Kisah TKI 15 Tahun Tak Digaji

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Asa lima tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk mendapatkan gaji yang tidak dibayarkan oleh para majikannya berujung kabar bahagia. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah berhasil memaksa para majikan membayarkan total 539.800 riyal (sekitar Rp2 miliar) kepada lima TKI yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga di Arab Saudi.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Tim Pelayanan Terpadu KJRI mengungkap kasus pekerja rumah tangga asal Banyuwangi berinisial SSA yang ternyata selama 15 tahun tidak menerima gaji dari majikannya. Nilai gaji SSA yang belum dibayarkan total 130.000 riyal (sekitar Rp487 juta).

"Awalnya ART ini mengaku gajinya sudah dibayar. Tapi kami sudah dibekali trik bagaimana cara menanyakan seseorang, kami bisa melihat bahwa ada hal yang disembunyikan," terang Muchammad Yusuf, Konsul Tenaga Kerja KJRI Jeddah.

Ia menjelaskan tim kemudian terus berupaya mengorek fakta yang disembunyikan SSA sehingga perempuan kelahiran 1971 itu akhirnya mengungkapkan bahwa dia belum pernah menerima bayaran dan belum pernah pulang ke Tanah Air selama 15 tahun bekerja.

Petugas kemudian mengamankan SSA di kamar petugas KJRI dan melarang dia kembali ke rumah majikan serta menarik paspornya. Majikan yang tidak terima pembantunya ditahan petugas KJRI lantas melaporkan Tim Pelayanan Terpadu ke pihak berwenang setempat dengan tuduhan telah menyekap pembantunya.

Aparat Kepolisian Abha disusul Kepala Intelijen Abha Kolonel Iwadh Al Asiri kemudian mendatangi lokasi pelayanan, tempat tim pelayanan menjelaskan bahwa rombongan KJRI merupakan para diplomat dan staf kantor diplomatik yang tengah bertugas memberikan pelayanan keimigrasian, kekonsuleran dan ketenagakerjaan kepada warganya yang berdomisili di kota tersebut.

Kepada majikan SSA, petugas KJRI menjelaskan bahwa mereka datang dengan izin Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, dan mendapatkan perlindungan dari pemerintah setempat.

Tim akhirnya melapor balik kepada Kepala Intelijen bahwa sang pelapor (majikan SSA) tidak membayar gaji pembantunya selama 15 tahun bekerja dan tidak pernah memulangkannya ke Indonesia. Kepala Intelijen justru berbalik memarahi sang majikan dan menekan dia supaya membayar upah pekerjanya.

Adapun alasan sang majikan tidak membayar gaji disebabkan SAS tidak pernah meminta upahnya.

"Ini jawaban klasik dari pihak majikan selama saya menangani kasus gaji tidak dibayar," ujar Yusuf.

Meski negosiasi sempat berjalan alot, majikan akhirnya menyerahkan gaji dengan nilai total 130.000 riyal yang menjadi hak SSA disaksikan oleh Kepala Intelijen Abha dan Tim dari KJRI Jeddah.

Kasus serupa juga dialami pekerja berinisial SSWD yang bekerja di kota Abha. Perempuan asal Grobogan, Jawa Tengah, itu mengaku tidak digaji selama tujuh tahun. Menurut perhitungan petugas KJRI, nilai gajinya yang belum dibayar 79.200 riyal, setara Rp297 juta.

Kasus itu bisa diselesaikan dengan cepat karena majikan SSWD kooperatif, langsung membayar upah perempuan kelahiran 1977 tersebut pada saat pelaksanaan Pelayanan Terpadu.

"Dia mungkin berkaca kepada kasus ketegangan Tim Yandu dengan majikan SSA," ujar Ainur Rifqie, Pelaksana Fungsi Konsuler-3.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Ia menyesalkan sikap pekerja Indonesia yang kadang, karena telah tinggal lama dengan majikan dan merasa betah dan nyaman, tidak menuntut haknya untuk mendapat gaji dan lebih memihak kepada majikan ketimbang petugas KJRI.

Keberhasilan KJRI Jeddah menyelamatkan gaji SSA dan SSWD tidak lepas dari peran Syeikh Sulthon Abu Faisol, Kepala Badan Amar Ma'ruf Nahi Munkar Abha yang membantu negosiasi.

Sumber:velidnews

No comments

Powered by Blogger.