DPR: Usut Tuntas Perdagangan WNI ke China

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Rofi Munawar meminta pemerintah serius dalam mengungkap praktik penjualan wanita Indonesia ke China. Dirinya secara khusus meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia mendorong pemerintah China mengusut praktek buruk yang melibatkan warga Indonesia.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

“Kasus ini tentu sangat memprihatinkan bagi kita semua, belasan wanita muda yang hendak mencari kerja justru menjadi korban perdagangan manusia. Kementerian Luar Negeri harus menyampaikan nota diplomatik dan aparat penegak hukum harus mengungkap kasus ini hingga ke akar-akarnya,” disampaikan oleh Rofi Munawar dalam keterangan pers yang diterima Sindonews, Kamis (27/9/2018) di Jakarta.

Rofi menejelaskan, kasus ini sungguh sangat memprihatinkan karena korban banyak yang berusia di bawah 30 tahun dan diperlakukan dengan tidak layak. Terlebih menurut informasi para korban sewaktu berada dalam penyekapan di China diberi makan lewat jendela, mendapatkan penganiayaan dan perlakuan yang tidak manusiawi.

Pihak Kementerian Luar Negeri perlu memberikan pendampingan hukum serta melakukan koordinasi dengan Kedutaan Besar Indonesia di China untuk memulangkan para korban. Pemerintah juga harus memprotes dan mendorong China untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait jaringan perdagangan manusia yang dilakukan di negaranya, serta membawa para pelaku ke meja pengadilan.

“Kasus ini sudah sangat jelas merupakan praktik perdagangan manusia (human trafficking), maka sudah sepantasnya mendapatkan hukuman yang jelas” tegas Rofi.

Legislator asal Jawa Timur ini menambahkan, berdasarkan hukum nasional para pelaku WNI dapat dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Nomor 21/2007 serta UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Adapun secara hukum internasional, human trafficking merupakan kejahatan serius yang mendapatkan perhatian dari komunitas internasional.

Adapun instrumen dalam menjerat WNA dalam upaya mendefinisikan, mencegah, dan mengadili perdagangan manusia adalah United Nations Convention Against Transnational Organized Crime dan dua aturan terkaitnya, yakni The United Nations Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children dan the United Nations Protocol Against the Smuggling of Migrants by Land, Sea, and Air

“Sangat mungkin pratik jahat ini merupakan fenomena gunung es, apa yang terjadi jauh lebih banyak dibandingkan apa yang berhasil terungkap. Butuh kerja sama seluruh elemen untuk mengungkap kasus ini,” jelas Rofi.

Sebagaimana diberitakan, pihak kepolisian berhasil mengungkap praktik penjualan wanita Indonesia ke China. Saat ini, telah ada empat orang tersangka, termasuk di antaranya satu orang warga negara asing asal China. Dalam kasus ini, setidaknya terdapat dua belas korban perempuan dijual untuk kawin kontrak di China, di mana dua di antaranya masih berada di bawah umur.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Berdasarkan hasil investigasi, korban kebanyakan berasal dari daerah Purwakarta, Bandung, Tangerang, Subang dan Tegal. Beberapa dari korban dijanjikan untuk dapat bekerja sebagai penjual di China dengan gaji besar. Pada kenyataannya, korban justru dinikahkan dengan pria setempat dan diperjualbelikan oleh calo dengan harga Rp400 juta per orang.

Sumber:sindonews

No comments

Powered by Blogger.