Kisah Warga Suriah Bersiap Hadapi Serangan Rezim di Idlib

https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Di barat laut Suriah, Abu Khaled, bersama puluhan warga lainnya mendirikan kamp di sebuah ladang sambil terus berharap tentara Turki akan melindunginya dari pemboman yang dilakukan oleh rezim Bashar Al-Assad.
https://line.me/R/ti/p/%40tokoindoroyal

Di benteng pertahanan terakhir pemberontak di Provinsi Idlib ini, warga sipil berebut melindungi diri dari kemungkinan serangan pemerintah yang didukung Rusia.

Ketakutan semakin meningkat setelah mengetahui serangan apa pun di wilayah berpopulasi tiga juta orang ini dapat memicu salah satu bencana kemanusiaan terburuk selama perang tujuh tahun di Suriah.

Dengan mengenakan jubah putih dan syal merah putih kotak-kotak di kepalanya, Abu Khaled duduk di samping tendanya yang didirikan di sebuah ladang di wilayah tenggara Idlib.

Di sekelilingnya terdapat anak-anak bermain di antara tiang-tiang yang dibalut kain bermotif bunga dan berteduh di atas tanah merah.

Satu anak sedang bermain di ayunan seadanya, sementara seorang wanita menyiapkan makanan dalam panci besar.

"Ada pengeboman di desa kami, jadi kami datang ke sini, di dekat pos Turki," kata Abu Khaled.

"Itu untuk melindungi kami," kata dia sambil menujuk ke arah monitor yang dikerahkan oleh pemberontak pendukung Turki beberapa ratus meter dari lokasi.

Tahun lalu, Ankara beserta sekutu rezim Assad, Moskow dan Teheran, menyatakan Idlib sebagai "zona de-eskalasi" di bawah kesepakatan yang mengatur pendirian pos pengawasan Turki di provinsi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa serangan rezim ke Idlib bisa menggusur hingga 800.000 orang.

PBB juga mendesak para pemeran kunci untuk mengintervensi demi menghindari "pertumpahan darah."

Rencana Cadangan

Presiden Turki, Rusia, dan Iran bertemu di Teheran dalam upaya menentukan nasib Idlib, pada Jumat (7/9).

Pasukan rezim yang didukung Rusia berkumpul di sekitar provinsi itu dalam beberapa pekan terakhir, setelah mengusir pemberontak dan jihadis dari wilayah lain.

Moskow menyatakan bertekad memerangi Hayat Tahrir Al-Sham, sebuah kelompok yang dipimpin oleh mantan afiliasi Al-Qaidah Suriah yang menguasai lebih dari separuh provinsi.

Pemberontak yang didukung Turki menguasai sebagian besar sisanya, sementara rezim mengontrol pergerakan di wilayah tenggara.

PBB menyatakan sekitar setengah penduduk Idlib dan daerah sekitarnya kehilangan tempat tinggal, serta banyak yang bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Waktu dan wilayah serangan masih belum jelas, tetapi petugas kesehatan dan pekerja sedang bersiap untuk menghadapi situasi yang terburuk.

Para pekerja beraktivitas seperti biasa di rumah sakit di ibu kota Idlib pada minggu ini.

Dua dokter memakai sarung tangan abu-abu saat mengoperasi pasien, sementara seorang staf menguji penglihatan seorang gadis di ruangan lain.

Namun, rumah sakit mereka sama seperti yang lainnya di provinsi itu. Mereka menyusun rencana cadangan seandainya saja daerah sekitarnya diserang.

"Setiap rumah sakit harus memiliki rencana darurat khusus," kata Wakil Kepala Bidang Kesehatan, Mustafa al-Eido di provinsi Idlib.

Tanpa cara untuk mempertahankan rumah sakit dari serangan udara Rusia, mereka harus mengurangi staf atau memindahkan dokter dan perawat ke lokasi lain.

"Anda tidak dapat membentengi diri dari peralatan militer Rusia," kata dia.

Menurut PBB, dalam paruh pertama tahun ini terdapat 38 serangan menyerang infrastruktur medis di provinsi Idlib, sebagian besar diatribusikan pada pemerintah atau sekutunya, Rusia.

Menanggapi Serangan Udara
Eido mengatakan komite operasi gabungan telah dibentuk untuk menanggapi serangan udara di seluruh provinsi. Operasi gabungan mengoordinasikan 50 ambulans milik badan kesehatan dan sejumlah kelompok penyelamat seperti White Helmets.

Rumah sakit mengalami kekurangan obat dan sedang mencoba untuk menyiapkan pasokan untuk menangani serangan kimia.

Rezim Assad telah berulang kali dituduh menggunakan senjata kimia selama konflik, termasuk dalam serangan yang menewaskan lebih dari 80 orang di kota Khan Sheikhun, Suriah pada tahun lalu.

Eido mengatakan, sejak kejadian itu, staf dari 16 rumah sakit di Idlib dan daerah sekitarnya telah berlatih dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Turki dalam hal cara terbaik membantu para korban dari serangan racun.

Para aktivis juga siap membantu. Direktur Rumah Sakit, Yussef Nur, sedang memeriksa cadangan kasur, selimut, dan karpet plastik di sebuah kamp pengungsi di luar provinsi Idlib.

"Kami sudah merencanakan penanganan gelombang pengungsi yang mendadak," kata dia.

https://line.me/R/ti/p/%40holidaystore

Di luar, deretan tenda putih berdiri di bawah terik matahari musim panas. Satu orang berbaring di kasur tipis di tempat yang teduh.

"Ada sekitar 700 orang di kamp," ujarnya di Mizanaz, provinsi tetangga Aleppo.

Namun, "kita bisa menampung 1.800 hingga 2.000 lebih," ujarnya.

Sumber:cnnindonesia

No comments

Powered by Blogger.