Presiden Taiwan ke AS dan 2 Negara Sahabat, Perkuat Dukungan dari Tekanan China?



      Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, sejak Minggu 12 Agustus 2018, telah bertolak ke Amerika Serikat serta dua negara lain yang memiliki hubungan diplomatik dengan Taipei. Keseluruhan kunjungan itu berlangsung pekan ini.



Tsai, pada Minggu 12 Agustus akan bertolak ke Paraguay, satu-satunya sekutu Taiwan di Amerika Selatan, dan negara kecil di Amerika Tengah, Belize.



Ia dijadwalkan singgah di beberapa kota di Amerika Serikat, Los Angeles dan Houston, untuk mengikuti acara yang oleh sebagian kalangan diharapkan akan memperlihatkan kekuatan hubungan Taiwan-AS.

Kunjungan itu dilaksanakan di tengah tekanan dari China --yang ingin menghapus semua hubungan negara asing pada pulau itu secara internasional. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia Selasa (14/8/2018).

Sebelumnya, Tsai Ing-wen pernah bersumpah bahwa "tidak ada yang dapat melenyapkan keberadaan Taiwan."

China, yang mengklaim Taiwan yang otonom dan demokratik sebagai wilayahnya, terus meningkatkan kampanye terhadap pulau itu dalam usaha menegakkan kedaulatannya di sana.

Beijing meminta perusahaan-perusahaan asing supaya menyebut Taiwan sebagai bagian dari China dalam website mereka, dan berusaha mengecualikan Taiwan dalam forum-forum internasional.

Di samping itu China juga berusaha mengurangi jumlah negara yang mengakui Taiwan, sekarang hanya 18 negara. Burkina Faso dan Republik Dominika akan menggeser hubungan mereka ke Beijing tahun ini.

Tensi China-Taiwan

Hubungan Lintas Selat atau Cross-strait relation (label yang diberikan untuk mengidentifikasi relasi Taiwan-China) mencapai titik terburuknya sejak Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik Taiwan menolak kebijakan Satu China atau One-China Policy dari Tiongkok.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Beijing menggaungkan konsep One-China Policy sebagai upaya untuk menyerap kembali Taiwan sebagai bagian dari Tiongkok.

Bahkan, muncul kekhawatiran kalau China mungkin akan mencapai tujuan itu dengan memilih opsi militer.

Akibatnya, Taiwan menghentikan pembicaraan dan pertukaran dengan China. Di sisi lain, Tiongkok membalas dengan mengintensifkan kehadiran militernya di dekat laut Taiwan.

Tetapi, Tsa Ing-wen tetap dapat mencegah Negeri Tirai Bambu semakin mendekat, berkat bantuan Amerika Serikat yang mengkhawatirkan bahwa 'jatuhnya' Taiwan ke tangan Tiongkok menjadi gerbang bagi Beijing untuk semakin memperluas pengaruhnya ke Laut China Selatan dan kawasan Asia Pasifik.


Sumber : liputan 6

No comments

Powered by Blogger.