Kisah TKI Jadi Sarjana di Hong Kong

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

"Saya banyak bermimpi, karena saya banyak enggak punyanya." Kalimat itulah yang pertama kali diucapkan Heni Sri Sundani, saat menceritakan perjuangannya, dalam sebuah sesi di Sunfest atau Sustainability Festival 2018 di GRHA Unilever, Bumi Serpong Damai, Tanggerang Selatan, Rabu 19 September 2018.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Lahir dan tumbuh dari keluarga petani miskin di Ciamis, Jawa Barat, membuat perempuan kelahiran 2 Mei 1987 ini tidak mempunyai banyak pilihan. Saat ia bermimpi ingin menjadi seorang guru, anak-anak seusianya kala itu justru dinikahkan oleh orangtuanya di usia yang masih belasan tahun.

Namun, bukan berarti semua berjalan dengan mulus. Saat berencana untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMP, banyak tetangganya mencibirnya, karena dianggap tidak mampu. Namun, tekadnya untuk menjadi guru sudah bulat. Bahkan, setelah menamatkan SMK, ia rela menjadi buruh migran untuk mewujudkan cita-citanya itu.

"Saat itu, saya berangkat dengan tekad, berangkat jadi TKI dan pulang jadi sarjana. Saya berangkat tanpa sepeser uang apapun. Setiap hari harus ganti bahasa, bahasa Inggris untuk bicara dengan majikan, bahasa kanton untuk menawar di pasar, dan bahasa Inggris untuk di kampus," kata dia.

Setelah selama kurang lebih enam tahun menjadi TKI, sekaligus menjadi mahasiswa di Entrepreneurial Management di Saint Mary’s University Hong Kong, ia akhirnya lulus dengan predikat cum laude. Dengan perasaan bahagia, ia langsung menelepon neneknya di kampung.

"Tapi orang yang saya banggakan enggak bilang selamat atau apa, dia justru tanya, 'neng sarjana itu apa?' Akhirnya, sambil menahan airmata sambil nahan tangis, aku bilang kalau jadi sarjana bisa pulang bisa ngajar anak-anak di kampung," kata Heni.

Sambil mencontohkan ucapan neneknya, ia mengatakan, "terus kapan pulang, nanti emak keburu enggak ada, keburu enggak bisa lihat anak yang ada di sini kamu ajar."

Meski telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan master, namun akhirnya ia lebih memilih untuk pulang ke Indonesia ,untuk mengajar anak-anak di kampungnya. Dengan bekal ratusan buku, ia membuka perpustakaan di rumahnya hingga akhirnya ia mendirikan Komunitas Gerakan Anak Petani Cerdas, di Ciamis, Jawa Barat, pada 2011.
https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Usai menikah, ia melanjutkan aktivitas itu di Bogor pada 2012. Hingga saat ini, sudah ada 4.000 murid yang menjadi Komunitas Gerakan Anak Petani Cerdas, dan tersebar luas dari Jawa hingga Lombok.

"Karena menjadi baik saja belum cukup, untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Kita harus menjadi orang baik yang mau melakukan kebaikan, untuk membuat Indonesia lebih baik," kata dia.

Sumber:viva

No comments

Powered by Blogger.