Calon TKI Keluhkan Layanan Rekam Medis di RSUD dr Soewondo Kendal

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Banyak warga Kendal merantau menjadi TKI di luar negeri atau kini istilahnya pekerja migran Indonesia (PMI)
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Penghasilan dari menjadi pekerja migran di luar negeri, dirasa lebih besar dan bisa diandalkan mendongkrak ekonomi keluarga.

Satu di antaranya adalah Nur Hikmah, gadis belia berusia menjelang 20 tahun warga Kecamatan Weleri. Diakui, ia tertarik menjadi pekerja migran setelah mendengar cerita dari lingkaran pergaulannya, yang sukses menopang perekonomian keluarga dari mengais rezeki di luar negeri.

"‎Banyak tetangga dan teman, yang telah berangkat jadi TKI ke luar negeri. Perekonomian keluarga mereka jadi lebih mapan," ujar gadis berkerudung itu, kepada Tribun Jateng.‎

Akan tetapi, keinginan Nur untuk segera mengais rezeki di luar negeri untuk pertama kalinya terancam tersendat. Hasil rekam medis dari RSUD dr. H. Soewondo Kendal, menyebutkan bahwa ia unfit, sehingga belum layak diberangkatkan ke luar negeri.

"Katanya ada bronkitis, itu yang menyebabkan unfit," tuturnya.‎

Padahal, tak sampai seminggu sebelumnya, ia telah melakukan rekam medis di sebuah sarana kesehatan (sarkes) swasta di Kendal. Hasilnya, ia dinyatakan fit dan cukup layak untuk bekerja di luar negeri.

Sarkes swasta itu, tak bisa disebut sembarangan. Sebab, telah melayani rekam medis untuk calon pekerja migran, selama bertahun-tahun belakangan. Selain itu, merupakan sarkes resmi yang telah ditunjuk oleh BNP2TKI.

"Saya jadi bingung dan gamang, dengan hasil tes ini," ujarnya.

Yang lebih membuatnya kebingungan adalah persoalan biaya. Disampaikan, untuk melakukan rekam medis di RSUD dr. H Soewondo sebesar Rp770.000 kemarin saja, ia harus mencari pinjaman ke sanak-saudara.

"Katanya, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke poli penyakit dalam, dikasih semacam surat rujukan‎," ucapnya.

Dituturkan, pemeriksaan lanjutan ke poli penyakit dalam ‎tentu harus mengeluarkan biaya lagi. Itu pun belum termasuk obat-obatan yang nantinya harus ditebus.

"Saya sudah gak punya uang lagi, gak tahu mau cari ke mana lagi," ujarnya, menerawang.

Tak sampai di situ, usai pengobatan, tahap selanjutnya adalah ‎rekam medis ulang di rumah sakit yang sama. Tentu, dengan besaran biaya yang sama pula.

"Kalau memang dinyatakan sakit, kenapa gak langsung dikasih resep saja untuk menebus obat. Kenapa prosedurnya jadi berbelit-belit begini, ‎saya bingung mau cari uang ke mana lagi. Sampai sekarang belum periksa ke poli, tak ada uang," sambung Nur.

‎Tekad Nur untuk bisa segera bekerja di negeri seberang cukup wajar. Dari informasi yang diterimanya, seorang asisten rumah tangga (ART) di Hong Kong mendapat gaji 4.400 ‎Dolar Hong Kong (HKD) per bulan. Jika 1 HKD setara dengan Rp1.900-an, maka tiap bulan seorang ART asal Indonesia di Hong Kong mendapat gaji sekitar Rp 8.360.00.

Gaji sebesar itu, sambungnya, akan sangat sulit didapatkannya jika memilih bekerja di dalam negeri, apalagi bila di kampung halaman sendiri. ‎Terlebih, anak keempat dari tujuh bersaudara itu hanya berbekal ijazah setingkat sekolah menengah atas (SMA).

"Saya bertekad bekerja di luar negeri, demi memperbaiki perekonomian keluarga. Adik-adik masih sekolah semua, butuh biaya," ujarnya. Sementara, mengandalkan pendapatan dari orangtua yang hanya pekerja serabutan dan buruh tani, tentu tak mencukupi.‎

Hal senada disampaikan ‎oleh calon pekerja migran lainnya, Lusianah. Ibu dua anak ini, juga sebelumnya belum pernah merantau, ke luar negeri apalagi. Keinginan memperbaiki perekonomian keluargalah yang membulatkan tekadnya.

"Pengen topang ekonomi keluarga, sebelum ini saya hanya ibu rumah tangga, tak kerja, di rumah saja. Sementara, suami kerja di pabrik di Semarang," ujarnya.

‎Pengalaman serupa dengan Nur, ia alami pula. Hasil rekam medis di RSUD dr. H Soewondo Kendal menyebutkan ia unfit. Juga karena terdeteksi menderita bronkitis.

‎"Sebelumnya periksa ke klinik swasta yang biasa menangani rekam medis calon TKI hasilnya fit, tak ada masalah," kata dia.

Setelah dinyatakan unfit, ia juga diminta periksa ke poli penyakit dalam. "Harus periksa lagi, biaya lagi untuk periksa dan nebus obat. Nanti rekam medis ulang biaya lagi. Kesannya kok kami ini jadi dipersulit, bukan malah dimudahkan," keluhnya.

Menurut dia, yang menjadi persoalan utama adalah banyaknya biaya yang harus ia keluarkan untuk serangkaian proses itu di rumah sakit milik pemerintah tersebut. "Kalau di klinik, bila dinyatakan unfit langsung dikasih resep untuk nebus obat, jadi prosesnya gak bertele-tele," sambungnya.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore
Selain persoalan biaya, ujar dia, rekam medis di RSUD dr. H Soewondo‎ juga memakan waktu lama. Sebab, ia harus mengantri panjang, bercampur dengan pasien umum. Tidak seperti di klinik swasta, ada bagian tersendiri yang khusus menangani rekam medis untuk calon pekerja migran. Sehingga, prosesnya bisa lebih cepat.

"Di swasta hari ini rekam medis, besok hasilnya sudah keluar. Sementara, kalau di RSUD sudah antri panjang dan lama, paling cepat hasilnya keluar dalam waktu tiga hari," keluh dia.

Sumber:tribunnews

No comments

Powered by Blogger.