami peningkatan dari periode serupa tahun sebelumnya sebanyak 968 orang.

Dari total jumlah tersebut sebagian jumlah TKI ini didominasi dari Tenaga Kerja Wanita (TKW).

Kepala BP3TKI Palembang, Sri Haryanti mengatakan, bekerja sebagai TKI masih menjadi pilihan masyarakat Sumsel dengan tujuan dapat memperbaiki kondisi perekonomian keluarga.

Menurutnya, dari tiga provinsi yang dibawah naungan pihaknya, yakni Sumsel, Bengkulu dan Bangka Belitung hanya Sumsel yang konsisten selalu menyumbangkan TKI ke luar negeri.

"Dari jumlah total TKI di tahun ini lebih dari separuhnya menyasar jenis pekerjaan di sektor manufaktur (formal). Kemudian, lebih dari separuh jumlah yang ada ini kebanyakan TKI merupakan TKW," ungkap Sri, Selasa (28/8/2018).

Hal ini, kata Sri, menjadi sedikit gambaran perbedaan TKI yang diberangkatkan ke luar negeri dari Provinsi Sumsel jika disandingkan dengan Pulau Jawa yang lebih di dominasi pekerja di sector informal, seperti asisten rumah tangga.

“Artinya banyak TKI yang saat ini bekerja sebagai tenaga ahli di sejumlah pabrik-pabrik di luar negeri," katanya.

Untuk negara tujuan, Malaysia masih menjadi tempat peraduan nasib yang mendominasi tujuan keberangkatan dari TKI ini, kemudian diikuti Singapura dan Hongkong.

Sri melanjutkan, adapun yang menjadi kendala TKI sejauh ini masih masalah klasik, seperti cukup besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk bagi calon TKI.

Biaya itu murni untuk kebutuhan dari calon TKI sendiri seperti kebutuhan kepelatihan, visa, tiket dan sebagainya.

“Akibatnya tak jarang sejumlah TKI meminjam dana ke rentenir yang memiliki bunga besar, sehingga menyulitkan TKI dalam pengembaliannya. Meskipun saat ini sudah ada KUR dari bank BUMN yang dikhususkan untuk TKI,” katanya.

Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sumsel, Afrian Jon mengatakan, alasan TKI masih menjadi pilhan untuk bekerja karena pertimbangan penghasilan yang didapatkan lebih besar jika dibandingkan dengan bekerja di dalam negeri.

Kemudian, jumlah serapan tenaga kerja dalam negeri sendiri cenderung lebih kecil dari pada jumlah pencari kerja yang ada.

"Tak kalah pentingnya, dari sisi kualitas Sumber Daya Manusia (SDA) yang ada. Dimana rata-rata pwncari kerja ini belum memiliki skill tertentu, yang dibutuhkan oleh perusahaan yang ada di dalam negeri," katanya.

Untuk itu, Pemprov Sumsel sendiri sebenarnya sudah mengajukan surat kepada Kementerian Perindustrian untuk pembangunan Balai Latihan Kerja Industri, sehingga SDA yang di Sumsel nantinya dapat memiliki keterampilan sesuai dengan potensi kebutuhan kerja yang ada di Sumsel.

"Misalnya Sumsel ini ada industri pengolahan karet, kelapa sawit, kopi dan sebagainya. Tentu nanti yang dibutuhkan adalah tenaga kerja yang mengerti di bidang tersebut. Sehingga SDA yang ada sudah siap untuk dipekerjakan," ujarnya.

Jangan sampai, lanjut Jon, saat di Sumsel sendiri sudah berdiri berbagai perusahaan hilir dari komoditas yang ada malah SDA yang yang tidak siap, sehingga nantinya pekerja yang diambil berasal dari luar Sumsel.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
"Hal seperti ini juga yang telah dilakukan Gubernur Sumsel di sektor UMKM. Dimana Pemprov Sumsel sudah menandatangani kerjasama dengan Kementerian Perdagangan untuk bantuan pembangunan pasar kuliner dan kerajinan, dengan demikian nantinya dapat membantu pelaku usaha tersebut dalam memasarkan produk-produk mereka," ujarnya.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.