Berburu Bayam Jepang, si Kaya Klorofil

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tren gaya hidup sehat makin berkembang. Ini membuat permintaan beberapa jenis sayuran hijau meningkat. Terutama dengan label organik. Label ini selalu bisa menarik minat masyarakat yang menerapkan pola hidup sehat.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Salah satunya adalah bayam Jepang atau yang sering disebut horenso. Sayuran ini termasuk tanaman sayur dataran tinggi. Horenso bisa tumbuh baik pada daerah di atas 500 meter di atas permukaan laut. Di Indonesia, horenso sering ditanam secara hidroponik maupun konvensional dengan tanah.

Nah, yang membuat tanaman ini makin digemari adalah teksturnya yang lain dari bayam lainnya. "Horenso lebih empuk,  jadi masaknya tidak perlu terlalu lama," ungkap Dian Mega Putri, pemilik Pondok Hijau asal Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pondok Hijau milik Dian membudidayakan horenso di lahan seluas sekitar 120 meter persegi (m²). Dian mengatakan dalam sekali panen, lahan tersebut bisa menghasilkan 30 - 40 kilogram (kg) horenso. Hasil panen selalu habis tidak lama setelah waktu panen.

Konsumen Pondok Hijau datang dari sekitar Lembang, Bandung, Cisarua dan Bogor.  Dalam seminggu, Dian bisa menjual sekitar 200 kg sampai 300 kg bayam Jepang. Bila satu kilogram horenso dibanderol Rp 18.000, maka dalam sebulan ia sanggup mengantongi omzet sampai Rp 20 juta per bulan dari horenso. Selain itu ia juga menjajakan romaine lettuce dan sawi pagoda.

Selain Dian, petani sayur lain yang juga mendapat keuntungan dari budidaya horenso adalah Saraswaty Kusumawardani asal Lembang, Jawa Barat. Ia bersama suami membudidayakan horenso sejak 2015.

Beruntung, permintaan bayam Jepang ini makin meningkat tiap tahunnya. "Tahun ini kenaikannya bisa empat kali lipat dibanding 2015. Peminat juga makin banyak, mulai dari restoran, hotel, supermarket sampai untuk konsumsi pribadi," ujar Saras.

Ia membanderol horenso hasil panennya sekitar Rp 25.000 per kg. Dalam sebulan, ia bisa menjual 800 kg sampai 1 ton horenso. Alhasil, ia meraup omzet puluhan juta rupiah per bulannya.

Ia akui bila kebanyakan pembeli produknya adalah para pebisnis. Seperti ritel, restoran atau rumah makan. Maklum, ia memberlakukan pembelian minimal sebanyak  10 kilogram (kg).

Konsumen Saras datang dari masyarakat sekitar Lembang, Bandung, Bogor, Tangerang, Jakarta, Depok dan Bekasi. Ia menjelaskan horenso banyak disukai konsumen karena teksturnya yang lebih lembut dan padat. Selain itu, kandungan klorofilnya lebih banyak, sehingga dipercaya bermanfaat untuk mencegah penyakit kanker.         

Bayam jepang harus bersih dari gulma dan rumput liar

Horenso atau yang dikenal dengan sebutan bayam Jepang termasuk tanaman sayuran yang banyak tumbuh di dataran tinggi. Masa panen yang cukup singkat membuat banyak petani sayur tertarik membudidayakannya. Perawatannya juga cukup mudah.

Masa panen horenso juga cepat. Sekitar 35-50 hari, tanaman sudah bisa dipanen. "Tapi, kami mengaturnya agar bisa panen setiap hari," kata Dian Mega Putri pemilik Pondok Hijau asal Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Ia menjelaskan, proses awal budidaya horenso dimulai dari penyemaian benih. Sebelum disemai, benih sebaiknya direndam dulu semalam agar pertumbuhannya maksimal. Proses penyemaian biasanya menggunakan tray yang berisi campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1.

"Benih horenso disebar dengan jarak antar baris 3 centimeter (cm), lalu disiram. Biasanya setelah seminggu benih akan berkecambah dab siap dipindah ke lahan sekitar 1-2 minggu kemudian," jelas Dian.

Lahan penanaman, juga harus digemburkan dan dibersihkan dari rumput liar, batu dan benda lain yang mengganggu. Setelah itu, dibentuk bedengan-bedengan selebar 1-1,2 meter (m), dengan jarak 30 cm.

Selain itu, lingkungan sekitar tanaman horenso harus bersih dari gulma, rumput liar atau benda apapun. "Harus bersih agar pertumbuhannya lancar dan sehat," kata Dian.

Selain harus rajin menyiangi rumput liar dan gulma, Saraswaty Kusumawardani, pemilik Sayuran Segar Lembang menuturkan, jika ada bagian tanaman Horenso yang mati juga harus cepat disiangi.

Pemupukan dan penyiraman tanaman harus rutin. "Penyiraman rutin dua hari sekali di musim kemarau dan dua hari sekali saat musim hujan. Pemupukan untuk awal-awal diberikan sebulan dua kali," terang Saras.

Ia bilang horenso sama dengan tanaman sayur hijau lainnya yang butuh banyak nutrisi. Maka dari itu, saat awal, pupuk diberikan lebih rutin untuk merangsang pertumbuhan daun. Jika tanaman sudah lebih dari sebulan, pemupukan cukup sebulan sekali saja.

Di samping itu, penyemprotan obat hama alami atau pestisida juga harus rutin dilakukan. Sebab, horenso rawan terserang ulat pemakan daun dan kutu daun..

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

"Penyemprotan pestisida bisa sebulan dua kali. Obat hama alami juga bisa dibuat sendiri, yaitu cairan berbahan sereh, jahe dan lada. Kalau obat hama alami penggunaannya harus lebih banyak agar lebih ampuh," papar Saras.

Tanaman dengan nama latin Spinacia Olecarea ini kaya akan kandungan vitamin dan mineral, seperti vitamin K, A, C, B1, B2, B6, asam folat, dan vitamin E. Sedangkan kandungan mineralnya sepertinya mangan, magnesium, besi, kalsium, kalium, tembaga, fosfor, dan seng. Beberapa manfaatnya, anti penuaan dini, mencegah kanker, menjaga kesehatan jantung dan membantu memperkuat tulang dan lain sebagainya.

Sumber:kontan

No comments

Powered by Blogger.