Dulu Jualan Keliling, Pria Ini Pasok Bawang Goreng hingga ke Hotel

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Fokus menjadi pedoman utama bagi Yossa Setiadi untuk mengembangkan bisnis bawang goreng Soy. Hasilnya, kini dia menjadi juragan bawang goreng yang menyuplai ke 28 hotel dan belasan maskapai.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Yossa memulai mengembangkan bisnis bawang gorengnya pada 2007 dengan modal Rp 4 juta. Saat itu dia masih kuliah S2 di Universitas Bina Nusantara setelah lulus dari Universitas Pelita Harapan.

"Saat itu saya belum dapat pekerjaan. Tapi saat itu saya sudah punya minat di bidang penjualan," tuturnya dilansir dari detikFinance, seperti ditulis Senin (3/9/2018).

Dengan modal Rp 4 juta, Yossa memberanikan diri untuk memulai bisnis bawang goreng. Dari modal itu dia hanya menggunakan sekitar Rp 1 juta untuk membeli kompor bekas dan perlengkapan lainnya.

Yossa bermula menawarkan produknya ke orang-orang di sekitarnya, seperti keluarga dan teman-temannya. Dia juga tak segan untuk membawa bawang goreng yang ditempatkan di stoples ke kampusnya.

"Saya enggak pernah malu bawa stoples isi bawang ke kampus. Saya bagi-bagiin di kelas, bahkan yang makan di kantin saya tawarin," kenangnya.

Sedikit demi sedikit Bawang Goreng Soy mulai tenar. Yossa mulai memasukkan produknya ke beberapa supermarket ternama seperti Kemchick dan Jakarta Pusat Buah Segar.

Dia juga mengembangkan bisnisnya melalui reseller. Ada sekitar 320 reseller yang bekerja sama dengannya.

Tak sampai di situ saja, Yossa juga berhasil untuk masuk menjadi pemasok bawang goreng di hotel-hotel ternama, hingga katering belasan maskapai.

Namun Yossa kini mulai sadar, untuk mengembangkan bisnis lebih jauh lagi harus fokus pada cara yang paling menguntungkan. Dia memilih untuk mengembangkan bisnisnya secara sistem business to business (b to b), yakni fokus menjadi supplier.


"Dulu kalau titip di supermarket banyak retur, kadang segel yang terbuka, menghabiskan biaya. Kalau reseller juga ribet. Kalau ini kan enak beli putus," tambahnya.

Selain itu, dia juga mulai mengembangkan bisnisnya secara makloon. Saat ini ada tiga pihak yang tertarik untuk membeli bawang gorengnya lalu dijual kembali dengan merek mereka.

Ketiga pihak itu yakni, Indomaret, Superindo dan salah satu artis yang enggan dia sebutkan namanya. Artis tersebut sudah teken kontrak memesan 3.000 stoples bawang goreng per bulannya.

"Kalau Indomaret lagi seleksi tapi sudah meeting untuk pilih grade, kontraknya bisa 10.000 stoples. Lalu Superindo bisa 10.000 stoples," terangnya.

Saat ini Yossa mampu memproduksi hingga 1,8 ton bawang goreng yang berasal dari 6 ton bawang merah per bulan. Bawang merah itu dia ambil dari wilayah Brebes dan Sumenep.

Bawang Goreng Soy sendiri memiliki keunggulan bahwa 100% kandungannya merupakan bawang asli. Lalu dia menjamin tingkat kekeringan bawang gorengnya.

"Kalau produk lain harga Rp 80 ribu mungkin bisa 200 porsi. Kalau misalnya kami Rp 90 ribu bisa 300 porsi karena kering, jadi kalau tahu sebenarnya lebih hemat," tambahnya.

Yossa mengaku dari 1,8 ton bawang goreng yang dia jual setiap bulannya, 90% dijual melalui b to b, yakni melalui hotel dan maskapai dan sisanya ritel. Ke depan dia ingin secara penuh menjual produknya secara b to b.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Meski tak menyebutkan secara terbuka, namun Yossa mengaku omzetnya setiap bulan mencapai ratusan juta rupiah. Tidak heran, dengan harga jual antara Rp 60.000-98.000 angka tersebut masuk akal.

Untuk profit dia enggan menyebutkan. Namun dia mengaku profit margin yang dikantongi bisa mencapai 10-20%. 

Sumber:detikfinance

No comments

Powered by Blogger.