Kondisi Ekstrem Wanita yang Jadi Kasar dan Ingin Bunuh Diri karena PMS



      Mengalami pre menstruation syndrome atau PMS menjelang menstruasi adalah hal yang normal terjadi pada wanita. Gejala PMS biasanya diikuti dengan emosional yang tidak stabil, perut nyeri, kram perut hingga timbulnya jerawat.



PMS yang dirasakan wanita berbeda-beda, ada yang mengalami gejala ekstrem hingga tidak sanggup beraktivitas dengan normal, ada pula yang hanya hanya mengalami gejala ringan. Namun hal yang berbeda dialami Emily-Jane Yates.



Setiap kali PMS datang, hidupnya berubah drastis. Ia menjadi wanita yang kasar bahkan pernah berpikir untuk bunuh diri karena gejolak emosi yang tak stabil.

Wanita asal Bolton, Greater Manchester, Inggris, ini, mengalami kondisi yang disebut premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Gejala PMS ekstrem yang menyebabkan penderitanya sangat gampang marah, merasakan cemas berlebihan hingga depresi. Kondisi ini umumnya ia alami dua minggu sebelum menstruasi.

Pada hari-hari normal, Emily adalah pribadi yang santai, tidak mudah marah. Namun begitu periode menstruasi mendekat, ia menjadi sosok yang agresif baik pada orang asing maupun keluarga sendiri, bahkan kekasihnya juga kerap jadi 'korban' pelampiasan emosinya.

Ada kalanya wanita 26 tahun ini berharap dia bisa tidur dan tidak pernah bangun lagi karena tidak sanggup mengontrol emosi yang membuatnya menyakiti orang lain. Termasuk sang kekasih, Stefano Farina.

"Gejala paling buruk dari PMDD bagiku adalah kemarahan. Seperti mengambil alih seluruh tubuhku. Dimulai dari (rasa sakit) di perut dan kemudian rasa panas menjalar ke tubuh hingga kemarahanku membuncah," ujar Emily, seperti dikutip dari Daily Mail.

Seperti orang mabuk atau berada di bawah pengaruh obat-obatan, Emily tidak pernah bisa mengingat apa saja yang telah ia lakukan atau ucapkan ketika PMDD menyerang. Bisa jadi yang jadi korban amarahnya adalah orang yang dicintainya atau benar-benar orang asing.

"Aku tidak seperti itu. Benar-benar bertolak belakang dengan diriku sebenarnya. Dalam dua minggu kondisi normalku, aku orang yang cinta damai dan tidak akan pernah melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain. Tapi dalam minggu-minggu yang buruk aku bisa jadi agresif dan kasar. Hanya karena hal kecil yang mengganggu aku bisa berteriak-teriak pada orang lain di jalan," ungkapnya.

Selain emosi yang naik-turun, gejala PMDD lain yang dialaminya adalah derealisasi. Kondisi di mana seseorang merasa terasingkan. Ia merasa hidup dalam mimpi dan tidak mengenal waktu saat itu. Emily sering kali tidak bisa membedakan realitas dan khayalan.

"Aku menderita derealisasi di mana aku tidak yakin apakah sesuatu itu nyata. Aku pernah bangun dan merasa ada 50/50 kemungkinan kalau kekasihku sudah meninggal. Dia sedang tidak ada di rumah tapi otakku yakin kalau dia meninggal. Aku merasa telah berduka selama beberapa minggu tapi ternyata dia hanya pergi kerja," jelas Emily.

Tubuhnya juga jadi sangat mudah kelelahan. Berprofesi sebagai petugas kebersihan, saat mengalami gejala PMDD tubuh Emily jadi terasa sangat lemah. Ia tidak sanggup mengangkat penyedot debu bahkan untuk berjalan beberapa langkah saja rasanya seperti memanjat tebing.

Mengalami kondisi ekstrem, Emily pernah mencoba mengatasinya dengan mengonsumsi antidepresan. Namun obat-obat tersebut hanya 'menyamarkan' gejala PMDD-nya dan justru membuat tubuhnya bertambah sakit.

Emily akhirnya mendatangi sesi terapi untuk mengontrol perilaku ekstrem nya saat PMDD mendera. Terapi tersebut membantu Emily mengontrol emosi dan menenangkannya, meskipun tidak secara signifikan, karena PMDD memang tidak ada obatnya.

"Terapis memang tidak bisa mengobatiku tapi dia memberiku banyak metode untuk mengatasi PMDD dan perubahannya sangat positif. Aku sekarang lebih menerima bahwa ini memang terjadi padaku ketimbang melawannya," kata Emily lagi.

Diikuti dengan makan sehat, olahraga, lebih banyak jalan ke luar rumah dan minum air yang cukup sedikit banyak membantu Emily mengatasi kondisinya tersebut. Ia juga rutin mengonsumsi vitamin dan asam amino untuk meningkatkan level serotonin (hormon bahagia atau pencegah depresi) dalam tubuhnya.

"Cara-cara itu tidak ada yang bisa menyembuhkan tapi cukup membantuku sedikit punya kontrol dan kualitas hidupku benar-benar membaik," pungkas Emily.


Sumber : wollipop

No comments

Powered by Blogger.