Adakalanya Sebuah Hubungan Harus Segera Disudahi Agar Tak Saling Menyakiti



      Teruntuk kamu yang teristimewa meski hubungan kita tak berbuah manis. Tidak butuh waktu lama untukku mengenalmu dan sembuh dari patah hatiku. Pertemuan kami dimulai ketika aku masih berada di bangku kuliah pada semester akhir di bulan September tahun lalu. Dia bukan seorang mahasiswa seperti aku, tapi seorang guru di sekolah tempat aku melakukan praktek mengajar. 



Tidak secepat itu dia mengenalku, kami bahkan berkenalan untuk pertama kali ketika aku sudah hampir 2 bulan berada di sekolah tersebut. Lucunya dia juga tak menyadari kalau aku juga mahasiswa praktek. Entah mengapa seorang guru lainnya mengatakan kalau dia tidak memiliki pasangan. Dan aku percaya dan ya dia tidak memiliki pasangan pada saat itu. Akhirnya kami pun saling berkenalan dan bertukar kontak.



Namun setelah perkenalan itu dia tidak juga menghubungi, sempat aku berpikir, “Ah, mungkin itu hanya lelucon saja.” Dua hari setelah itu, Kepala TU sekolah menikahkan anaknya, semua guru, pegawai dan termasuk anggota mahasiswa praktek pun turut diundang. Kami, mahasiswa praktek, pun berdiskusi untuk pergi ke acara tersebut.

Sialnya semua sudah kebagian pasangan, hanya aku yang tidak. Lalu saat aku di berdiri di parkiran sekolah Pak Guru tersebut melihatku bingung dan mengajakku untuk pergi bersama. Dalam perjalanan kesana, kami pun saling merasa canggung tanpa ada obrolan yang jelas. Lalu tiba-tiba dia berkata, ”Sepertinya kamu grogi ya, atau aku?” Kami hanya tertawa kecil sampai akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Seharian dia selalu saja di dekatku, aku merasa lucu sekali. Rasanya itu seperti kami pasangan yang menghadiri sebuah acara resmi.

Tidak sampai di situ, aku masih menunggunya untuk menghubungiku, namun juga tidak ada. Setelah seminggu berlalu, sekitar pukul 22.05 WIB ada panggilan dengan nomor baru. Aku menerima telepon dan ya, itu dia. 

Kami berbicara banyak hal seputar kehidupan masing-masing. Diakhir obrolan itu dia mengucapkan sebuah kalimat singkat yang membuatku begitu terkejut, “You know that today I like you, tomorrow I love you, and tomorrow again I think you’ll be my wife.” Untuk pertama kalinya ada seorang pria yang mengatakan hal setegas itu. 

Terus terang aja, aku begitu terpana dibuatnya, entah apa yang aku rasakan aku masih belum tahu. Namun aku masih tetap harus memastikan itu serius atau hanya bualan saja. Kami pun saling mengenal satu sama lain, mulai sering mengobrol lewat telepon, sarapan di pagi hari, dan berkumpul bersama siswa di waktu pulang sekolah menjadi kegiatan favorit kami. 

Waktu itu seorang siswa mengundang kami untuk makan bersama dengan anggota Pramuka untuk perayaan mereka memenangkan banyak piala. Tapi seorang siswa berkata kalau hari itu adalah resminya kami menjalin hubungan yang semakin dekat. Ya semua berjalan begitu sempurna dan sama sekali belum pernah terbayangkan ku sebelumnya.

Aku mulai berpikir apa kelanjutan hubungan kami nantinya setelah itu. Aku mulai memikirkan dari mulai awal kami berkenalan, pergi, dan menghabiskan waktu bersama. Dia mengatakan lagi kalau dia semakin menyukaiku sejak dia melihat bagaimana aku begitu dekat dengan siswa-siswa itu. 

Kami memutuskan untuk menyisakan satu hari penuh untuk waktu kami berdua, bertemu, berbicara, dan menghabiskan waktu berdua saja. Hari itu, kebetulan aku tidak ada jadwal kuliah dan dia tidak memiliki kegiatan di luar sekolah. Kami berhenti di sebuah rumah makan untuk makan siang dan bermaksud untuk berbicara banyak hal. Akhirnya aku mengetahui bahwa dia seorang duda dengan tiga anak. 

Dia bercerai dengan istrinya karena banyak yang tidak dapat didiskusikan. Ketika dia menceritakan tentang dia dengan anak-anaknya, aku begitu kagum sekali. Entah mengapa mudahnya aku menangis setiap kali dia bercerita tentang anak-anaknya. Dia menutup pembicaraan kami dengan menanyakan bagaimana aku kepadanya, dan dengan keyakinan aku menjawab, “Aku akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu dan mereka.” Kami menghabiskan begitu banyak waktu sampai akhirnya aku menyelesaikan praktekku. 

Setelah itu pun kami masih tetap menjalin hubungan, bahkan semakin dekat. Dia selalu ada saat aku butuhkan, tidak pernah mengeluh bagaimana pun aku, dia yang sangat mengerti aku, dia yang begitu memahamiku, dan bagiku dia adalah segala yang aku butuhkan. Setelah patah hati terakhirku, aku begitu sulit untuk kembali membuka hati untuk siapa saja yang mendekatiku, namun begitu mudahnya dia membuat aku kembali tersenyum dan menyentuh hatiku dengan waktu yang terbilang sangat cepat.

Tapi sayang, hubungan kami tidak berjalan dengan lancar, banyak pihak yang tidak menyetujui jika kami bersama. Bagi keluarganya aku masih sangat muda untuk dia dan anak-anak yang sudah remaja apalagi salah satu anaknya sedang berkuliah. Dia juga tidak mau aku dipojokkan banyak orang karena dia. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mengakhirinya dengan saling membiarkan kami memilih jalan masing-masing. Sampai pada akhirnya kami berada di titik sekarang dan aku masih belum menemukan penggantinya. Aku hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa tanpanya. 

Aku berterimakasih dan mengucap syukur telah dihadirkan seorang pria seperti dia yang begitu menyayangiku. Mungkin saja Tuhan hanya mengizinkan kami hanya untuk mengobati lukaku yang dulu, namun dia tetap saja akan menjadi seorang pria yang terbaik yang pernah kumiliki. Terima kasih untuk segala waktu, perjuangan, dan kasih sayangmu, Pak Guru.


Sumber : vemale

No comments

Powered by Blogger.